Daya Saing SDM Pariwisata Indonesia di Era Digital
Di tengah pesatnya pertumbuhan sektor pariwisata Asia Tenggara, Indonesia masih bergulat dengan berbagai tantangan dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) pariwisatanya.
Muhammad Rahmad
12/3/20242 min read


Di tengah pesatnya pertumbuhan sektor pariwisata Asia Tenggara, Indonesia masih bergulat dengan berbagai tantangan dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) pariwisatanya. Meski memiliki kekayaan destinasi wisata yang luar biasa dan budaya keramahtamahan yang diakui dunia, kualitas SDM pariwisata Indonesia masih tertinggal dibanding beberapa negara tetangga di ASEAN.
Data World Travel and Tourism Council (WTTC) 2023 menunjukkan kontribusi sektor pariwisata Indonesia terhadap PDB mencapai US$74,2 miliar, tertinggal dari Filipina yang mencapai US$97,2 miliar. Angka ini cukup mengejutkan mengingat Indonesia memiliki lebih banyak destinasi wisata dan populasi yang jauh lebih besar. Salah satu faktor kuncinya adalah kualitas SDM yang belum optimal.
Fenomena yang cukup mengkhawatirkan adalah menurunnya minat generasi muda terhadap program studi Usaha Perjalanan Wisata (UPW). Berdasarkan data PDDIKTI 2023, jumlah mahasiswa yang mendaftar di program studi UPW mengalami penurunan sekitar 15% dalam tiga tahun terakhir. Beberapa faktor penyebabnya antara lain persepsi gaji yang rendah, jam kerja yang panjang, dan stigma bahwa pekerjaan di bidang pariwisata kurang prestise dibanding sektor lain seperti teknologi atau keuangan.
Tantangan lain yang dihadapi adalah kesenjangan kompetensi yang signifikan. Dalam hal penguasaan bahasa asing, SDM pariwisata Indonesia masih tertinggal dari Filipina dan Malaysia. Hasil survei English First (EF) 2023 menempatkan Indonesia di peringkat 82 dari 113 negara dalam hal kemampuan berbahasa Inggris, jauh di bawah Filipina (peringkat 22) dan Malaysia (peringkat 28).
Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan reformasi menyeluruh dalam sistem pendidikan pariwisata. Pertama, kurikulum perlu diperbarui dengan memasukkan lebih banyak komponen digital dan teknologi. Penggunaan virtual reality untuk pelatihan praktis, artificial intelligence untuk manajemen destinasi, dan big data untuk analisis tren wisatawan perlu menjadi bagian integral dari pendidikan pariwisata.
Kedua, program magang internasional perlu diperkuat melalui kerja sama dengan industri perhotelan dan pariwisata global. Singapura telah berhasil menerapkan model ini melalui program Work-Study Degree yang menggabungkan pendidikan formal dengan pengalaman kerja di perusahaan multinasional.
Untuk meningkatkan minat generasi muda, industri pariwisata perlu melakukan rebranding yang mengedepankan aspek teknologi dan inovasi. Misalnya, pengembangan karir di bidang digital tourism marketing, sustainable tourism management, atau virtual tour development. Gaji dan benefit juga perlu disesuaikan untuk menarik talenta muda berkualitas.
Thailand bisa menjadi contoh dalam hal ini. Mereka berhasil meningkatkan minat generasi muda terhadap industri pariwisata melalui program "Smart Tourism 4.0" yang menggabungkan pariwisata tradisional dengan teknologi digital. Hasilnya, sektor pariwisata Thailand mampu menyerap lebih dari 20% lulusan muda setiap tahunnya.
Yang tidak kalah penting adalah standardisasi kompetensi sesuai ASEAN Mutual Recognition Arrangement on Tourism Professionals (MRA-TP). Ini akan memungkinkan SDM pariwisata Indonesia untuk bersaing di pasar tenaga kerja ASEAN yang lebih luas. Program sertifikasi profesional juga perlu diperkuat dan dijadikan syarat wajib untuk posisi-posisi kunci di industri pariwisata.
Dalam jangka panjang, Indonesia perlu mengembangkan pusat-pusat keunggulan (center of excellence) untuk pendidikan pariwisata yang tersebar di berbagai wilayah, tidak hanya terkonsentrasi di Jawa dan Bali. Ini akan membantu pemerataan kualitas SDM pariwisata dan mendukung pengembangan destinasi wisata baru di seluruh nusantara.
Dengan implementasi strategi-strategi di atas, diharapkan daya saing SDM pariwisata Indonesia dapat meningkat secara signifikan dalam 5-10 tahun ke depan. Namun, kesuksesan ini membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, industri, dan institusi pendidikan, serta dukungan penuh dari semua pemangku kepentingan dalam ekosistem pariwisata nasional.
*) Penulisan adalah Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia / Dosen Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti
