Fenomena Pacu Jalur dan Tantangan Pariwisata
Rayyan Arkan Dikha, bocah 8 tahun asal Kuantan Singingi, tanpa disangka telah membuka lembaran baru dalam diskusi pariwisata budaya Indonesia.
Muhammad Rahmad
7/14/20252 min read


Rayyan Arkan Dikha, bocah 8 tahun asal Kuantan Singingi, tanpa disangka telah membuka lembaran baru dalam diskusi pariwisata budaya Indonesia. Aksi tariannya di ujung perahu pacu jalur yang viral di media sosial bukan sekadar hiburan sesaat, melainkan cermin dari potensi besar dan sekaligus kelemahan sistemik dalam pengelolaan pariwisata budaya di Indonesia.
Anatomi Fenomena Viral Tourism
Fenomena Dikha merepresentasikan evolusi baru dalam promosi pariwisata yang disebut "viral tourism" – sebuah mekanisme organik di mana konten budaya lokal memperoleh eksposur masif melalui algoritma media sosial. Berbeda dengan traditional tourism marketing yang memerlukan budget besar dan strategi terencana, viral tourism terjadi secara spontan namun berpotensi menciptakan dampak yang jauh lebih luas.
Dari perspektif destination branding, kasus pacu jalur menunjukkan bagaimana satu momen autentik dapat menggeser persepsi publik tentang sebuah daerah. Kuantan Singingi, yang sebelumnya relatif tidak dikenal dalam peta pariwisata nasional, tiba-tiba menjadi trending topic dan memicu curiosity geografis – "Kuansing di mana?"
Fenomena ini sejalan dengan teori experience economy yang dikemukakan Pine dan Gilmore, di mana wisatawan modern tidak lagi mencari sekadar destinasi, melainkan pengalaman yang memorable dan shareable. Tarian Dikha menawarkan kedua elemen tersebut: autentisitas budaya lokal dan spektakuler visual yang Instagram-worthy.
Kritik terhadap Respons Pemerintah: Missed Opportunity
Respons berbagai level pemerintah terhadap fenomena Dikha mengungkap disparitas pemahaman tentang potensi viral tourism. Sementara Gubernur Riau dan Kementerian Kebudayaan merespons dengan dukungan konkret berupa beasiswa dan pengangkatan sebagai duta pariwisata, Kementerian Pariwisata justru memberikan respons yang paling minim – sekadar "bingkisan" berupa topi dan baju.
Ironi ini mencerminkan kegagalan fundamental dalam memahami momentum pariwisata. Kementerian yang secara langsung bertanggung jawab atas pengembangan destinasi wisata justru gagal menangkap peluang emas untuk mengkapitalisasi fenomena viral ini menjadi sustainable tourism development.
Lebih problematis lagi, respons tersebut menunjukkan tidak adanya protokol atau mekanisme rapid response untuk fenomena viral tourism. Di era digital di mana viral moment dapat hilang dalam hitungan minggu, kelambatan dan ketidaktepatan respons dapat berarti hilangnya momentum yang mungkin tidak akan terulang lagi.
Bandingkan dengan negara seperti Thailand atau Korea Selatan yang memiliki tim khusus untuk mengidentifikasi dan mengkapitalisasi konten viral menjadi tourism campaign. Indonesia, dengan kekayaan budaya yang jauh lebih beragam, justru masih tertinggal dalam aspek ini.
Pembelajaran dari Kasus Serupa
Fenomena pacu jalur bukanlah yang pertama dalam konteks pariwisata viral Indonesia. Sebelumnya, kita menyaksikan berbagai momen viral seperti Kelimutu yang trending karena foto sunrise, atau Tumpak Sewu yang booming karena konten Instagram. Namun, kebanyakan fenomena tersebut tidak diikuti dengan strategi pengembangan destinasi yang komprehensif, sehingga menghasilkan overtourism tanpa benefit ekonomi yang optimal bagi masyarakat lokal.
Kasus Dikha memberikan peluang untuk memutus siklus tersebut. Pacu jalur sebagai tradisi budaya memiliki karakteristik yang berbeda dengan destinasi alam – ia dapat dikembangkan secara sustainable tanpa risiko kerusakan lingkungan, sekaligus memberikan nilai ekonomi langsung kepada komunitas lokal.
Visi Pariwisata Budaya Indonesia
Fenomena Dikha seharusnya menjadi wake-up call bagi stakeholder pariwisata Indonesia. Di era attention economy, negara yang mampu mengkapitalisasi viral moment dengan strategi yang tepat akan memenangkan kompetisi global tourism.
Indonesia memiliki 1.340 suku bangsa dengan keragaman budaya yang tak terhingga. Setiap daerah memiliki "Dikha" dan "pacu jalur" versinya masing-masing. Yang dibutuhkan adalah sistem yang mampu mengidentifikasi, mengembangkan, dan mempromosikan kekayaan tersebut secara strategis.
Momentum pacu jalur tidak boleh berakhir hanya dengan "bingkisan" dari kementerian. Ia harus menjadi blueprint untuk mengembangkan pariwisata budaya Indonesia yang autentik, berkelanjutan, dan memberikan kesejahteraan nyata bagi masyarakat lokal.
Jika dikelola dengan tepat, setiap fenomena viral dapat menjadi gateway untuk memperkenalkan Indonesia yang sesungguhnya kepada dunia – bukan hanya sebagai destinasi eksotis, melainkan sebagai peradaban dengan kekayaan budaya yang hidup dan dinamis. Dikha telah membuka pintu itu. Sekarang tugas kita untuk memastikan pintu tersebut mengarah pada masa depan pariwisata Indonesia yang lebih cerah.
# Tantangan Pariwisata
*) Penulisan adalah Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia / Dosen Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti
