Collaborative leadership: Jalan Baru Pariwisata Indonesia
Langit Magelang diguyur hujan saat parade senja retreat kepala daerah se-Indonesia di Akademi Militer (Akmil), namun semangat kepemimpinan yang ditunjukkan oleh Presiden Prabowo Subianto justru tampak semakin bersinar.
Muhammad Rahmad
3/5/20255 min read


Langit Magelang diguyur hujan saat parade senja retreat kepala daerah se-Indonesia di Akademi Militer (Akmil), namun semangat kepemimpinan yang ditunjukkan oleh Presiden Prabowo Subianto justru tampak semakin bersinar. Pada momen bersejarah tersebut, Presiden Prabowo tidak berdiri sendiri. Ia diapit oleh dua pendahulunya—Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Presiden ke-7 Joko Widodo—sebuah pemandangan yang jarang terlihat di negara manapun. "Saya merasa sangat bangga, hari ini saya ditemani oleh dua mantan presiden," ungkap Prabowo dalam sambutannya pada acara gala dinner retret kepala daerah. Momen ini bukan sekadar pertemuan formalitas tiga pemimpin negara. Lebih dari itu, ini merupakan manifestasi nyata dari sebuah pendekatan kepemimpinan yang kini menjadi semakin penting bagi Indonesia: collaborative leadership.
Collaborative leadership atau kepemimpinan kolaboratif bukanlah konsep baru, namun implementasinya dalam konteks Indonesia, khususnya pada era Prabowo, menandai sebuah pergeseran paradigma yang signifikan. Pendekatan ini mengedepankan kerja sama lintas sektor, menghargai pengalaman masa lalu, dan membangun jembatan antara berbagai pemangku kepentingan untuk mencapai tujuan bersama. Kehadiran dua mantan presiden bersama presiden aktif bukan hanya simbolis, tetapi juga merepresentasikan akumulasi 20 tahun pengalaman memimpin bangsa yang kini bersinergi untuk kepentingan Indonesia, termasuk dalam pengembangan sektor pariwisata yang menjadi salah satu andalan ekonomi negara.
Collaborative leadership sendiri didefinisikan sebagai proses di mana pihak-pihak yang memiliki kepentingan terhadap suatu masalah berusaha mencari solusi bersama yang melampaui visi dan kapasitas masing-masing. Dalam konteks pariwisata, pendekatan ini tidak hanya melibatkan pemerintah, tetapi juga sektor swasta, komunitas lokal, akademisi, dan bahkan wisatawan itu sendiri. Achmad, Prambudia, dan Rumanti (2023) dalam penelitian mereka menegaskan bahwa pengembangan industri pariwisata berkelanjutan memerlukan model kolaboratif yang mencakup inovasi terbuka, keterlibatan pemangku kepentingan, dan fasilitas sistem pendukung yang memadai.
Prabowo, dalam berbagai kesempatan, termasuk saat retret kepala daerah di Akmil, menekankan pentingnya menghargai pengalaman para pemimpin terdahulu. "Dua presiden sebelum saya menjabat hadir di sini artinya adalah presiden yang memiliki 10 tahun pengalaman ada 2, berarti yang hadir di sini 2 presiden dengan 20 tahun pengalaman memimpin bangsa ini," ucapnya. Pernyataan ini menggarisbawahi esensi dari kepemimpinan kolaboratif yang menghargai sejarah dan pembelajaran dari masa lalu sebagai fondasi untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Penghargaan terhadap kontribusi pemimpin sebelumnya ini sejalan dengan temuan Cave et al. (2022) tentang pariwisata regeneratif yang menekankan pentingnya kepemimpinan transformasional dalam menghadapi tantangan sektor pariwisata. Menurut para peneliti tersebut, kepemimpinan transformasional, yang merupakan bagian integral dari kepemimpinan kolaboratif, mampu mendorong perubahan paradigma dari pariwisata konvensional menuju pariwisata yang lebih berkelanjutan dan bermanfaat bagi semua pihak.
Dalam konteks pariwisata Indonesia, pendekatan kolaboratif yang kini dipraktikkan Prabowo menjadi sangat relevan mengingat kompleksitas tantangan yang dihadapi sektor ini. Pandemi COVID-19 telah memberikan pukulan telak bagi industri pariwisata global, termasuk Indonesia. Budhi, Lestari, dan Suasih (2022) dalam penelitian mereka di Provinsi Bali—destinasi utama pariwisata Indonesia—menemukan bahwa strategi kolaborasi penta-helix yang melibatkan pemerintah, akademisi, komunitas, bisnis, dan media menjadi kunci pemulihan industri pariwisata di era normal baru.
Prabowo dalam berbagai kesempatannya juga sering menekankan pentingnya menjaga persatuan dan menghindari perpecahan. Hal ini tercermin dalam ucapan terima kasihnya kepada SBY dan Jokowi: "20 tahun bapak telah mengendalikan bangsa dan negara, menjaga negara, menghindari perpecahan, menjaga bangsa dan negara, menghindari diganggu oleh bangsa lain." Pernyataan ini menunjukkan kesadaran bahwa stabilitas politik dan keamanan merupakan prasyarat bagi berkembangnya sektor pariwisata yang berkelanjutan.
Stabilitas dan keamanan memang menjadi faktor penting dalam menentukan daya tarik suatu negara sebagai destinasi wisata. Nazir, Yasin, dan Tat (2021) dalam penelitian mereka mengungkapkan bahwa citra destinasi memediasi hubungan antara persepsi risiko, kendala yang dirasakan, dan niat perilaku wisatawan. Dengan kata lain, persepsi keamanan dan stabilitas suatu destinasi akan sangat mempengaruhi keputusan wisatawan untuk berkunjung. Di sinilah peran kepemimpinan kolaboratif menjadi krusial dalam membangun dan mempertahankan citra positif Indonesia di mata dunia.
Sebagai Chief of Command Indonesia, Prabowo tidak hanya berperan dalam menjaga keamanan dan pertahanan negara, tetapi juga secara tidak langsung menjadi "wajah" Indonesia di mata internasional. Gaya kepemimpinannya yang menghargai pengalaman dan kontribusi pemimpin terdahulu, serta kemampuannya membangun jembatan antara berbagai elemen masyarakat, memberikan contoh nyata kepada dunia internasional tentang bagaimana Indonesia dikelola sebagai destinasi yang menyenangkan dan aman untuk dikunjungi.
Micevski, Diamantopoulos, dan Erdbrügger (2021) mengemukakan bahwa stereotip negara dan emosi terkait negara memiliki implikasi penting bagi citra suatu negara sebagai destinasi. Ketika pemimpin negara, dalam hal ini Prabowo, mampu menunjukkan kapasitas untuk berkolaborasi dan menghargai keberlanjutan nilai-nilai positif dari kepemimpinan sebelumnya, hal ini secara tidak langsung membangun narasi positif tentang Indonesia sebagai negara yang stabil, aman, dan ramah bagi wisatawan internasional.
Penelitian Zainal-Abidin, Scarles, dan Lundberg (2023) menguatkan argumen ini dengan menyoroti pentingnya anteseden kolaborasi digital melalui platform digital yang ditingkatkan untuk manajemen destinasi. Mereka berpendapat bahwa perspektif micro-DMO (Destination Management Organization) dapat memperkaya pemahaman tentang bagaimana kolaborasi digital dapat meningkatkan pengelolaan destinasi pariwisata. Di era digital saat ini, kepemimpinan kolaboratif yang ditunjukkan Prabowo dapat menjadi katalisator bagi pemanfaatan teknologi digital secara optimal dalam promosi dan pengelolaan destinasi wisata Indonesia.
Transformasi kepemimpinan yang dibawa Prabowo juga sejalan dengan temuan Yulianeu, Ferdinand, dan Purnomo (2021) tentang peran kepemimpinan transformasional dalam mengenergikan pembelajaran organisasi untuk meningkatkan kinerja eko-pariwisata berbasis masyarakat di Indonesia. Menurut penelitian ini, kepemimpinan transformasional memiliki dampak positif signifikan terhadap pembelajaran organisasi dan pada akhirnya meningkatkan kinerja eko-pariwisata.
Prabowo, dalam upayanya membangun pariwisata Indonesia yang berkualitas, juga nampak memahami pentingnya peran pemerintah daerah. Hal ini tercermin dari kehadirannya dalam retret kepala daerah di Akmil, Magelang. Bulilan (2021) dalam penelitiannya di Bohol, Filipina, mengungkapkan pergeseran peran pemerintah daerah dari sekadar "memerintah" menjadi "menjual" pariwisata. Pendekatan kolaboratif yang dipraktikkan Prabowo, yang melibatkan kepala daerah dalam diskusi nasional tentang pengembangan pariwisata, dapat memperkuat peran strategis pemerintah daerah dalam memajukan sektor ini.
Aspek penting lainnya dari kepemimpinan kolaboratif dalam konteks pariwisata adalah inklusi dan kesetaraan gender. Kourtesopoulou dan Chatzigianni (2021) dalam tinjauan sistematis mereka tentang kesetaraan gender dan kepemimpinan kewirausahaan perempuan dalam pariwisata menekankan pentingnya pendekatan yang lebih inklusif dalam pengembangan sektor ini.
Phi dan Dredge (2021) memperkuat argumen ini dengan mengemukakan konsep "collaborative tourism-making" atau pembuatan pariwisata kolaboratif sebagai pendekatan interdisipliner dalam ko-kreasi pariwisata. Gaya kepemimpinan Prabowo yang menghargai pengalaman dan keahlian dari berbagai bidang menunjukkan potensi untuk mengadopsi pendekatan interdisipliner ini dalam pengembangan pariwisata Indonesia.
Dalam perspektif yang lebih luas, kepemimpinan kolaboratif juga berperan penting dalam meningkatkan daya saing Indonesia sebagai destinasi wisata global. Gomez-Vega, Herrero-Prieto, dan López (2022) dalam penelitian mereka menemukan beberapa faktor penentu daya saing pariwisata, salah satunya adalah tata kelola destinasi yang efektif, yang sangat bergantung pada kualitas kepemimpinan dan kolaborasi antar pemangku kepentingan.
Di tengah hujan yang mengguyur parade senja di Akmil, semangat para taruna dan kehadiran dua mantan presiden bersama Presiden Prabowo menjadi metafora yang tepat untuk menggambarkan ketahanan dan kolaborasi yang dibutuhkan dalam mengembangkan pariwisata Indonesia. "Para taruna telah menunjukkan disiplin dan semangat luar biasa," puji Prabowo. Semangat dan disiplin inilah, ditambah dengan pendekatan kolaboratif dalam kepemimpinan, yang akan menjadi modal berharga bagi Indonesia untuk membangun pariwisata yang berkualitas, berkelanjutan, dan berdaya saing global.
Pada akhirnya, kepemimpinan kolaboratif yang dipraktikkan Prabowo, dengan menghargai kontribusi pemimpin terdahulu dan membangun jembatan antara berbagai elemen masyarakat, memberikan contoh nyata kepada dunia internasional tentang bagaimana Indonesia dikelola sebagai destinasi yang menyenangkan, aman, dan memiliki keragaman budaya yang kaya. Melalui leadership dan collaborative leadership yang diterapkan Prabowo, pariwisata Indonesia memiliki peluang untuk tidak hanya pulih dari dampak pandemi COVID-19, tetapi juga bertransformasi menjadi industri yang lebih tangguh, berkelanjutan, dan membawa manfaat lebih besar bagi masyarakat Indonesia.
*(Penulis adalah Ketua Umum Persatuan Usaha Perjalanan Wisata Indonesia (Persatuan UPW Indonesia), Dosen/Peneliti Pariwisata, Institut Pariwisata Trisakti, Jakarta)
