Pariwisata di Tengah Badai Pemangkasan Anggaran

Langkah berani Presiden Prabowo yang rencananya akan memangkas anggaran negara hingga Rp 306,69 triliun menimbulkan gelombang kekhawatiran di berbagai sektor.

Muhammad Rahmad

2/20/20253 min read

Langkah berani Presiden Prabowo yang rencananya akan memangkas anggaran negara hingga Rp 306,69 triliun menimbulkan gelombang kekhawatiran di berbagai sektor. Di balik tujuan mulia mengefisienkan belanja negara, tersimpan potensi guncangan yang tidak bisa dipandang sebelah mata, terutama bagi sektor pariwisata yang selama ini menjadi salah satu penopang devisa negara.

Mengacu pada kajian terbaru Blanchard (2023), pemangkasan anggaran dengan besaran tersebut akan menghadirkan efek domino dengan multiplier 0,7 hingga 1,2 kali. Dalam bahasa awam, setiap rupiah yang dipangkas dari APBN berpotensi mengurangi aktivitas ekonomi hingga Rp 1,2. Total kontraksi ekonomi diperkirakan mencapai Rp 214,68 triliun hingga Rp 368,03 triliun, setara dengan penurunan pertumbuhan ekonomi 1,10-1,89 persen dari PDB.

Bagi sektor pariwisata, angka-angka ini bukan sekadar statistik. Esquivias dan tim peneliti (2021) telah membuktikan betapa rentannya sektor ini terhadap guncangan ekonomi. Pengalaman pahit tahun 2020 menjadi pengingat nyata - penurunan PDB sebesar 2,07 persen telah melumpuhkan 68,2 persen pariwisata domestik dan menghempaskan kunjungan wisatawan mancanegara hingga 74,8 persen.

Pelajaran dari Tiongkok, sebagaimana diungkap Wang dkk (2022), memberikan perspektif yang lebih mencekam. Negeri Tirai Bambu mengalami kontraksi pariwisata 61,1 persen ketika PDB-nya anjlok 6,8 persen pada kuartal pertama 2020. Ini membuktikan bahwa sektor pariwisata memiliki sensitivitas berlipat terhadap guncangan ekonomi.

Malahayati dkk (2021) mengingatkan bahwa pariwisata Indonesia bukanlah sektor yang berdiri sendiri. Ketika sektor akomodasi dan kuliner terpukul dengan kontraksi 10,22 persen, efek domino-nya merambat ke transportasi, perdagangan, hingga jasa pendukung lainnya. Pemangkasan anggaran yang lebih besar kali ini bisa jadi akan menghadirkan dampak yang lebih dalam.

Studi Adedoyin dkk (2023) memberikan perspektif yang lebih spesifik. Setiap penurunan belanja pemerintah 1 persen berpotensi mengurangi kunjungan wisatawan mancanegara 0,3 hingga 0,5 persen. Dengan pemangkasan anggaran mencapai 8-10 persen dari APBN, bayangkan berapa banyak wisatawan yang akan berpikir ulang untuk mengunjungi Indonesia.

Yunani menawarkan cermin yang perlu kita renungkan. Kalantzi dkk (2023) mencatat bahwa negeri yang mengandalkan pariwisata hingga 20,8 persen dari PDB-nya ini harus menelan pil pahit ketika memangkas belanja pemerintah 5,5 persen selama krisis 2010-2018. Kontribusi pariwisata terhadap PDB merosot menjadi 15,1 persen.

Namun, tidak semua negara terpuruk dalam menghadapi keterbatasan anggaran. Brasil, menurut Todesco dan Silva (2021), berhasil mempertahankan kinerja pariwisatanya melalui perencanaan sektoral yang terintegrasi. Tingkat eksekusi anggaran mencapai 87,3 persen dengan dampak ekonomi yang terukur. Ukraina, di tengah berbagai tantangan, bahkan mampu meningkatkan investasi swasta di sektor pariwisata hingga 23,4 persen melalui sistem insentif fiskal yang inovatif (Trusova dkk, 2023).

Afrika Selatan menunjukkan bahwa keterbatasan anggaran bukan akhir dari segalanya. Mashapa dan Dube (2023) mencatat keberhasilan taman nasional Cape Barat mempertahankan 72 persen kunjungan wisatawan domestik melalui penguatan peran komunitas lokal. Model serupa diterapkan Jepang, di mana keterlibatan aktif pemangku kepentingan lokal mampu mempertahankan 85 persen program konservasi terumbu karang meski anggaran dipangkas 30 persen (Abe dkk, 2022).

Malaysia memberikan pelajaran berharga tentang kemitraan pemerintah-swasta. Di tengah keterbatasan anggaran, 65 persen usaha pariwisata tetap beroperasi berkat kolaborasi yang efektif (Hanafiah dkk, 2021). Nguyen (2023) menegaskan bahwa kunci keberhasilan terletak pada kualitas tata kelola dan institusi yang mampu mengoptimalkan setiap rupiah yang dibelanjakan.

Indonesia perlu memetik pelajaran dari berbagai pengalaman ini. Pemangkasan anggaran memang tidak terelakkan, tetapi dampaknya bisa dimitigasi melalui optimalisasi penggunaan anggaran, penguatan kemitraan, dan inovasi model pengelolaan. Yang dibutuhkan adalah komitmen kuat dan koordinasi erat antara pemerintah pusat, daerah, pelaku industri, dan masyarakat lokal.

Pariwisata Indonesia telah membuktikan ketangguhannya menghadapi berbagai krisis. Pemangkasan anggaran kali ini mungkin akan menjadi ujian berat, tetapi dengan strategi yang tepat dan kolaborasi yang erat, sektor ini akan tetap menjadi salah satu penggerak utama ekonomi nasional.

*(Penulis adalah Peneliti dan pengamat Pariwisata Nasional, Dosen Pariwisata di Institut Pariwisata Trisakti, Email: muhammadrahmad@iptrisakti.ac.id WA. 081282050404)

Referensi

Abe et al. (2022) - "Conservation of the coral community and local stakeholders' perceptions of climate change impacts: Examples and gap analysis in three Japanese national parks." Ocean & Coastal Management, 218, 106042.

Adedoyin et al. (2023) - "The effect of tourism taxation on international arrivals to a small tourism-dependent economy." Journal of Travel Research, 62(1), 135-153.

Blanchard, O. (2023). Fiscal policy under low interest rates. MIT press.

Esquivias et al. (2021) - "Impacts and implications of a pandemic on tourism demand in Indonesia." Economics & Sociology, 14(4), 133-150.

Hanafiah et al. (2021) - "Implications of COVID-19 on tourism businesses in Malaysia: evidence from a preliminary industry survey."

Kalantzi et al. (2023) - "The contribution of tourism in national economies: Evidence of Greece." arXiv preprint arXiv:2302.13121.

Malahayati et al. (2021) - "An assessment of the short-term impact of COVID-19 on economics and the environment: A case study of Indonesia." EconomiA, 22(3), 291-313.

Mashapa & Dube (2023) - "Tourism recovery strategies from COVID-19 within national parks in Western Cape, South Africa." In COVID-19, Tourist Destinations and Prospects for Recovery: Volume Two: An African Perspective (pp. 205-223).

Nguyen (2023) - "Do institutions matter for tourism spending?" Tourism Economics, 29(1), 248-281.

Todesco & Silva (2021) - "Sectoral planning and budget execution in tourism in Brazil (2003-2018)." Revista Brasileira de Pesquisa em Turismo, 15, e-1986.

Trusova et al. (2023) - "Budget instruments for stimulating the development of the investment potential of the tourism industry in Ukraine." Economic Affairs, 68(1s), 253-269.

Wang et al. (2022) - "The impact of COVID-19 on the Chinese tourism industry." Tourism Economics, 28(1), 131-152.

*) Penulisan adalah Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia / Dosen Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti