Harta Karun Itu Bernama Desa

Gedung tinggi bisa dibangun di mana saja. Mal, taman hiburan, hotel mewah, semua bisa ditiru negara lain asal uangnya ada. Tapi ada satu hal yang tidak bisa ditiru.

OPINI

Redaksi

8/6/20263 min baca

Jakarta — Gedung tinggi bisa dibangun di mana saja. Mal, taman hiburan, hotel mewah, semua bisa ditiru negara lain asal uangnya ada. Tapi ada satu hal yang tidak bisa ditiru: pagi berkabut di atas sawah bertingkat, danau di kaki gunung berapi, kampung adat yang warganya masih hidup dengan tradisi leluhur. Pemandangan seperti itu hanya ada di desa-desa Indonesia.

Jumlahnya pun luar biasa. Indonesia punya tujuh belas ribu pulau dan puluhan ribu desa, dengan alam dan budaya yang diakui dunia sebagai salah satu yang terkaya. Tidak banyak negara yang diberi modal sebesar ini.

Harta itu belum banyak digarap. Hampir separuh wisatawan asing yang datang ke Indonesia baru berhenti di Bali. Kalau ditambah Jakarta dan Kepulauan Riau, tiga pintu itu menampung 76 persen dari seluruh kunjungan. Sisanya, ribuan desa indah di seluruh nusantara, baru jadi pemandangan dari jendela pesawat.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana melihat ketimpangan itu, sekaligus memastikan, disana terbuka peluang yang sangat cerah. Jawabannya: wisatawan harus dibawa masuk lebih banyak lagi untuk melihat keindahan desa-desa Indonesia.

Modalnya sudah tersedia. Lebih dari 6.200 desa wisata kini terdaftar dalam jejaring resmi Kementerian Pariwisata. Pasarnya juga besar. Dalam enam bulan pertama 2026 saja, orang Indonesia melakukan sekitar 630 juta perjalanan wisata di dalam negeri. Merekalah yang menjangkau pelosok-pelosok yang belum tersentuh turis asing.

Cara Widiyanti menggarapnya mirip sekolah berjenjang. Desa yang baru mulai, diajari dulu cara mengelola wisata. Yang sudah jalan, dibantu naik kelas lewat sertifikasi. Desa yang menonjol, diadu di ajang tahunan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI). Lomba ADWI pernah diikuti 4.573 desa. Yang terbaik dikirim bertanding ke tingkat dunia. Lima Desa Indonesia ditingkat dunia sudah menyandang gelar Best Tourism Villages by UN Tourism. Terbaru, Best Tourism Villages diraih Desa Pemuteran dari Buleleng, Bali (2025). Desa Pemuteran menang setelah bersaing dengan 270 kandidat dari 65 negara.

Di luar itu ada jalur "Upgrade Programme". Desa yang belum lolos jadi juara tetapi dinilai berpotensi, maka dibina langsung oleh UN Tourism. Kemiren (Banyuwangi) masuk jalur ini pada 2025. Kemiren menjadi satu dari 20 desa dunia yang diterima. Dengan demikian, total desa Indonesia yang masuk jaringan desa wisata terbaik dunia versi UN Tourism kini 6 desa: 5 juara + 1 program peningkatan.

Kemiren adalah desa adat suku Osing di Banyuwangi, Jawa Timur. Tahun lalu desa ini terpilih dalam program desa wisata terbaik dunia yang digelar badan pariwisata PBB, UN Tourism, menyisihkan ratusan desa dari 65 negara. Resepnya sederhana: alam dan budaya asli yang dirawat, lalu dikelola dengan serius. Kini warganya mengelola 50 penginapan dengan 92 kamar, sekitar 40 usaha kuliner dan kerajinan, dan menerima lebih dari tiga ribu wisatawan setiap tahun. Penghasilan warga yang terlibat naik sepertiga.

Widiyanti datang sendiri ke Kemiren pada 25 Juli lalu. Ia menonton pertunjukan budaya, mencicipi kopi olahan warga, dan mampir ke penginapan milik penduduk. Dukungan seperti ini, katanya saat itu, merupakan "bagian dari upaya penguatan pengembangan destinasi pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan berbasis budaya."

Hitungan ekonominya juga masuk. Usaha penginapan dan rumah makan tumbuh 10,6 persen pada triwulan kedua 2026, nyaris paling tinggi di antara semua bidang usaha. Usaha semacam ini tidak butuh modal besar atau ijazah tinggi. Siapa pun bisa mulai dari rumah sendiri. Itulah kenapa uang wisatawan yang masuk desa langsung terasa di dapur warga.

"Keindahan alam dan budaya desa adalah kekayaan yang tidak dimiliki banyak negara. Tugas kami mengubahnya menjadi kesejahteraan, supaya manfaat pariwisata tidak berhenti di kota-kota besar saja," ujar Widiyanti.

Tugas berikutnya adalah melahirkan Kemiren-Kemiren baru. Sasarannya kantong-kantong keindahan di luar Bali dan Jakarta, dari Danau Toba, Borobudur, Labuan Bajo, sampai Raja Ampat.

Arah yang jelas itu menarik dunia usaha untuk ikut turun tangan. Kamis (6/8), Widiyanti menerima kunjungan PT Astra International Tbk di kantornya. Astra sudah lama bekerja di desa. Sejak 2018 perusahaan itu mendampingi 1.515 desa dan kampung di 35 provinsi, menjangkau lebih dari 210 ribu warga. Kemiren termasuk desa dampingannya. Begitu juga Bugisan di Klaten, desa di kaki Candi Plaosan yang penghasilan usaha kecilnya naik 31 persen.

Kerja samanya saling mengisi. Pemerintah menentukan arah, standar, dan promosi. Perusahaan menyediakan pendamping dan biaya program. Negara tidak perlu keluar anggaran lebih, desa tetap dapat bimbingan.

Harta karun itu sudah lama ada, tersebar di puluhan ribu desa dari ujung barat sampai timur. Yang baru sekarang adalah petanya. Peta itu mulai digambar dengan jelas oleh Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana.

Email

info@pusatkajianpariwisata.id

© 2023-2026 Pusat Kajian Pariwisata & Ekonomi Indonesia. All Rights Reserved.