Peran UPW & Pembelajaran dari Negara-Negara Terkemuka
Usaha Perjalanan Wisata (UPW) merupakan salah satu pilar utama dalam industri pariwisata.
Muhammad Rahmad
11/22/20243 min read


Usaha Perjalanan Wisata (UPW) merupakan salah satu pilar utama dalam industri pariwisata. UPW memiliki peran strategis dalam menggerakkan dan mengembangkan sektor pariwisata suatu negara. Di Indonesia, UPW terdiri dari Biro Perjalanan Wisata (BPW) dan Agen Perjalanan Wisata (APW) yang bekerja secara sinergis dalam menciptakan dan memasarkan pengalaman wisata. Pembelajaran dari negara-negara dengan PDB pariwisata tertinggi dunia dapat menjadi acuan penting dalam pengembangan UPW di Indonesia.
Spanyol, sebagai salah satu destinasi wisata terpopuler dunia, misalnya. Sektor pariwisatanya menyumbang 14,6% terhadap PDB nasional. UPW di Spanyol berperan penting dalam mengembangkan konsep wisata yang mengintegrasikan budaya, kuliner, dan gaya hidup Mediterranean. Keberhasilan mereka terlihat dari pengelolaan destinasi populer seperti Barcelona dan Madrid, dimana UPW lokal berkolaborasi dengan pemerintah dalam menciptakan pengalaman wisata yang autentik dan berkelanjutan.
Perancis, dengan kontribusi pariwisata mencapai 9,7% terhadap PDB, menunjukkan bagaimana UPW dapat memaksimalkan potensi wisata kota dan pedesaan secara seimbang. UPW Perancis terkenal dengan kemampuannya mengemas wisata wine tourism, gastronomi, dan heritage tourism menjadi produk premium yang menarik wisatawan high-end. Program "Excellence in Tourism" yang diinisiasi pemerintah Perancis bersama UPW terbukti berhasil memposisikan negara tersebut sebagai destinasi wisata luxury terkemuka.
Italia mengoptimalkan peran UPW dalam mengelola wisata warisan budaya dan kuliner, dengan kontribusi sektor pariwisata mencapai 13% dari PDB. UPW di Italia berhasil menciptakan paket wisata yang menggabungkan kunjungan ke situs bersejarah dengan pengalaman kuliner autentik. Program "Italian Tourism Excellence" yang melibatkan UPW, juga terbukti berhasil mendistribusikan arus wisatawan, tidak hanya ke kota-kota besar tetapi juga ke daerah pedesaan yang kaya akan tradisi.
Turki menorehkan prestasi dengan kontribusi pariwisata mencapai 11% terhadap PDB nasional. UPW di Turki berhasil memadukan wisata sejarah, budaya, dan modern dalam satu rangkaian pengalaman menarik. Keberhasilan mereka terlihat dari pengelolaan destinasi seperti Istanbul yang menggabungkan wisata heritage dengan shopping tourism. Program "Turkish Tourism Strategy 2023" yang melibatkan UPW secara aktif terbukti berhasil meningkatkan kualitas layanan dan diversifikasi produk wisata.
Di Asia Tenggara, Singapura membuktikan bahwa dengan luas wilayah terbatas, kontribusi pariwisata bisa mencapai 11,1% terhadap PDB. UPW di Singapura fokus pada pengembangan MICE tourism (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) dan urban tourism. Singapore Tourism Board bekerja sama dengan UPW lokal dalam mengembangkan produk wisata inovatif seperti integrated resort dan thematic tourism yang menjadi benchmark dunia.
Thailand, dengan kontribusi pariwisata mencapai 21,6% terhadap PDB, menunjukkan keberhasilan UPW dalam mengemas wisata budaya, alam, dan modern secara harmonis. UPW Thailand berhasil menciptakan branding yang kuat melalui konsep "Amazing Thailand" dan mengembangkan berbagai segmen wisata dari backpacker hingga luxury tourism. Kolaborasi antara Tourism Authority of Thailand dengan UPW lokal telah menciptakan ekosistem pariwisata yang komprehensif.
Di Indonesia sendiri, kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB baru mencapai 4,1%. Namun sesungguhnya, potensi pertumbuhannya masih sangat besar. Pembelajaran dari Spanyol, Perancis, Italia, Turki, Thailand, dan Singapura menunjukkan beberapa aspek kunci yang perlu dikembangkan oleh Pemerintah dan UPW Indonesia.
1. Pertama, kolaborasi erat antara pemerintah dan UPW dalam pengembangan produk wisata menjadi fondasi penting. Pemerintah perlu melibatkan UPW secara aktif dalam perencanaan dan pengembangan destinasi wisata, mulai dari infrastruktur hingga promosi. Seperti yang dilakukan Singapura melalui Singapore Tourism Board, kolaborasi ini menciptakan ekosistem pariwisata yang terintegrasi dan efisien.
2. Kedua, fokus pada pengembangan wisata berkualitas dan berkelanjutan harus menjadi prioritas. UPW Indonesia perlu mengadopsi prinsip pariwisata berkelanjutan seperti yang diterapkan di Spanyol dan Italia, dimana pertumbuhan ekonomi seimbang dengan pelestarian lingkungan dan budaya lokal. Pengembangan destinasi wisata premium yang ramah lingkungan dapat menarik wisatawan berkualitas dan memberikan nilai tambah lebih tinggi.
3. Ketiga, diversifikasi produk wisata untuk berbagai segmen pasar sangat penting untuk memperluas pangsa pasar. Seperti Thailand yang berhasil mengakomodasi wisatawan dari berbagai segmen, Indonesia perlu mempertimbangkan untuk mengembangkan produk wisata yang bervariasi, mulai dari backpacker hingga luxury tourism. Setiap destinasi perlu memiliki unique selling proposition yang jelas untuk menarik segmen pasarnya masing-masing.
4. Keempat, pemanfaatan teknologi digital dalam pemasaran dan operasional menjadi keharusan di era modern. UPW Indonesia perlu mengadopsi teknologi seperti yang dilakukan Perancis dan Turki dalam mengoptimalkan digital marketing, online booking system, dan customer relationship management. Penggunaan big data, artificial intelligence, Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR) akan sangat membantu UPW memahami tren pasar dan preferensi wisatawan dengan lebih baik.
5. Kelima, pengembangan SDM pariwisata yang profesional merupakan kunci keberhasilan industri pariwisata. Program pelatihan dan sertifikasi seperti yang diterapkan di Singapura dan Spanyol perlu diadopsi untuk meningkatkan kompetensi SDM pariwisata Indonesia. Standar pelayanan internasional dan pemahaman lintas budaya menjadi kompetensi wajib bagi pelaku UPW.
6. Keenam, standardisasi layanan wisata bertaraf internasional perlu diterapkan secara konsisten. Mengikuti contoh Turki dan Thailand yang memiliki standar layanan wisata yang ketat, Indonesia perlu mengembangkan dan menerapkan standar layanan yang terukur dan terkontrol. Sertifikasi usaha dan audit berkala dapat memastikan kualitas layanan tetap terjaga.
Melalui pengembangan keenam aspek tersebut, Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB nasional. Keberhasilan negara-negara acuan tersebut membuktikan bahwa dengan strategi yang tepat dan implementasi yang konsisten, target peningkatan kontribusi pariwisata terhadap PDB hingga 15% bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai.***
*) Penulisan adalah Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia / Dosen Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti
