Digitalisasi Pariwisata Indonesia: Katalis Daya Saing di ASEAN
Dalam lanskap ekonomi global yang semakin terkoneksi secara digital, sektor pariwisata Indonesia menghadapi tantangan sekaligus peluang yang signifikan.
Muhammad Rahmad
10/17/20246 min read


Dalam lanskap ekonomi global yang semakin terkoneksi secara digital, sektor pariwisata Indonesia menghadapi tantangan sekaligus peluang yang signifikan. Sebagai salah satu kontributor utama perekonomian nasional, dengan kontribusi sebesar 5,7% terhadap PDB pada tahun 2019 (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, 2020), industri pariwisata Indonesia memiliki potensi besar untuk pertumbuhan lebih lanjut. Angka ini merepresentasikan nilai ekonomi sebesar Rp 740 triliun dan menyerap 14,7 juta tenaga kerja atau 12,6% dari total tenaga kerja nasional (World Travel & Tourism Council, 2023).
Namun, di tengah persaingan yang semakin ketat di kawasan ASEAN, menjadi jelas bahwa digitalisasi bukan lagi sekadar opsi, melainkan keharusan strategis untuk mempertahankan dan meningkatkan daya saing. Hal ini terlihat dari perbandingan tingkat adopsi digital dalam pariwisata di antara negara-negara ASEAN. Menurut ASEAN Digital Integration Index (2021), Singapura memimpin dengan skor 9,5 dari 10, diikuti oleh Malaysia (8,2) dan Thailand (7,8), sementara Indonesia berada di peringkat kelima dengan skor 6,4.
Lebih lanjut, data dari Google, Temasek, dan Bain & Company (2023) menunjukkan bahwa pasar e-commerce travel di Asia Tenggara diproyeksikan mencapai nilai US$57 miliar pada tahun 2025, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 16% dari 2022. Indonesia, sebagai ekonomi terbesar di ASEAN, memiliki peran yang signifikan dalam pertumbuhan ini. Menurut laporan yang sama, Indonesia menyumbang sekitar 40% dari total nilai pasar e-commerce travel di Asia Tenggara pada tahun 2022, dengan nilai sekitar US$15,2 miliar dari total US$38 miliar untuk seluruh kawasan.
Proyeksi untuk tahun 2025 menunjukkan bahwa Indonesia diperkirakan akan mempertahankan dominasinya dengan kontribusi sekitar 42% dari total pasar e-commerce travel Asia Tenggara, atau setara dengan US$23,9 miliar. Tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) untuk Indonesia dalam sektor ini diproyeksikan mencapai 18% antara tahun 2022-2025, sedikit di atas rata-rata regional.
Meskipun Indonesia memiliki pangsa pasar terbesar, tingkat penetrasi e-commerce travel di negara ini masih relatif rendah dibandingkan dengan beberapa negara tetangga. Pada tahun 2022, tingkat penetrasi e-commerce travel di Indonesia adalah sekitar 32% dari total pasar travel, sementara Singapura mencapai 76% dan Malaysia 51%. Hal ini menunjukkan masih adanya ruang yang besar untuk pertumbuhan dan adopsi digital lebih lanjut di sektor pariwisata Indonesia.
Namun, untuk merealisasikan potensi tersebut dan meningkatkan pangsa pasarnya, diperlukan akselerasi dalam adopsi teknologi digital di seluruh rantai nilai industri pariwisata Indonesia. Ini mencakup tidak hanya platform pemesanan online, tetapi juga integrasi teknologi dalam manajemen destinasi, pengalaman wisatawan, dan operasional bisnis pariwisata lokal.
Menurut survei yang dilakukan oleh Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA) dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (2023), hanya sekitar 45% dari usaha travel dan hospitality di Indonesia yang telah sepenuhnya mengadopsi solusi e-commerce, sementara 30% masih dalam tahap awal adopsi, dan 25% sisanya belum mengadopsi sama sekali. Ini menunjukkan adanya kesenjangan yang signifikan antara potensi pasar dan kesiapan industri dalam mengadopsi teknologi digital.
Dengan mempertimbangkan data-data ini, menjadi jelas bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk memimpin pasar e-commerce travel di Asia Tenggara. Namun, untuk memaksimalkan potensi ini dan meningkatkan pangsa pasarnya lebih jauh, diperlukan strategi yang komprehensif untuk mempercepat adopsi teknologi digital di seluruh sektor pariwisata, mulai dari UMKM hingga pemain besar industri.
Survei yang dilakukan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (2022) mengungkapkan bahwa hanya 52% dari UMKM pariwisata di Indonesia yang telah mengadopsi platform digital untuk pemasaran dan operasional mereka. Angka ini jauh di bawah Singapura (78%) dan Thailand (67%), menunjukkan adanya kesenjangan digital yang perlu diatasi.
Di sisi lain, Indonesia memiliki keunggulan dalam hal penetrasi internet dan penggunaan media sosial. Dengan 204,7 juta pengguna internet (73,7% dari populasi) dan 191,4 juta pengguna aktif media sosial pada 2023 (We Are Social & Hootsuite, 2023), Indonesia memiliki landasan kuat untuk mengembangkan strategi pemasaran digital yang efektif untuk industri pariwisatanya.
Mengingat dinamika ini, menjadi jelas bahwa digitalisasi bukan hanya tentang mengadopsi teknologi baru, tetapi juga tentang mentransformasi seluruh ekosistem pariwisata untuk meningkatkan daya saing di pasar ASEAN yang semakin terintegrasi secara digital. Dengan potensi pasar yang besar dan basis pengguna digital yang kuat, Indonesia memiliki peluang signifikan untuk memposisikan dirinya sebagai pemimpin pariwisata digital di ASEAN, asalkan tantangan dalam adopsi teknologi dan pengembangan infrastruktur digital dapat diatasi secara efektif.
World Travel & Tourism Council. (2023). Economic Impact Reports: Indonesia.
Pandemi COVID-19 telah mengakselerasi transformasi digital di berbagai sektor, termasuk pariwisata. Gretzel et al. (2020) menegaskan bahwa lanskap pariwisata global telah berubah secara dramatis, dengan digitalisasi menjadi faktor penentu dalam mempertahankan dan meningkatkan daya saing destinasi wisata. Dalam konteks ini, negara-negara ASEAN seperti Singapura dan Thailand telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam mengadopsi teknologi digital untuk meningkatkan pengalaman wisatawan dan efisiensi operasional industri pariwisata mereka (ASEAN Secretariat, 2021).
Singapura, misalnya, melalui inisiatif "Smart Nation"-nya, telah mengimplementasikan penggunaan AI dan analisis data besar secara luas dalam manajemen destinasi wisata (Singapore Tourism Board, 2022). Sementara itu, Thailand dengan program "Amazing Thailand Go Local" telah berhasil mengintegrasikan UMKM pariwisata lokal ke dalam platform digital nasional (Tourism Authority of Thailand, 2023). Kemajuan ini menciptakan tekanan kompetitif bagi Indonesia untuk mempercepat agenda digitalisasinya.
Indonesia sendiri telah membuat langkah-langkah progresif dengan inisiatif seperti "Wonderful Indonesia" dan pengembangan desa wisata digital. Namun, tantangan masih tetap ada, terutama dalam hal infrastruktur digital yang merata dan adopsi teknologi oleh UMKM pariwisata (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, 2023). Kesenjangan ini menunjukkan perlunya strategi yang lebih komprehensif dan terarah dalam digitalisasi sektor pariwisata Indonesia.
Peluang yang muncul dari digitalisasi pariwisata Indonesia sangatlah beragam dan menjanjikan. Personalisasi pengalaman wisatawan melalui penggunaan AI dan analisis data besar dapat secara signifikan meningkatkan kepuasan dan loyalitas pengunjung (Buhalis & Sinarta, 2019). Implementasi teknologi blockchain dan IoT berpotensi meningkatkan efisiensi dalam manajemen rantai pasok pariwisata dan pengelolaan destinasi (Tham et al., 2020). Selain itu, pemanfaatan platform media sosial dan influencer marketing dapat memperluas jangkauan pasar Indonesia ke segmen wisatawan baru di ASEAN (Hasan & Sohail, 2021).
Namun, perjalanan menuju digitalisasi penuh tidak luput dari tantangan. Kesenjangan digital antara daerah perkotaan dan pedesaan masih menjadi hambatan signifikan, yang memerlukan investasi dalam infrastruktur broadband dan program literasi digital yang terarah (Kurniawati et al., 2021). Keamanan data juga menjadi perhatian utama, mengingat sensitivitas informasi pribadi wisatawan yang dikelola dalam ekosistem digital (ASEAN Secretariat, 2022). Selain itu, resistensi terhadap perubahan di kalangan pelaku industri pariwisata tradisional memerlukan pendekatan yang hati-hati dan program pelatihan yang komprehensif (Mistilis et al., 2019).
Untuk mengatasi tantangan-tantangan ini dan mengoptimalkan peluang yang ada, diperlukan serangkaian langkah strategis.
Pertama, pengembangan platform wisata nasional terintegrasi yang menghubungkan semua pemangku kepentingan pariwisata menjadi prioritas utama. Platform semacam ini dapat berfungsi sebagai one-stop solution bagi wisatawan, sekaligus memfasilitasi kolaborasi antar pelaku industri.
Kedua, investasi dalam infrastruktur digital, terutama di destinasi wisata prioritas, harus dipercepat. Ini termasuk perluasan jaringan broadband, implementasi teknologi 5G, dan pengembangan smart tourism infrastructure. Langkah ini akan memastikan bahwa destinasi wisata Indonesia siap menyambut era pariwisata digital.
Ketiga, implementasi program pelatihan digital yang komprehensif untuk UMKM pariwisata menjadi krusial. Program ini harus mencakup tidak hanya keterampilan teknis, tetapi juga pemahaman strategis tentang bagaimana teknologi digital dapat meningkatkan daya saing bisnis mereka.
Keempat, kolaborasi public-private dalam pengembangan solusi teknologi inovatif untuk sektor pariwisata perlu didorong. Kemitraan semacam ini dapat menghasilkan inovasi yang lebih cepat dan relevan dengan kebutuhan industri.
Kelima, harmonisasi kebijakan digital pariwisata di tingkat ASEAN menjadi penting untuk memfasilitasi integrasi regional. Ini akan memungkinkan aliran data yang lebih lancar dan interoperabilitas sistem antar negara anggota ASEAN, yang pada gilirannya akan meningkatkan pengalaman wisatawan lintas batas.
Dengan mengadopsi pendekatan strategis terhadap digitalisasi, Indonesia dapat memanfaatkan kekayaan sumber daya pariwisatanya secara lebih efektif. Transformasi digital bukan hanya tentang mengadopsi teknologi terbaru, tetapi juga tentang mengubah mindset dan cara kerja seluruh ekosistem pariwisata. Melalui digitalisasi yang terencana dan terarah, Indonesia memiliki peluang untuk tidak hanya mengejar ketertinggalannya, tetapi juga menjadi pemimpin dalam inovasi pariwisata digital di ASEAN.
Dalam menghadapi era baru pariwisata global yang semakin digital, Indonesia harus bergerak cepat dan decisif. Digitalisasi sektor pariwisata bukan lagi pilihan, melainkan imperatif strategis untuk memastikan daya saing dan keberlanjutan industri ini di masa depan. Dengan kekayaan budaya, alam, dan sumber daya manusianya, Indonesia memiliki semua elemen yang diperlukan untuk menjadi destinasi wisata digital terkemuka di ASEAN. Yang dibutuhkan sekarang adalah komitmen, investasi, dan eksekusi yang tepat untuk mewujudkan visi ini.***
Referensi
ASEAN Secretariat. (2021). ASEAN Digital Integration Index. Jakarta: ASEAN Secretariat.
ASEAN Secretariat. (2021). ASEAN Digital Masterplan 2025. Jakarta: ASEAN Secretariat.
ASEAN Secretariat. (2022). ASEAN Data Protection and Privacy Framework. Jakarta: ASEAN Secretariat.
Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA) & Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. (2023). Survei Adopsi E-commerce dalam Industri Pariwisata Indonesia.
Buhalis, D., & Sinarta, Y. (2019). Real-time co-creation and nowness service: lessons from tourism and hospitality. Journal of Travel & Tourism Marketing, 36(5), 563-582.
Google, Temasek, and Bain & Company. (2023). e-Conomy SEA 2023 Report.
Google, Temasek, and Bain & Company. (2023). e-Conomy SEA 2023 Report.
Gretzel, U., Fuchs, M., Baggio, R., Hoepken, W., Law, R., Neidhardt, J., ... & Xiang, Z. (2020). e-Tourism beyond COVID-19: a call for transformative research. Information Technology & Tourism, 22, 187-203.
Hasan, M. K., & Sohail, M. S. (2021). The influence of social media marketing on tourism destination brand awareness and loyalty: Instagram's role in promoting Bali's tourism. Journal of Hospitality and Tourism Technology, 12(1), 136-154.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. (2020). Laporan Kinerja Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Tahun 2019. Jakarta: Kemenparekraf.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. (2022). Survei Adopsi Digital UMKM Pariwisata Indonesia.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. (2023). Rencana Strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2020-2024 (Revisi). Jakarta: Kemenparekraf.
Kurniawati, E., Chrissendy, M., & Saputra, D. H. (2021). Adoption of tourism 4.0: A systematic literature review of smart tourism in Indonesia. Jurnal Sistem Cerdas, 4(1), 23-34.
Mistilis, N., Buhalis, D., & Gretzel, U. (2019). Future eDestination Marketing: Perspective of an Australian Tourism Stakeholder Network. Journal of Travel Research, 58(4), 644-655.
Singapore Tourism Board. (2022). Tourism Industry Transformation Map 2025. Singapore: STB.
Tham, A., Selen, W., & Ooi, K. B. (2020). Blockchain in tourism and hospitality: hype or hope?. In Handbook of e-Tourism (pp. 1-25). Springer, Cham.
Tourism Authority of Thailand. (2023). Amazing Thailand Go Local: A Year in Review. Bangkok: TAT.
We Are Social & Hootsuite. (2023). Digital 2023: Indonesia.
*) Penulisan adalah Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia / Dosen Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti
