Era Digital dan Peluang Emas BPW Indonesia
Indonesia melompat 10 peringkat dalam TTDI 2024 dan kini menempati posisi ke-2 ASEAN setelah Singapura. Di tengah disrupsi platform digital global, justru di sinilah peluang emas BPW Indonesia berada — sebagai integrator pengalaman wisata yang sulit ditiru, kunci memenangkan persaingan pariwisata kawasan.
Muhammad Rahmad - Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata & Ekonomi Indonesia
5/7/20264 min baca


Pada Mei 2024, sebuah laporan dari World Economic Forum membawa kabar yang seharusnya membuat kita bangga sebagai bangsa. Indonesia melompat sepuluh peringkat dalam Travel and Tourism Development Index, dari posisi ke-32 ke peringkat ke-22 dunia — lompatan terbesar di antara negara berkembang manapun. Di kawasan ASEAN, Indonesia bertengger di posisi kedua, hanya kalah dari Singapura. Skor 4,46 yang kita raih melampaui Malaysia, Thailand, dan Vietnam — tiga negara yang selama ini kita posisikan sebagai pesaing utama. Angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah pengakuan internasional bahwa Indonesia memiliki pondasi pariwisata yang sangat kuat: kekayaan budaya yang berlimpah, keanekaragaman alam yang menakjubkan, infrastruktur yang terus membaik, dan ekosistem usaha yang kian kokoh. Inilah modal utama yang harus kita rawat dan kembangkan menjadi keunggulan kompetitif yang nyata di kawasan.
Tentu, perjalanan kita masih panjang. Pada 2024, Indonesia menerima 13,9 juta wisatawan mancanegara dengan penerimaan USD 16,7 miliar. Negara tetangga menampilkan angka yang lebih besar, dan ini patut kita pelajari dengan saksama. Namun perspektif yang lebih tepat adalah ini: dari pondasi peringkat ke-2 ASEAN versi WEF, ada banyak ruang bagi Indonesia untuk tumbuh — dan kita sudah memiliki semua yang dibutuhkan untuk mewujudkannya. Yang kita perlukan bukan revolusi melainkan akselerasi terstruktur dari apa yang sudah kita kerjakan.
Vietnam adalah pelajaran yang menarik. Negara yang sepuluh tahun lalu masih di belakang Indonesia, kini menghasilkan USD 33 miliar dari sekitar 17,5 juta wisatawan. Apa yang mereka lakukan? Liberalisasi visa yang berani, transformasi digital yang konsisten, dan branding yang fokus. Kabar baiknya: semua langkah ini dapat kita tiru — bahkan kita lakukan dengan lebih baik, karena kita memiliki keragaman budaya dan alam yang jauh lebih kaya. Vietnam menunjukkan bahwa mungkin bagi sebuah negara ASEAN untuk melonjak dramatis dalam waktu singkat. Indonesia, dengan pondasi yang lebih kuat dan TTDI yang lebih tinggi, mestinya bisa bergerak lebih cepat lagi.
Langkah pertama yang dapat kita perdalam adalah membuka pintu lebih lebar bagi wisatawan dunia. Pemerintah telah memberikan visa kunjungan untuk lebih dari 169 negara. Kini saatnya kita ambil langkah berikutnya — visa-free 60 hari untuk Tiongkok hingga 2030, perpanjangan untuk India, dan penyederhanaan e-VOA bagi Australia, Korea Selatan, serta Uni Emirat Arab dengan biaya tunggal yang terjangkau dan proses 24 jam. Lebih jauh, gagasan ASEAN Single Tourist Visa — sebuah visa tunggal untuk seluruh kawasan, mirip Schengen di Eropa — patut kita inisiasi bersama Singapura, Malaysia, dan Thailand pada 2026. Bila terwujud, kawasan ini akan menjadi destinasi multi-negara yang lebih menarik dari sebelumnya, dan Indonesia dengan keragamannya akan menjadi simpul utama.
Pintu yang terbuka akan menjadi sia-sia bila tidak ditopang oleh layanan yang istimewa. Di sinilah peran Biro Perjalanan Wisata menjadi sentral. BPW Indonesia adalah simpul yang menghubungkan wisatawan dengan keseluruhan ekosistem pariwisata — transportasi, akomodasi, pemandu, kawasan wisata, hingga pengalaman tematik. Di tengah disrupsi platform digital global, BPW lokal memiliki keunggulan yang sulit ditiru: kemampuan menyusun pengalaman personal berbasis pemahaman mendalam terhadap budaya dan kebutuhan wisatawan. Dengan standar nasional proses bisnis BPW yang segera disusun, sistem akreditasi berbasis kapabilitas operasional dan digital, serta dukungan bagi BPW skala menengah untuk naik kelas, industri ini akan menjadi mesin penggerak daya saing nasional yang luar biasa.
Transformasi digital adalah pengungkit berikutnya. Riset terbaru menunjukkan bahwa adopsi teknologi pengalaman digital — augmented reality dan virtual reality — adalah faktor tunggal dengan dampak terbesar terhadap daya saing BPW. Wisatawan kontemporer ingin "mencicipi" destinasi sebelum membeli, ingin pengalaman imersif yang menyatu dengan tradisi lokal sebelum keputusan pemesanan dibuat. Dengan dana hibah Digital BPW Fund, infrastruktur digital pariwisata nasional yang terbuka, dan integrasi lebih lanjut aplikasi "All Indonesia" sebagai super-app pariwisata, BPW kita akan dapat bersaing setara dengan platform global. Bahkan, dengan kekayaan konten budaya yang kita miliki, BPW Indonesia berpotensi menciptakan kelas pengalaman digital yang baru sama sekali — kelas yang berpotensi menjadi tren pariwisata Asia di tahun-tahun mendatang.
Pekerjaan rumah berikutnya adalah membagi rezeki pariwisata secara lebih merata. Bali telah lama menjadi etalase utama pariwisata Indonesia, dan ia akan terus berperan demikian dengan baik. Namun lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas — Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang — semakin siap meraih panggung global. Setiap destinasi memiliki ceritanya sendiri yang khas: kebudayaan Batak yang mendalam di Toba, warisan dunia Borobudur yang spiritual, energi MotoGP Mandalika yang elektrik, kekayaan bawah laut Labuan Bajo yang memukau, hingga ketenangan Likupang yang menyegarkan. Bila promosi internasional difokuskan ke lima destinasi ini dengan dukungan penerbangan langsung dari kota-kota Asia kunci, dan dengan paket pengalaman tematik yang dirancang BPW lokal secara cermat, dalam tiga tahun ke depan kita akan melihat transformasi peta pariwisata Indonesia yang sungguh menakjubkan.
Yang mengikat semua ini adalah kolaborasi. Pengalaman negara-negara pariwisata kelas dunia selalu menunjukkan satu pola: keberhasilan berakar dari sinergi pemerintah, industri, akademisi, komunitas, dan media — pentahelix yang sering kita bicarakan, namun belum sepenuhnya kita lembagakan.
Indonesia berpotensi mencapai 18 juta wisatawan mancanegara dengan penerimaan USD 25 miliar pada 2027 — tumbuh 50 persen dalam tiga tahun. Indonesia berpeluang naik ke peringkat ke-18 dunia dalam Travel and Tourism Development Index. Angka-angka ini bukan mimpi muluk; ia adalah ekstrapolasi konservatif dari kapasitas yang sudah kita tunjukkan dalam lima tahun terakhir.
Visit Malaysia 2026 sebentar lagi dimulai. Vietnam menargetkan 23 juta wisatawan pada akhir tahun ini. Kompetisi kawasan semakin sengit, dan justru di sinilah peluang Indonesia berada. Karena di balik setiap kompetisi ketat selalu ada peluang bagi yang siap. Indonesia sudah membuktikan diri siap secara fundamental — peringkat ke-22 dunia dalam TTDI 2024 adalah saksinya. Sekarang yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengeksekusi langkah-langkah konkret, dan kepercayaan diri bahwa apa yang berhasil dilakukan tetangga kita dapat kita lakukan dengan lebih baik lagi.
Pariwisata bukan sekadar tentang devisa. Ia adalah jendela bagaimana dunia memandang sebuah bangsa, dan ia adalah panggung tempat budaya kita berbicara kepada peradaban global. Di tahun-tahun mendatang, dengan kerja kolektif yang sudah kita rintis bersama, dunia akan datang untuk menyaksikan Indonesia bukan sebagai pemain tengah ASEAN, melainkan sebagai destinasi pengalaman premium Asia Tenggara — yang dikenang bukan hanya karena Bali, melainkan karena keseluruhan keajaiban kepulauannya. Pondasi sudah berdiri kokoh. Saatnya kita melompat.
info@pusatkajianpariwisata.id
© 2023-2026 Pusat Kajian Pariwisata Indonesia. All Rights Reserved.
