Belajar dari Jepang, Rahmad Berikan Solusi Pengelolaan Bus Wisata
Menyusul tragedi bus pariwisata SMK LIngga Kencana Depok yang menewaskan belasan pelajar, kali ini bus pariwisata yang mengangkut warga Rawa Belong, Jakarta Barat dilaporkan mengalami kecelakaan di Puncak, Sabtu (3/8/2024).
Muhammad Rahmad
8/4/20242 min read


Kecelaakaan bus pariwisata terguling ke jurang timpa rumah warga di Jalan Alternatif Puncak Citeko Taman Safari Indonesia (TSI), Kampung Citeko Panjang, Desa Citeko, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Sabtu (3/8/2024) (TribunnewsBogor.com/Muamarrudin Irfani)
Menyusul tragedi bus pariwisata SMK LIngga Kencana Depok yang menewaskan belasan pelajar, kali ini bus pariwisata yang mengangkut warga Rawa Belong, Jakarta Barat dilaporkan mengalami kecelakaan di Puncak, Sabtu (3/8/2024).
Tingginya angka kecelakaan bus pariwisata di Indonesia telah menciptakan citra negatif bagi industri pariwisata nasional. Keamanan dan kenyamanan, yang seharusnya menjadi kata kunci dalam sektor ini, kini dipertanyakan akibat seringnya terjadi insiden yang bahkan merenggut nyawa. Situasi ini menuntut perhatian serius dan tindakan nyata dari berbagai pemangku kepentingan.
Salah satu akar masalah terletak pada kualifikasi pengemudi bus pariwisata. Kepemilikan Surat Izin Mengemudi (SIM) saja terbukti tidak cukup untuk menjamin keselamatan penumpang. Diperlukan standar kompetensi yang lebih tinggi, mencakup tidak hanya keterampilan mengemudi, tetapi juga pemahaman mendalam tentang keselamatan, penanganan situasi darurat, dan etika pelayanan wisatawan.
Untuk mengatasi masalah ini, Indonesia dapat belajar dari negara-negara yang telah berhasil meningkatkan keselamatan transportasi wisatanya. Jepang, misalnya, dikenal dengan sistem transportasi yang aman dan efisien, termasuk dalam sektor pariwisata. Beberapa praktik terbaik yang bisa diadopsi antara lain:
1. Sistem Sertifikasi Komprehensif:
Jepang menerapkan sistem sertifikasi ketat bagi pengemudi bus pariwisata. Selain ujian mengemudi standar, calon pengemudi harus menjalani pelatihan khusus yang mencakup pengetahuan tentang rute wisata, penanganan situasi darurat, dan pelayanan pelanggan. Sertifikasi ini perlu diperbarui secara berkala untuk memastikan kompetensi yang konsisten.
2. Pembatasan Jam Kerja:
Pemerintah Jepang memberlakukan pembatasan ketat terhadap jam kerja pengemudi bus untuk menghindari kelelahan. Sistem rotasi pengemudi dan pemantauan waktu istirahat yang ketat diterapkan untuk menjaga kesiagaan pengemudi.
3. Pemeriksaan Kendaraan Rutin:
Bus pariwisata di Jepang menjalani pemeriksaan teknis secara rutin dan menyeluruh. Sistem perawatan preventif diterapkan untuk memastikan kendaraan selalu dalam kondisi prima.
4. Teknologi Keselamatan:
Penggunaan teknologi canggih seperti sistem pemantauan kelelahan pengemudi, GPS untuk pemantauan kecepatan, dan sistem pengereman otomatis menjadi standar dalam industri bus pariwisata Jepang.
5. Edukasi Penumpang:
Sebelum perjalanan dimulai, penumpang diberikan pengarahan singkat tentang prosedur keselamatan, termasuk penggunaan sabuk pengaman dan tindakan yang harus dilakukan dalam situasi darurat.
6. Kerjasama Industri-Pemerintah:
Pemerintah Jepang bekerja sama erat dengan asosiasi industri pariwisata untuk terus meningkatkan standar keselamatan dan pelayanan.
Mengadopsi praktik-praktik ini, Indonesia dapat memulai langkah-langkah konkret untuk meningkatkan keselamatan bus pariwisata:
1. Membentuk badan sertifikasi khusus untuk pengemudi bus pariwisata yang melibatkan pelatihan intensif dan ujian berkala.
2. Menerapkan regulasi yang lebih ketat mengenai jam kerja pengemudi dan kondisi kendaraan.
3. Meningkatkan pengawasan dan penegakan hukum terhadap pelanggaran keselamatan.
4. Mendorong investasi dalam teknologi keselamatan modern untuk armada bus pariwisata.
5. Melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk operator wisata, asosiasi pengemudi, dan pemerintah daerah dalam upaya peningkatan keselamatan.
Dengan mengimplementasikan langkah-langkah ini, Indonesia dapat meningkatkan standar keselamatan bus pariwisatanya, yang pada gilirannya akan meningkatkan kepercayaan wisatawan dan memperkuat citra positif industri pariwisata nasional. Keselamatan bukanlah pilihan, melainkan keharusan dalam membangun sektor pariwisata yang berkelanjutan dan berdaya saing global.***
(Penulis : Muhammad RAHMAD, Sekjen ASITA / Mahasiswa S3 Pariwisata Trisakti / Praktisi Pariwisata Nasional)
