Dampak Tourism Fund Tiket Airlines Terhadap Pariwisata Indonesia
Pariwisata adalah salah satu sektor yang penting bagi banyak negara di dunia.
Muhammad Rahmad
4/28/20243 min read


Pariwisata adalah salah satu sektor yang penting bagi banyak negara di dunia. Pariwisata memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian dan pengembangan sosial. Untuk mendukung pengembangan pariwisata, beberapa negara mengimplementasikan pungutan dana pariwisata dari tiket airlines, seperti Australia, Selandia Baru, Argentina, Kenya, dan Afrika Selatan. Meskipun bertujuan untuk meningkatkan pendanaan dan pengembangan pariwisata, pungutan ini memiliki dampak yang kompleks terhadap pariwisata nasional.
Salah satu dampak positif dari pungutan dana pariwisata adalah peningkatan pendanaan yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan pariwisata, seperti promosi pariwisata, pengembangan infrastruktur pariwisata, pelestarian lingkungan, dan pelatihan tenaga kerja pariwisata. Pendanaan tambahan ini dapat meningkatkan daya tarik destinasi pariwisata dan meningkatkan pengalaman wisatawan.
Selain itu, pungutan dana pariwisata juga dapat meningkatkan promosi pariwisata di pasar internasional. Dana yang dikumpulkan dapat digunakan untuk kampanye pemasaran yang lebih agresif dan efektif, yang dapat meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung dan menghasilkan pendapatan tambahan bagi negara.
Namun, pungutan dana pariwisata juga dapat memiliki dampak negatif. Salah satunya adalah peningkatan harga tiket pesawat. Pungutan ini dapat menyebabkan kenaikan harga tiket, yang dapat membuat destinasi menjadi kurang kompetitif terkait harga dibandingkan dengan destinasi lain yang tidak memberlakukan pungutan serupa. Hal ini dapat mengurangi jumlah wisatawan yang berkunjung, terutama bagi wisatawan yang sensitif terhadap harga.
Selain itu, penerapan pungutan ini juga dapat berdampak pada industri penerbangan, terutama maskapai penerbangan, yang mungkin mengalami penurunan permintaan tiket karena kenaikan harga. Hal ini dapat berdampak pada kesehatan industri penerbangan dan ketenagakerjaan yang terkait dengan industri tersebut.
Studi kasus tourism fund dari tiket pesawat
Negara-negara yang unggul dalam industri pariwisata seperti Spanyol, Perancis, Italia, Turki di Eropa, atau Cina, Jepang, Thailand, Singapura di Asia, menghindari pungutan tourism fund dari industri penerbangan, baik untuk tiket domestik maupun internasional. Hal tersebut bertujuan agar dengan harga tiket yang kompetitif, jumlah wisatawan yang berkunjung ke destinasi-destinasi di negara mereka semakin besar.
Ada dua negara tetangga Indonesia, yakni Australia dan Selandia Baru yang menerapkan tourism fund dari tiket pesawat. Pertama, pemerintah Australia. Mereka memiliki program yang disebut "Tourism Australia Levy", yang merupakan biaya tambahan yang dikenakan pada tiket pesawat internasional yang khusus masuk ke Australia saja. Pendapatan dari levy ini digunakan untuk mendukung promosi pariwisata Australia di pasar internasional. Kedua, Selandia Baru. Pemerintah Selandia Baru juga memiliki program "International Visitor Conservation and Tourism Levy" yang dikenakan pada setiap turis yang masuk ke negara tersebut. Pendapatan dari levy ini digunakan untuk mendukung upaya pelestarian lingkungan dan pengembangan pariwisata berkelanjutan di Selandia Baru.
Penerapan "Tourism Australia Levy di Australia" dan "International Visitor Conservation and Tourism Levy di Selandia Baru" menyebabkan harga tiket pesawat internasional ke Australia dan Selandia Baru menjadi naik. Hal ini membuat destinasi Australia dan Selandia Baru menjadi lebih mahal bagi wisatawan, dan mengurangi daya tariknya sebagai tujuan wisata. Total wisatawan asing ke Australia pada tahun 2019 hanya mencapai 1,7 juta orang. Sama halnya dengan total wisatawan asing ke Selandia Baru pada tahun 2019, hanya mencapai 1,8 juta orang.
Kenaikan harga tiket pesawat membuat Australia dan Selandia Baru kurang kompetitif dibandingkan dengan destinasi wisata lain yang tidak memberlakukan pungutan serupa. Daya saing pariwisata dikedua negara ini relatif kecil dibandingkan negara kecil Fiji Island (Kepulaun Fiji) yang jumlah wisatawan asingnya 1,3 juta tahun 2019.
Daya Saing Pariwisata Indonesia di ASEAN
Menurut data dari Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS), jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia pada tahun 2019 sebanyak 16,1 juta orang. Bandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Thailand 39,8 juta wisatawan asing, Malaysia 26,1 juta wisatawan asing, Singapura 19,1 juta wisatawan asing, dan Vietnam 18,0 juta wisatawan asing. Indonesia berada diurutan ke-lima di ASEAN. Thailand, Malaysia, Vietnam, Singapura yang tidak melakukan tourism fund dari tiket pesawat, bisa saja mengambil manfaat yang lebih besar dibanding Indonesia, ketika harga tiket internasional ke Indonesia terlalu mahal. Begitu pula di dalam negeri. Warga Indonesia akan makin banyak berwisata keluar, apabila biaya tiket pesawat antar destinasi dalam negeri lebih mahal dibanding terbang ke Malaysia, Vietnam, atau Thailand.
Oleh sebab itu, pemerintah perlu mempertimbangkan secara cermat implementasi dan pengelolaan dana pariwisata dari tiket pesawat ini. Pemerintah perlu memastikan bahwa dampak positifnya harus melebihi dampak negatifnya. Pariwisata Indonesia sejatinya haruslah lebih kompetitif di ASEAN. Sudah semestinya pariwisata Indonesia harus juara satu di ASEAN, bukan lagi juara lima.***
*) Penulisan adalah Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia / Dosen Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti
