Dilema Pariwisata Indonesia: Belajar dari “Bencana” Turki
(Jakarta) Indonesia, negara dengan kekayaan alam dan budaya yang luar biasa, sedang menghadapi tantangan serius dalam industri pariwisata.
Muhammad Rahmad
7/25/20242 min read


(Jakarta) Indonesia, negara dengan kekayaan alam dan budaya yang luar biasa, sedang menghadapi tantangan serius dalam industri pariwisata. Tren warga Indonesia yang memilih untuk berlibur ke negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand makin meningkat, daripada menjelajahi keindahan tanah air mereka sendiri. Jumlah kunjungan warga Indonesia pasca covid-19 ke Thailand dari 100 ribuan tahun 2021, naik menjadi 2 jutaan tahun 2023. Begitu pula jumlah warga Indonesia ke Malaysia dari 200 ribuan tahun 2021, naik menjadi 3 jutaan tahun 2023. Fenomena ini mengingatkan kita pada situasi yang sedang dialami Turki, di mana wisatawan domestik mereka berbondong-bondong ke Yunani mencari liburan yang lebih terjangkau.
Turki, yang terkenal dengan sektor pariwisata yang kuat, kini menghadapi krisis akibat inflasi yang melonjak tajam. Menurut laporan terbaru, inflasi Turki mencapai 75,4% pada Mei 2024, menyebabkan kenaikan drastis harga hotel, restoran, dan biaya masuk ke situs wisata. Akibatnya, wisatawan domestik Turki kini lebih memilih berwisata ke Yunani, yang menawarkan pengalaman serupa dengan biaya lebih terjangkau.
Kıvanç Meriç, pejabat dari Asosiasi Agen Perjalanan Turki (TÜRSAB), mengungkapkan bahwa hotel-hotel di Turki kini beruntung jika tingkat okupansinya mencapai 80%, jauh di bawah tingkat normal 90-95% di musim liburan. Sementara itu, pulau-pulau Yunani seperti Samos dan Lesbos mengalami lonjakan kunjungan wisatawan Turki hingga tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Meskipun Indonesia belum mengalami tingkat inflasi setinggi Turki, tren wisatawan Indonesia yang memilih Malaysia dan Thailand sebagai tujuan liburan menunjukkan adanya kesamaan pola yang mengkhawatirkan. Beberapa faktor pendorong tren ini antara lain harga yang kompetitif, infrastruktur yang unggul, kemudahan akses, kualitas layanan yang tinggi, dan variasi pengalaman yang ditawarkan oleh kedua negara tetangga tersebut lebih menarik dari yang ditawarkan didalam negeri Indonesia sendiri. Belum lagi, harga tiket penerbangan domestik Indonesia yang jauh lebih mahal daripada terbang ke Malaysia dan Thailand. Harga rata-rata tiket pesawat PP Jakarta-Denpasar (Bali) berkisar 2,2 juta rupiah, sementara harga rata-rata tiket pesawat PP Jakarta-Kuala Lumpur (Malaysia) hanya 1,1 juta rupiah. Adapun harga rata-rata tiket pesawat PP Jakarta-Bangkok (Thailand) hanya 1,9 juta rupiah.
Untuk mencegah terjadinya situasi seperti di Turki, Indonesia perlu mengambil langkah-langkah strategis. Pengendalian inflasi menjadi kunci untuk menjaga stabilitas harga di sektor pariwisata. Kebijakan harga yang kompetitif (khususnya harga tiket pesawat domestik) perlu dirumuskan melalui kerjasama antara pemerintah dan pelaku industri, terutama untuk menarik wisatawan domestik. Selain itu, fokus pada pengembangan pariwisata berkelanjutan yang ramah lingkungan dan memberikan manfaat bagi masyarakat lokal juga penting untuk menciptakan daya tarik jangka panjang.
Situasi di Turki menjadi peringatan keras bagi Indonesia. Meskipun Indonesia memiliki kekayaan destinasi wisata yang luar biasa, tanpa strategi yang tepat, negara ini berisiko kehilangan wisatawan domestiknya ke negara tetangga. Dengan mengambil langkah-langkah proaktif dan belajar dari pengalaman Turki, Indonesia memiliki kesempatan untuk memperkuat industri pariwisatanya, menarik kembali minat wisatawan domestik, dan bahkan meningkatkan daya tariknya bagi wisatawan internasional.
Tantangan ini juga merupakan kesempatan bagi Indonesia untuk mengevaluasi dan meningkatkan kualitas sektor pariwisatanya secara keseluruhan. Dengan pendekatan yang tepat, Indonesia tidak hanya dapat menghindari nasib seperti Turki, tetapi juga dapat memposisikan diri sebagai destinasi wisata unggulan di kancah global.***
*) Penulisan adalah Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia / Dosen Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti
