Dies ke-55 IP Trisakti: Refleksi dan Tantangan Pariwisata Kita
Institut Pariwisata Trisakti (IPT) genap berusia 55 tahun (2 Juni 1969-2 Juni 2024). Ini adalah sebuah perjalanan panjang dalam berkontribusi memajukan pendidikan pariwisata di Indonesia.
Muhammad Rahmad
6/2/20242 min read


Institut Pariwisata Trisakti (IPT) genap berusia 55 tahun (2 Juni 1969-2 Juni 2024). Ini adalah sebuah perjalanan panjang dalam berkontribusi memajukan pendidikan pariwisata di Indonesia. Dies Natalis ke-55 tentu saja menjadi momen penting bagi IPT. Momen untuk introspeksi sekaligus membangun proyeksi ke depan, terutama dalam menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas 2045, di mana pariwisata diharapkan menjadi salah satu pilar utama perekonomian nasional.
Selama lebih dari lima dekade, IPT telah menorehkan prestasi dan kontribusi signifikan dalam melahirkan sumber daya manusia (SDM) pariwisata yang kompeten. Melalui program pendidikan yang relevan dengan kebutuhan industri, IPT berupaya membekali lulusannya dengan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang dibutuhkan untuk sukses di sektor pariwisata.
Namun, menuju Indonesia Emas 2045, tantangan yang dihadapi semakin kompleks. Perkembangan teknologi yang pesat, pergeseran tren pariwisata global, serta tuntutan akan pariwisata berkelanjutan mengharuskan IPT untuk beradaptasi dan berinovasi. Kurikulum pendidikan perlu terus diperbarui agar sejalan dengan dinamika industri, serta membekali mahasiswa dengan kompetensi yang relevan, seperti keterampilan digital, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis.
Selain itu, IPT juga perlu memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Kerja sama dengan industri pariwisata, baik skala nasional maupun internasional, sangat penting untuk memberikan pengalaman praktis bagi mahasiswa serta memastikan link and match antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Kolaborasi dengan pemerintah juga diperlukan untuk bersinergi dalam pengembangan kebijakan dan strategi pariwisata nasional.
Menuju Indonesia Emas 2045, IPT juga perlu berkontribusi dalam penelitian dan inovasi di bidang pariwisata. Pengembangan pariwisata berbasis riset, penciptaan model-model pariwisata berkelanjutan, serta penerapan teknologi dalam industri pariwisata menjadi area yang perlu dieksplorasi. IPT harus menjadi think tank yang produktif dalam menghasilkan gagasan dan solusi inovatif untuk memajukan pariwisata Indonesia.
Dalam menghadapi tantangan ke depan, IPT perlu terus menguatkan fondasi organisasinya. Peningkatan kualitas dosen, pengembangan fasilitas pembelajaran yang modern, serta penguatan jaringan alumni menjadi kunci untuk memperkokoh posisi IPT sebagai institusi pendidikan pariwisata terkemuka. Semangat lifelong learning juga perlu ditanamkan kepada seluruh civitas akademika agar terus berkembang dan adaptif terhadap perubahan.
Dies Natalis ke-55 menjadi momentum bagi IPT untuk meneguhkan komitmennya dalam membangun SDM pariwisata Indonesia yang unggul dan siap menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas 2045. Dengan semangat inovasi, kolaborasi, dan dedikasi, IPT akan terus berperan aktif dalam mewujudkan visi Indonesia sebagai destinasi pariwisata berkelas dunia yang berkelanjutan dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
Perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 masih panjang, namun dengan fondasi yang kuat, semangat yang tak terpadamkan, serta sinergi dari seluruh pemangku kepentingan, IPT optimis dapat memberikan kontribusi nyata dalam memajukan pariwisata Indonesia. Melalui pendidikan yang berkualitas dan relevan, IPT akan terus melahirkan SDM pariwisata yang menjadi agen perubahan dan motor penggerak kemajuan industri pariwisata nasional.***
*) Penulisan adalah Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia / Dosen Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti
