Desa Wisata: Mengoptimalkan Keunggulan Kompetitif

Prestasi yang diraih desa Jatiluwih di Bali dan Wukirsari di Yogyakarta dalam ajang "Best Tourism Villages 2024" dari UN Tourism merupakan pencapaian yang membanggakan sekaligus membuka mata kita tentang potensi besar yang dimiliki desa-desa wisata di Indonesia.

Muhammad Rahmad

11/22/20242 min read

Prestasi yang diraih desa Jatiluwih di Bali dan Wukirsari di Yogyakarta dalam ajang "Best Tourism Villages 2024" dari UN Tourism merupakan pencapaian yang membanggakan sekaligus membuka mata kita tentang potensi besar yang dimiliki desa-desa wisata di Indonesia. Dari 260 aplikasi yang berasal dari 60 negara anggota UN Tourism, dua desa dari Indonesia berhasil terpilih berdasarkan sembilan kriteria evaluasi yang ketat, mencakup sumber daya budaya dan alam, keberlanjutan ekonomi, sosial dan lingkungan, serta tata kelola pariwisata.

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, hingga tahun 2023, Indonesia memiliki lebih dari 3.000 desa wisata yang tersebar di seluruh nusantara. Jumlah ini meningkat signifikan dari tahun 2014 yang hanya mencapai 1.300 desa wisata. Pertumbuhan ini sejalan dengan kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB nasional yang mencapai 4,3% pada tahun 2023, dengan proyeksi pertumbuhan mencapai 5,2% pada tahun 2024 menurut data World Travel & Tourism Council (WTTC).

Mengacu pada teori Competitive Advantage yang dikemukakan Michael Porter, desa-desa wisata Indonesia memiliki keunggulan kompetitif yang unik. Menurut data UNESCO, Indonesia memiliki 9 situs warisan dunia budaya dan 4 warisan dunia alam, ditambah dengan 7 warisan budaya tak benda yang telah diakui secara internasional. Kekayaan budaya ini menjadi aset yang tidak tergantikan dalam pengembangan desa wisata. Sebagai contoh, Desa Jatiluwih dengan sistem Subak-nya yang telah diakui UNESCO sebagai warisan dunia, menunjukkan bagaimana kearifan lokal dapat menjadi daya tarik wisata global.

Bank Indonesia mencatat bahwa sektor pariwisata desa berkontribusi signifikan terhadap devisa negara, dengan pemasukan sebesar US$ 4,1 miliar pada tahun 2023, meningkat 15% dari tahun sebelumnya. Data BPS menunjukkan bahwa desa wisata telah menyerap tenaga kerja sebanyak 13 juta orang, baik langsung maupun tidak langsung, dengan pertumbuhan rata-rata 7% per tahun dalam lima tahun terakhir.

Untuk mengoptimalkan dampak ekonomi, desa wisata perlu dikembangkan sebagai ekosistem ekonomi yang utuh. Menurut survei Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, desa wisata yang dikelola dengan baik dapat meningkatkan pendapatan asli desa hingga 300% dalam kurun waktu tiga tahun. Di Desa Wukirsari, misalnya, industri batik dan kerajinan kulit telah menciptakan lebih dari 2.000 lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan rata-rata rumah tangga sebesar 45% sejak 2020.

Era digital membawa peluang baru yang harus dimanfaatkan secara optimal. Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika, penetrasi internet di desa wisata telah mencapai 82% pada tahun 2023. Google Travel Insights melaporkan bahwa pencarian daring untuk destinasi wisata desa di Indonesia meningkat 156% pada tahun 2023 dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan potensi besar pemasaran digital untuk desa wisata.

Implementasi strategi pengembangan desa wisata membutuhkan investasi yang tidak kecil. Menurut data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dibutuhkan investasi rata-rata Rp 2-5 miliar per desa untuk mengembangkan infrastruktur dasar pariwisata. Namun, return on investment bisa mencapai 200-300% dalam waktu 3-5 tahun jika dikelola dengan baik.

Yang tidak kalah penting, pengembangan desa wisata harus tetap memegang teguh prinsip keberlanjutan. Data dari UN World Tourism Organization menunjukkan bahwa 73% wisatawan global lebih memilih destinasi yang menerapkan praktik pariwisata berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan tren global dimana pertumbuhan wisata berkelanjutan mencapai 10% per tahun, jauh di atas pertumbuhan pariwisata konvensional yang hanya 4%.

Prestasi Jatiluwih dan Wukirsari harus menjadi momentum untuk mengakselerasi pengembangan desa wisata di seluruh Indonesia. Data Kementerian Pariwisata menunjukkan bahwa desa wisata yang mendapat penghargaan internasional mengalami peningkatan kunjungan wisatawan hingga 200% dalam dua tahun setelah penghargaan. Hal ini membuktikan bahwa pengakuan internasional dapat menjadi katalis pertumbuhan ekonomi lokal.

Dengan potensi pasar wisata global yang diproyeksikan mencapai US$ 8,8 triliun pada tahun 2024 menurut WTTC, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengoptimalkan peran desa wisata dalam perekonomian nasional. Melalui implementasi strategi yang tepat dan dukungan semua pemangku kepentingan, desa wisata dapat menjadi penggerak ekonomi yang signifikan sekaligus menjaga kelestarian budaya dan lingkungan untuk generasi mendatang.

*) Penulisan adalah Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia / Dosen Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti