Danareksa dan Pariwisata: Jalan Menuju ROA 7 Persen

Hampir tiga dekade lalu, Pine dan Gilmore menulis di Harvard Business Review tesis yang mengubah cara dunia memandang ekonomi: barang dan jasa saja tidak lagi cukup; masa depan adalah ekonomi pengalaman. Bisnis yang memaku diri di dunia lama akan menjadi tidak relevan. Saya baru menyadari relevansinya yang paling mengejutkan justru ketika mengkaji laporan keuangan sebuah holding BUMN bernama Danareksa.

Muhammad Rahmad - Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia

2/18/20262 min baca

Muhammad Rahmad
Muhammad Rahmad

Seorang kolega pernah bertanya: apa sebenarnya bisnis utama Danareksa? Danareksa mengelola kawasan industri, jasa keuangan, konstruksi, kliring berjangka, penerbitan buku, bahkan produksi film. Campuran yang sekilas tanpa benang merah. Tapi setelah mengkaji laporan keuangan konsolidasi — FY 2024 dan interim Juni 2025 — saya menemukan benang merah itu: pariwisata.

Sebelum skeptisisme mengambil alih, izinkan saya membongkar satu miskonsepsi. UN Tourism mendefinisikan pariwisata sebagai perpindahan orang ke tempat di luar lingkungan biasanya untuk tujuan personal atau bisnis. Direktur multinasional yang meninjau lokasi investasi adalah wisatawan. Delegasi dagang Korea yang mengunjungi pabrik di Cakung juga wisatawan. Dan belanja harian wisatawan bisnis dua hingga tiga kali lipat wisatawan leisure. Dengan definisi ini, kawasan industri Danareksa bukan sekadar pengelola lahan — ia adalah panggung ekonomi pengalaman yang menerima ribuan tamu setiap tahun.

Mari lihat angkanya. Danareksa mengelola aset Rp 63,7 triliun dengan laba Rp 1,56 triliun — ROA hanya 2,45 persen. Untuk mencapai 7 persen, gap-nya Rp 2,9 triliun. Semester pertama 2025 bahkan menunjukkan perlambatan. Efisiensi saja tidak cukup. Dibutuhkan sumber pertumbuhan baru tanpa menambah beban aset.

Ketika saya membuka catatan laporan keuangan, jejak pariwisata tersebar di mana-mana. Nindya Karya, anak usaha konstruksi Danareksa, sudah menjadi kontraktor infrastruktur pariwisata BUMN — revitalisasi Grand Inna Bali Beach, proyek Angkasa Pura, Hotel Indonesia Natour, Taman Wisata Borobudur — total eksposur Rp 800 miliar. PPA (Perusahaan Pengelola Aset), anak usaha lainnya, memiliki piutang ke belasan BUMN pariwisata. Jalin Pembayaran Nusantara, juga milik Danareksa, siap menjadi tulang punggung pembayaran digital di destinasi wisata.

Namun bukti terkuat ada di kawasan industri senilai Rp 33,1 triliun. Pada Maret 2025, Presiden Prabowo meresmikan KEK Industropolis Batang — "Shenzhen-nya Indonesia" — anak usaha Danareksa melalui KITB, 4.300 hektar di pesisir Jawa Tengah. Melalui PP 12/2025, ia menjadi satu-satunya KEK yang menggabungkan tiga pilar: industri, logistik, dan pariwisata. Program Two Countries Twin Park dengan Tiongkok memproyeksikan Rp 60 triliun. Total proyeksi investasi: Rp 133,8 triliun dalam satu dekade.

Di sisi lain, KBN (Kawasan Berikat Nusantara) — juga anak usaha Danareksa — duduk di atas 600 hektar berbatasan langsung dengan Tanjung Priok — pelabuhan yang menangani lebih dari 50 persen kargo nasional. Di tengah mantra "China plus one," pasar logistik Asia-Pasifik diproyeksikan menjadi USD 8,28 triliun pada 2034. RCEP akan mengeliminasi 92 persen tarif dagang. Artinya lebih banyak wisatawan bisnis ke Indonesia.

Namun dalam LPI Bank Dunia 2023, Indonesia merosot 17 peringkat ke posisi 63. Penurunan terbesar di indikator yang paling dirasakan para tamu: ketepatan waktu dan kemampuan menelusuri perjalanan barang. Ini masalah pengalaman. Pine dan Gilmore sudah memperingatkan: jika pengalaman tamu buruk, tidak ada efisiensi yang bisa menyelamatkan. JAFZA Dubai dan DMCC — kawasan ekonomi terbaik dunia — menang karena memperlakukan investor sebagai tamu terhormat.

Jika KEK Batang adalah prototipe kawasan industri-pariwisata-alam, maka KBN adalah prototipe kawasan industri-logistik-hospitalitas. Keduanya anak usaha Danareksa. Tambahkan Nindya Karya, PPA, Jalin, Balai Pustaka dan PFN (Produksi Film Negara) — semuanya milik Danareksa. Tidak ada holding BUMN lain dengan ekosistem selengkap ini.

Tentu ada prasyarat. Yang paling mendesak: tata kelola. Beberapa anak usaha strategis Danareksa masih memiliki struktur pengawasan yang belum lengkap — posisi komisaris kosong, fungsi direksi dirangkap, dan mekanisme checks and balances belum optimal. Anda tidak bisa berlari mengejar ROA 7 persen jika awak kapal tidak lengkap di anjungan. Kabar baiknya, pembenahan ini dalam kendali Danareksa dan bisa dilakukan dengan cepat.

Frank Gehry, arsitek Guggenheim Bilbao, pernah berkata: "Orang selalu bilang saya mengubah kota ini; saya tidak bermaksud mengubah kota — saya hanya ingin menjadi bagian dari kota." Tapi faktanya, satu museum senilai 100 juta dolar mengubah kota industri baja yang sekarat menjadi destinasi wisata yang menyumbang 657 juta euro per tahun. Danareksa tidak perlu Guggenheim. Ia sudah punya Laut Jawa di Batang, Tanjung Priok di KBN, dan ribuan hektar lahan di lima kota. Yang dibutuhkan hanya keberanian menyatukan apa yang sudah dimiliki.