Eggi Sudjana dalam Bingkai High-Context Communication Theory

Bagi sebagian kalangan, sikap Eggi dianggap setengah hati, tidak tuntas, atau bahkan tidak tulus. Bagaimana mungkin seseorang yang pernah begitu keras menuduh bisa dianggap telah berdamai tanpa mengucapkan sepatah kata maaf pun?

Muhammad Rahmad

1/18/20265 min read

Darmizal, Eggi Sudjana, Muhammad Rahmad
Darmizal, Eggi Sudjana, Muhammad Rahmad

Dari kanan ke kiri : Muhammad Rahmad, Eggi Sudjana, Darmizal (Foto Koleksi Pribadi)

Kamis (8/1/2026), lima orang duduk dalam sebuah pertemuan tertutup bersama Bapak Jokowi di kediaman Presiden ketujuh Republik Indonesia, Bapak Jokowi, di Solo. Pertemuan yang difasilitasi oleh Darmizal dan Muhammad Rahmad dari Relawan Jokowi (ReJO) tersebut mempertemukan Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis didampingi pengacaranya, Elida Netty. Di sisi lain, Bapak Jokowi yang didampingi Darmizal dan Muhammad Rahmad.

Pertemuan berlangsung tanpa sorotan kamera. Tidak ada siaran langsung, tidak ada pernyataan resmi yang disiapkan untuk konsumsi publik. Justru dalam keheningan itulah sebuah momen silaturahmi terjadi—dengan cara yang sangat khas Indonesia.

Damai Hari Lubis, dalam pertemuan tersebut, menyampaikan permohonan maaf secara eksplisit kepada Jokowi atas tuduhan yang pernah dilontarkannya. Damai Hari Lubis memilih kata “Kami” dalam penyampaiannya. Kata "maaf" terucap jelas dari mulutnya. Namun, Eggi Sudjana memilih jalan berbeda. Ia tidak mengucapkan kata maaf. Sebagai gantinya, ia mendoakan Jokowi, memuji kepemimpinan dan sikap kenegarawannya, dan menyatakan kesiapan untuk mendukung langkah-langkah Jokowi ke depan.

Bagi sebagian kalangan, sikap Eggi ini dianggap setengah hati, tidak tuntas, atau bahkan tidak tulus. Bagaimana mungkin seseorang yang pernah begitu keras menuduh bisa dianggap telah berdamai tanpa mengucapkan sepatah kata maaf pun? Bukankah rekonsiliasi menuntut pengakuan kesalahan yang tegas dan verbal?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini wajar muncul jika kita menggunakan kacamata komunikasi Barat. Namun, jika kita membaca peristiwa ini melalui lensa High-Context Communication Theory yang dikembangkan oleh antropolog Edward T. Hall (1976), sikap Eggi justru dapat dipahami sebagai bentuk komunikasi rekonsiliasi yang sangat khas Indonesia—lebih bermakna dan lebih tinggi nilainya dibanding permintaan maaf verbal.

Komunikasi: Konteks Rendah dan Konteks Tinggi

Edward T. Hall, dalam karyanya yang berpengaruh berjudul Beyond Culture, membagi budaya komunikasi dunia ke dalam dua kategori besar: budaya konteks rendah (low-context culture) dan budaya konteks tinggi (high-context culture).

Dalam budaya konteks rendah yang dominan di negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, Jerman, dan negara-negara Skandinavia, pesan dikomunikasikan secara eksplisit, langsung, dan verbal. Kata-kata membawa makna utama. Jika seseorang ingin meminta maaf, ia harus mengucapkan "I'm sorry" atau "I apologize" dengan jelas dan tegas. Tanpa verbalisasi eksplisit semacam itu, pesan dianggap tidak tersampaikan. Komunikasi dianggap baik apabila lugas, tanpa basa-basi, tanpa perlu menebak-nebak maksud lawan bicara.

Dunia komunikasi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, berjalan dengan logika yang berbeda. Dalam budaya konteks tinggi yang prevalens di kawasan ini, juga di Jepang, Tiongkok, dan Timur Tengah, pesan tidak semata-mata disampaikan melalui kata-kata. Justru konteks, gestur, tindakan simbolis, hubungan relasional, dan isyarat non-verbal memainkan peran yang sama penting—bahkan lebih penting. Kata-kata hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan makna yang ingin dikomunikasikan. Yang tidak diucapkan justru lebih bermakna daripada yang diucapkan.

Hall menegaskan bahwa dalam budaya konteks tinggi, tindakan adalah lebih tinggi daripada kata-kata. Kehadiran fisik seseorang, gestur penghormatan yang ditunjukkannya, dan perilaku simbolis yang dipilihnya membawa bobot komunikatif yang tinggi—bahkan lebih kuat—dibanding pernyataan verbal eksplisit.

Empat Gestur Eggi: Membaca yang Tak Terucap

Jika kita menerapkan kerangka teori Hall pada pertemuan di kediaman Jokowi tersebut, maka setiap tindakan Eggi Sudjana dapat dibaca sebagai pesan rekonsiliasi yang kaya makna. Mari kita telaah satu per satu.

Pertama, kunjungan ke kediaman pribadi. Dalam budaya Indonesia, berkunjung ke rumah seseorang—apalagi tokoh yang pernah berkonflik dengan kita—adalah tindakan yang sarat makna. Ini bukan sekadar formalitas atau basa-basi. Ketika Eggi bersedia datang ke rumah Jokowi di Solo, ia sebenarnya sedang menyampaikan beberapa pesan sekaligus: bahwa ia mengakui kedudukan dan kehormatan Jokowi sebagai tuan rumah, bahwa ia bersedia "merendahkan diri" dengan mendatangi alih-alih menunggu didatangi, dan bahwa niatnya untuk membangun kembali hubungan cukup kuat hingga ia rela menempuh perjalanan untuk itu. Dalam konteks budaya Jawa yang sangat memperhatikan hierarki dan tata krama, siapa yang datang dan siapa yang didatangi membawa pesan relasional yang sangat kuat.

Kedua, doa untuk Jokowi. Dalam masyarakat Indonesia yang religius, doa adalah ekspresi tertinggi dari niat baik. Ketika Eggi mendoakan Jokowi, ia sedang mengkomunikasikan bahwa tidak ada lagi permusuhan di hatinya, bahwa ia menginginkan kebaikan bagi orang yang pernah diserangnya, dan bahwa hubungan spiritual di antara mereka telah dipulihkan. Dalam budaya konteks tinggi, doa untuk seseorang adalah bentuk rekonsiliasi yang lebih dalam daripada sekadar kata "maaf"—karena doa menyentuh dimensi spiritual dan menunjukkan transformasi hati yang genuine. Orang bisa saja mengucapkan maaf dengan mulut sementara hatinya masih menyimpan dendam. Tetapi mendoakan kebaikan untuk seseorang menuntut ketulusan yang lebih substansial.

Ketiga, pujian kepada Jokowi. Pujian dari seseorang yang pernah menjadi kritikus keras adalah pengakuan implisit atas kesalahan posisi sebelumnya. Eggi tidak perlu mengatakan "saya salah menuduh" karena pujiannya sudah mengkomunikasikan hal itu dengan cukup jelas. Dengan memuji Jokowi, Eggi menunjukkan bahwa ia kini melihat Jokowi dalam perspektif yang berbeda dan lebih positif, bahwa tuduhan masa lalu tidak lagi relevan dalam pandangannya, dan bahwa ia bersedia mengubah narasi publiknya tentang Jokowi. Bagi mereka yang memahami komunikasi konteks tinggi, transformasi sikap ini sudah merupakan bentuk koreksi yang bermakna.

Keempat, pernyataan dukungan. Komitmen untuk mendukung di masa depan adalah orientasi temporal ke depan yang sangat penting dalam rekonsiliasi ala Indonesia. Alih-alih terus berkutat dengan masa lalu—siapa yang salah, siapa yang benar—Eggi memilih untuk fokus pada apa yang bisa dibangun bersama ke depan. Pernyataan dukungan ini menunjukkan keinginannya untuk membangun hubungan baru, kesediaannya untuk berkontribusi positif, dan tekadnya untuk menutup konflik masa lalu sambil membuka lembaran baru.

Mengapa Kata Maaf Tidak Selalu Menjadi Keharusan?

Dalam perspektif Hall, masyarakat dengan budaya konteks tinggi memiliki repertoar komunikatif yang lebih luas untuk menyampaikan rekonsiliasi. Permintaan maaf verbal eksplisit memang salah satu caranya, tetapi bukan satu-satunya—dan dalam beberapa situasi, bahkan bukan yang paling efektif.

Ada beberapa alasan mengapa komunikasi konteks tinggi seperti yang dilakukan Eggi bisa sama validnya, bahkan lebih bermakna, dibanding permintaan maaf verbal.

Dalam budaya Indonesia, kata-kata bisa terasa "murah" jika tidak diikuti tindakan nyata. Kita semua pernah mendengar permintaan maaf yang terasa hampa, yang diucapkan sekadar untuk memenuhi ekspektasi sosial tanpa ada perubahan sikap yang menyertainya. Sebaliknya, tindakan simbolis seperti yang dilakukan Eggi lebih "mahal" karena membutuhkan pengorbanan nyata—waktu, energi, dan kerendahan hati untuk berkunjung ke rumah orang yang pernah diserangnya.

Selain itu, permintaan maaf eksplisit dalam konteks publik bisa menciptakan ketidakseimbangan relasional yang justru menghambat rekonsiliasi. Jika Eggi meminta maaf secara dramatis dan verbal, Jokowi seolah-olah "dipaksa" untuk merespons—apakah ia akan memaafkan atau tidak. Dinamika semacam ini bisa terasa canggung dan membebani kedua belah pihak. Dengan pendekatan konteks tinggi, rekonsiliasi terjadi secara organik tanpa perlu mempermalukan pihak manapun.

Budaya Indonesia juga mengenal konsep "sudahlah" atau "yang lalu biarlah berlalu"—di mana rekonsiliasi dicapai bukan dengan membongkar dan mengungkit-ungkit masa lalu secara verbal, tetapi dengan mendemonstrasikan perubahan sikap di masa kini. Pendekatan ini bukan berarti menghindari tanggung jawab, melainkan memilih untuk menunjukkan pertanggungjawaban melalui tindakan nyata alih-alih sekadar kata-kata.

Pelajaran bagi Pemahaman Komunikasi Politik Indonesia

Pertemuan di kediaman Jokowi tersebut memberikan pelajaran penting bahwa standar komunikasi Barat tidak bisa serta-merta diterapkan untuk menilai perilaku politik Indonesia. Jurnalis dan pengamat yang menuntut permintaan maaf eksplisit dari Eggi mungkin beroperasi dengan asumsi budaya konteks rendah—di mana rekonsiliasi harus diverbalisasikan agar dianggap sah dan lengkap. Namun, dalam konteks Indonesia yang berbudaya konteks tinggi, tindakan-tindakan simbolis Eggi sudah merupakan "teks" rekonsiliasi yang lengkap bagi mereka yang mampu membacanya.

Tentu saja, ini bukan berarti standar akuntabilitas harus diturunkan atau bahwa setiap orang bisa berlindung di balik "budaya" untuk menghindari tanggung jawab. Yang hendak disampaikan di sini adalah bahwa literasi komunikasi lintas budaya menuntut kita untuk memahami bahwa ada lebih dari satu cara untuk menyampaikan pesan yang sama—dan cara yang berbeda tidak berarti cara yang inferior atau tidak tulus.

Jokowi sendiri, sebagai orang Jawa yang tumbuh dalam budaya konteks tinggi yang sama, sangat memahami dengan baik apa yang sedang dikomunikasikan Eggi. Pertemuan tertutup selama kurang lebih satu jam itu, dengan segala gestur dan dinamika yang terjadi di dalamnya, sudah lebih dari cukup untuk mencapai rekonsiliasi yang bermakna bagi kedua belah pihak—terlepas dari apakah kata "maaf" terucap atau tidak.

High-Context Communication Theory dari Edward T. Hall memberikan kerangka yang berguna untuk memahami dinamika rekonsiliasi dalam budaya Indonesia. Pertemuan enam orang di kediaman Jokowi di Solo itu—dengan segala gestur simbolis berupa kunjungan, doa, pujian, dan komitmen dukungan—adalah contoh nyata bagaimana komunikasi konteks tinggi beroperasi dalam praktik sosial-politik Indonesia.

Apakah Eggi Sudjana "benar-benar" minta maaf? Dalam paradigma budaya konteks tinggi yang relevan dengan konteks Indonesia, tindakannya sudah berbicara dengan sangat jelas. Bagi Jokowi yang juga adalah produk budaya Jawa, pesan itu telah diterima dan dipahami dengan baik.

Pada akhirnya, rekonsiliasi bukan semata-mata tentang kata-kata yang "benar" atau formula verbal yang "lengkap". Rekonsiliasi adalah tentang makna yang berhasil dikomunikasikan dan diterima oleh kedua belah pihak. Pertemuan Solo tersebut telah mencapai tujuannya.

*) Penulis adalah penghubung pertemuan, Eks Staf Senior pada Kedutaan Besar Republik Indonesia, Alumni Lemhannas RI Angkatan XVII, Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia