Gibran Rakabuming Raka: Antara Harapan dan Tantangan

Gibran Rakabuming Raka adalah sosok yang telah mencuri perhatian publik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Muhammad Rahmad

12/23/20232 min read

Gibran Rakabuming Raka adalah sosok yang telah mencuri perhatian publik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Sebagai anak sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran memiliki latar belakang yang unik dan menarik. Dalam esai ini, kita akan menggali lebih dalam tentang siapa Gibran Rakabuming Raka, apa yang membuatnya menjadi fenomena, serta tantangan dan harapan yang mungkin dihadapinya.

Gibran Rakabuming Raka lahir pada tanggal 1 Oktober 1987 di Solo, Jawa Tengah. Ia adalah seorang calon wakil presiden mendamping Prabowo Subianto dalam kontestasi Pilpres 2024.

Gibran adalah fenomena menarik dalam politik Indonesia. Gibran yang sebelum ini dipersepsikan publik memiliki grade dibawah Cawapres Mahfud MD dan Cak Imin, memberikan kejutan. Ia tampil cemerlang dalam debat Cawapres yang digelar KPU, Jumat (22/12/2023). Dalam debat semalam, Gibran terlihat berada dilevel sejajar dengan dua cawapres senior.

Sebagai anak muda milenial yang mengikuti debat Cawapres, Gibran berhasil membuktikan bahwa dirinya adalah pemimpin yang kompeten dan tidak terpengaruh oleh bayang bayang orang tuanya, Presiden Jokowi. Namun soal siapakah yang juara dalam debat Cawapres tersebut, tentu publik Indonesia memiliki penilaian beragam.

Saya memahami bahwa publik memiliki analisis kritis tentang penampilan Gibran Rakabuming Raka dalam debat cawapres, serta perbandingannya dengan kandidat lain, seperti Prof. Mahfud MD dan Cak Imin. Saya berpandangan, ada 5 (lima) faktor penting yang dapat kita gunakan untuk mengevaluasi penampilan seorang calon cawapres dalam debat semalam.

Pertama: Seorang calon wapres harus memiliki pengetahuan yang kuat tentang isu-isu penting yang sedang dihadapi negara dan mampu mengartikulasikan pemahamannya dengan baik. Kemampuan untuk merumuskan solusi yang konkret dan relevan untuk masalah-masalah ini menjadi sangat penting.

Kedua: Seorang calon wapres harus memiliki kemampuan berbicara dan berkomunikasi yang baik. Ini mencakup kemampuan berbicara dengan jelas, merangkai argumen yang koheren, serta kemampuan mendengarkan dengan baik dan merespons pertanyaan dan komentar secara tepat dari lawan debat.

Ketiga: Etika dalam debat sangat penting. Seorang calon harus dapat menjaga sikap yang santun, menghormati lawan debat, dan menghindari retorika yang merendahkan atau menyerang pribadi. Sikap yang positif dan menghormati pemilih adalah hal yang penting.

Keempat: Kemampuan untuk berpikir kritis dan merespons dengan bijak terhadap argumen lawan debat adalah aspek penting dalam sebuah debat. Calon harus mampu mengidentifikasi ketidaksesuaian dalam argumen lawan dan memberikan tanggapan yang tepat.

Kelima: Seorang calon wapres juga harus mampu menarik pemilih melalui argumen dan visinya. Kemampuan untuk berbicara tentang masa depan yang lebih baik dan meyakinkan pemilih untuk mendukungnya adalah faktor penting dalam sebuah debat.

Dalam konteks Gibran Rakabuming Raka, sebagai seorang anak muda milenial, ia memiliki keuntungan dalam memahami isu-isu yang relevan bagi generasi muda dan dapat berkomunikasi dengan cara yang lebih relevan bagi kelompok ini. Namun, evaluasi terhadap penampilan seorang calon dalam sebuah debat tentu didasarkan pada kualitas argumentasi, pengetahuan, dan kemampuan komunikasi yang sebenarnya, bukan hanya usia atau latar belakang.

*) Penulisan adalah Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia / Dosen Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti