Berantas Kemiskinan, Muhammad Rahmad Ajak Warga Tanam Jagung

(Limapuluh Kota) Wacana pengelolaan jagung dari hulu ke hilir yang disampaikan Muhamamd Rahmad, pengusaha sukses Luak Limopuluah, terjawab sudah.

Muhammad Rahmad

7/3/20232 min baca

H. Muhammad Rahmad, Fungsionaris DPP Partai Golkar, Bacalon DPR RI Dapil Sumatera Barat 2 memperlihatkan hasil panen jagung dilahan uji coba dengan hasil panen 12,6 ton per hektar.

(Limapuluh Kota) Wacana pengelolaan jagung dari hulu ke hilir yang disampaikan Muhamamd Rahmad, pengusaha sukses Luak Limopuluah, terjawab sudah. Tokoh-tokoh masyarakat dan Ketua DPRD Deni Asra menyatakan dukungan totalnya.

Tanam jagung perdana telah dilakukan Muhammad Rahmad bersama masyarakat petani dan kelompok tani di kampung halamannya, di VII Koto Talago, Guguak, Limapuluh Kota beberapa waktu lalu.

"Jagung adalah kekuatan ekonomi baru bagi Kabupaten Lima Puluh Kota. Dengan jagung, Kabupaten Lima Puluh Kota dalam 2 tahun bisa menghapus pengangguran dan memberantas kemiskinan," sebut Rahmad.

Dikatakan Rahmad, Kabupaten ini merupakan sumber penghasil ternak ayam dan telur yang menyumbang 30 persen kebutuhan Sumatera Barat dan Riau.

Kebutuhan peternak terhadap jagung sebagai pakan ayam di Kabupaten Lima Puluh Kota adalah 1,1 juta ton per tahun.

Sedangkan produksi jagungnya hanya 30 ribu ton per tahun. Alhasil, Kabupaten Lima Puluh Kota harus membeli jagung tiap tahun 1,07 juta ton atau setara dengan uang yang dibelanjakan tiap tahun keluar Kabupaten senilai 3,7 trilyun rupiah.

Kabupaten Lima Puluh Kota memiliki 62 ribu hektar lahan tidur yang dibiarkan bertahun-tahun. Disisi lain, terdapat 5 ribu orang lebih pengangguran, dan sekitar 26,9 ribu masyarakat hidup dibawah garis kemiskinan disamping ada pula 27 ribu lebih hidup miskin.

Jika 62 ribu hektar lahan tidur dikelola masyarakat bersama jorong dan wali nagari dengan bertanam jagung, maka akan menghasilkan jagung sejumlah 1,1 juta ton atau senilai dengan uang 3,5 trilyun rupiah. Perolehan dari pendapatan jagung saja melebihi hampir 3 kali APBD.

Muhammad Rahmad mengajak seluruh petani, jorong, walinagari untuk bangkit dan siap-siap bertanam jagung dilahan-lahan tidur dan terlantar. Keseriusan Muhammad Rahmad untuk membangkitkan gairah petani jagung di Limapuluh Kota diikuti dengan langkah membuat kebun percontohan di Jorong Talago, Baruah Kubang, Kenagarian Tujuh Koto Talago, Kecamatan Guguak, Kabupaten Limapuluh Kota.

Menurut Rahmad, kebun jagung dapat ditanam dua jenis bibit unggul khusus untuk pakan ayam.

Dari uji coba tanaman jagung yang telah dilakukan, Rahmad telah melakukan analisa dasar tentang biaya produksi, teknik pengelolaan sampai panen, dan tata-cara bertani jagung sesuai standarisasi pabrik bibit.

“ Jagung unggul itulah nanti yang akan kita dorong untuk dikembangkan di Kabupaten Lima Puluh Kota,” ujar Rahmad.

Pengelolaan kebun percontohan telah dilakukan Rahmad bersama masyarakat dibawah binaan Jorong dan Wali Nagari. Karena itu, kedepan, kita ingin Wali Nagari dan Jorong se Kabupaten Lima Puluh Kota dijadikan sebagai pusat pengelolaan dan pusat informasi tata cara bercocok tanam jagung. Bibit, pupuk, racun dan tata kelolanya berada di Kantor Wali Nagari di Kabupaten Lima Puluh Kota. Siapa saja masyarakat yang ingin bertanam jagung, datang ke Kantor Wali Nagari mengambil bibit, pupuk dan racun. Pembiayaan pun nanti kita siapkan dari Kantor Wali Nagari, terang Rahmad.

Muhammad Rahmad menyakini, jika sektor tanaman jagung ini benar-benar dapat dikembangkan, maka Kabupaten Limapuluh Kota dapat menjadi pusat produksi jagung terbesar di Sumatera Barat, dengan penghasilan minimal 13,8 trilyun rupiah per tahun.

Tak hanya itu, ulasnya lagi, perekonomian dan kesejahteraan masyarakat akan meningkat, pengangguran akan hilang, dan 26.930 orang yang saat ini hidup dibawah garis kemiskinan di Kabupaten Limapuluh Kota, akan terbebas dari kemiskinan.

Diakui Muhammad Rahmad, jagung adalah komoditi penting yang sangat dibutuhkan. Tiap tahun, setidaknya Sumatera Barat membutuhkan 3,1 juta ton jagung kering. Hasil produksi jagung Sumatera Barat baru 986 ribu ton per tahun. Untuk memenuhi kebutuhan, Sumatera Barat terpaksa membeli jagung dari luar daerah sekitar 2,1 juta ton.***

*) Penulisan adalah Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia / Dosen Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti