1,1 Juta Sarjana Menganggur di Tengah Ledakan Industri Pariwisata

Saatnya mengubah paradigma "perguruan tinggi favorit" menuju pendidikan yang relevan dengan kebutuhan industri.

Muhammad Rahmad

7/18/20253 min read

Saatnya mengubah paradigma "perguruan tinggi favorit" menuju pendidikan yang relevan dengan kebutuhan industri.

Indonesia tengah menghadapi paradoks yang menggelisahkan dalam dunia pendidikan tinggi. Di satu sisi, lebih dari 1,1 juta sarjana terdampar dalam pengangguran, mencari pekerjaan yang sesuai dengan gelar yang mereka raih. Di sisi lain, industri pariwisata—sektor yang berkontribusi 4,8% terhadap Produk Domestik Bruto nasional—justru mengalami kelangkaan tenaga kerja terampil dengan penawaran gaji yang menggiurkan.

Fenomena ini menjadi cermin dari sistem pendidikan tinggi yang masih terjebak dalam paradigma lama: mengejar prestise institusi tanpa mempertimbangkan relevansi dengan kebutuhan pasar kerja. Akibatnya, jutaan lulusan terpaksa menerima kenyataan pahit bahwa gelar sarjana tidak otomatis menjamin masa depan yang cerah.

Ketimpangan Akses dan Miskonsepsi Tentang Kesuksesan

Setiap tahunnya, sekitar 850 ribu-an siswa SLTA berjuang merebut kursi di perguruan tinggi negeri. Namun, kapasitas PTN hanya mampu menampung 230 ribu-an mahasiswa. Sisanya, sebanyak 570 ribu-an calon mahasiswa, harus mencari alternatif lain: perguruan tinggi swasta, politeknik, atau bahkan tidak melanjutkan pendidikan sama sekali.

Ironisnya, dalam persaingan ketat ini, banyak siswa dan orangtua yang terjebak dalam miskonsepsi bahwa kesuksesan diukur dari prestise perguruan tinggi, bukan dari relevansi program studi dengan kebutuhan industri. Mereka lebih memilih jurusan yang "terdengar bagus" di universitas ternama, ketimbang program studi yang benar-benar sesuai dengan passion dan proyeksi karir.

Obsesi terhadap ranking universitas telah mengaburkan tujuan sejati pendidikan: menghasilkan lulusan yang tidak kompeten dan tidak siap berkontribusi pada pembangunan bangsa.

Peluang Emas di Sektor Pariwisata yang Terabaikan

Sementara jutaan sarjana berjuang mencari pekerjaan, industri pariwisata justru kesulitan mencari tenaga kerja yang memenuhi standar internasional. Khusus untuk posisi Tour Leader, misalnya, gaji yang ditawarkan berkisar antara 5-10 juta rupiah per bulan untuk tur domestik, dan 7-15 juta rupiah untuk tur internasional.

Angka ini jauh melampaui gaji rata-rata fresh graduate dari berbagai jurusan populer. Namun, posisi ini membutuhkan keahlian khusus yang tidak bisa diperoleh dari pendidikan konvensional: kemampuan komunikasi multibahasa, pemahaman mendalam tentang budaya dan sejarah, serta keterampilan manajemen grup.

Sektor pariwisata memiliki potensi menyerap 13 juta tenaga kerja baru hingga 2035. Proyeksi ini bahkan belum termasuk efek multiplier dari berkembangnya ekosistem pariwisata yang melibatkan UMKM, transportasi, dan industri kreatif.

Kesenjangan Skill dan Persiapan Industri

Akar masalah pengangguran terdidik terletak pada kesenjangan antara output pendidikan tinggi dengan kebutuhan riil industri. Banyak perguruan tinggi yang masih mengandalkan kurikulum teoretis tanpa exposure yang memadai terhadap dunia praktis.

Sebaliknya, institut pariwisata yang fokus pada industry-ready curriculum mampu menghasilkan lulusan dengan tingkat serapan kerja yang sangat tinggi. Data menunjukkan bahwa 95% lulusan institut pariwisata langsung bekerja dalam tiga bulan setelah wisuda, dengan rata-rata gaji fresh graduate mencapai 6-12 juta rupiah.

Keberhasilan ini tidak lepas dari pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan teori dengan praktik intensif. Mahasiswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga magang di hotel berbintang, maskapai penerbangan, dan perusahaan tur terkemuka. Mereka dibekali dengan sertifikasi internasional yang diakui industri global.

Peran Strategis Guru Bimbingan Konseling

Dalam ekosistem pendidikan, guru Bimbingan Konseling (BK) atau Bimbingan Pelajar (BP) memiliki peran strategis sebagai gatekeeper yang menentukan arah masa depan siswa. Mereka adalah pihak yang paling memahami karakter, minat, dan bakat masing-masing siswa.

Sayangnya, banyak guru BP yang masih terjebak dalam mindset lama: mendorong siswa untuk "mengejar" perguruan tinggi favorit tanpa mempertimbangkan kesesuaian dengan potensi dan peluang karir. Akibatnya, banyak siswa yang salah jurusan dan berujung pada pengangguran setelah lulus.

Diperlukan transformasi paradigma di kalangan guru BP. Mereka perlu dibekali dengan informasi terkini tentang tren industri, proyeksi kebutuhan tenaga kerja, dan berbagai alternatif pendidikan yang dapat memberikan outcome yang lebih baik bagi siswa.

Institut Pariwisata Trisakti: Model Pendidikan Masa Depan

Institut Pariwisata Trisakti telah membuktikan bahwa pendidikan tinggi yang relevan dengan industri dapat menjadi solusi efektif untuk masalah pengangguran terdidik. Dengan kurikulum yang dirancang bersama praktisi industri, institusi ini mampu menghasilkan lulusan yang langsung siap kerja.

Keunggulan Institut Pariwisata Trisakti terletak pada pendekatan holistik yang memadukan academic excellence dengan practical expertise. Mahasiswa tidak hanya dibekali dengan pengetahuan teoritis, tetapi juga soft skills yang dibutuhkan industri: leadership, cross-cultural communication, dan problem-solving.

Program magang wajib di perusahaan multinasional memberikan exposure langsung terhadap standar kerja internasional. Banyak mahasiswa yang kemudian di-recruit oleh perusahaan tempat mereka magang, bahkan sebelum lulus.

Saatnya Perubahan Paradigma

Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi pariwisata dunia. Dengan 17 ribu pulau, kekayaan budaya yang luar biasa, dan keramahan penduduk yang legendaris, negeri ini bisa menjadi magnet bagi wisatawan global.

Namun, potensi ini hanya akan terealisasi jika kita memiliki sumber daya manusia yang kompeten. Saatnya mengubah paradigma pendidikan tinggi dari "mengejar prestise" menjadi "menciptakan value". Saatnya mengarahkan generasi muda pada jalur pendidikan yang tidak hanya memberikan gelar, tetapi juga masa depan yang cerah.

Paradoks 1,1 juta sarjana menganggur di tengah ledakan peluang industri pariwisata seharusnya menjadi momentum untuk introspeksi kolektif. Jangan sampai kita terus memproduksi lulusan yang tidak dibutuhkan pasar, sementara sektor-sektor potensial kekurangan tenaga kerja terampil.

Masa depan Indonesia terletak pada kemampuan kita menyelaraskan output pendidikan dengan kebutuhan pembangunan nasional. Institut Pariwisata Trisakti dan institusi serupa telah menunjukkan jalan. Saatnya kita mengikuti jejak mereka, demi generasi yang lebih produktif dan Indonesia yang lebih maju.

*) Penulis adalah Dosen Pariwisata pada Institut Pariwisata Trisakti dan Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia