Hotel Indonesia Berkualitas Dunia

Pariwisata Indonesia mendapat kabar baik dari dunia. Sebanyak 47 hotel dan resor kita masuk daftar Michelin Keys 2026. Tahun lalu baru 33. Artinya bertambah empat belas hotel dalam setahun, atau tumbuh 42,4 persen.

OPINI

Muhammad Rahmad

9/24/20265 min baca

Pariwisata Indonesia mendapat kabar baik dari dunia. Sebanyak 47 hotel dan resor kita masuk daftar Michelin Keys 2026. Tahun lalu baru 33. Artinya bertambah empat belas hotel dalam setahun, atau tumbuh 42,4 persen.

Tiga di antaranya mendapat nilai tertinggi, yaitu Tiga Kunci. Nihi Sumba di Nusa Tenggara Timur, Amanjiwo di Magelang, dan Mandapa di Ubud. Dari semua kunci yang dibagikan di Asia Tenggara, seperempatnya kini ada di Indonesia.

Kita memang masih di urutan kedua. Tetapi pertumbuhan kita hampir tiga kali lebih cepat daripada negara yang ada di urutan pertama. Dengan laju seperti ini, jarak menuju posisi teratas hanya soal waktu.

Saya tidak ingin berlama-lama membahas peringkat. Ada yang jauh lebih penting. Mengapa penghargaan ini berarti bagi sebuah negara, dan apa untungnya bagi rakyat.

Zaman sekarang orang kebanjiran informasi, tetapi susah mencari yang bisa dipercaya. Ulasan di internet bisa dibeli. Banyak penghargaan yang pesertanya justru membayar supaya ikut dinilai.

Michelin bekerja sebaliknya. Penilainya datang diam-diam, menginap seperti tamu biasa, dan membayar sendiri tagihannya. Hotel tidak bisa mendaftar, tidak bisa melobi, dan tidak bisa membeli. Dari sekitar sembilan ribu hotel yang dinilai di seluruh dunia, hanya sedikit yang mendapat kunci.

Di situlah nilainya. Ini bukan pujian yang kita karang sendiri. Ini penilaian orang luar yang tidak punya urusan apa pun dengan kita. Bertahun-tahun bekerja di dunia diplomasi, saya belajar satu hal. Pujian yang datang sendiri selalu lebih bernilai daripada pujian yang kita minta.

Pengaruhnya langsung terasa. Wisatawan kelas atas yang sedang memilih tujuan liburan tidak perlu lagi mencari sampai berjam-jam. Satu tanda saja sudah cukup bagi mereka.

Setelah itu nama Indonesia berjalan sendiri, lewat jalur yang tidak bisa dibeli dengan uang promosi. Agen perjalanan mewah menyusun paket dari daftar itu. Media perjalanan dunia mengutipnya. Perusahaan besar memakainya saat mengatur perjalanan pimpinan mereka.

Yang menarik, Michelin tidak menilai kemewahan saja. Ada lima hal yang dilihat. Bagaimana bangunannya dirancang. Apakah serasi dengan alam sekitarnya. Apakah pelayanannya selalu terjaga. Apakah hotel itu punya ciri khas. Dan seberapa sungguh-sungguh ia menghadirkan suasana daerahnya.

Dua hal terakhir itu yang paling penting bagi kita. Hotel yang rasanya bisa berdiri di mana saja akan kalah oleh hotel yang hanya mungkin ada di satu tempat. Amanjiwo dinilai tinggi karena menghadap Borobudur. Nihi Sumba karena menghadirkan Sumba. Mandapa karena menyatu dengan sawah dan sungai Ubud.

Jadi yang sebenarnya dipuji dunia bukan kemewahan kita, melainkan keindonesiaan kita.

Karena penilaiannya menghargai kedekatan hotel dengan daerahnya, manfaatnya pun tidak berhenti di pagar hotel. Ini penting, sebab banyak orang bertanya. Kalau rakyat tidak mampu menginap di situ, apa gunanya?

Jawabannya ada pada ke mana uangnya mengalir, bukan pada siapa yang tidur di kamarnya.

Ambil contoh sebuah resor dengan tiga puluh kamar. Tarifnya sepuluh juta rupiah semalam dan kamarnya terisi enam puluh persen. Dalam setahun resor itu menjual sekitar 6.570 malam kamar, senilai kurang lebih Rp65 miliar. Ini hanya contoh hitungan, tetapi cukup untuk melihat polanya.

Dari uang itu, pajak hotel sampai sepuluh persen masuk ke kas kabupaten atau kota. Sekitar Rp6,5 miliar setahun, dari satu hotel saja, untuk membangun jalan, puskesmas, dan sekolah di daerah itu.

Ada lagi uang servis. Aturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 7 Tahun 2016 mewajibkan sembilan puluh lima persennya dibagikan kepada pekerja, di luar gaji pokok mereka.

Hotel seperti ini biasanya memakai dua sampai tiga orang untuk setiap kamar. Jadi tiga puluh kamar berarti enam puluh sampai sembilan puluh pekerjaan tetap. Sekarang kalikan dengan 47 hotel.

Uangnya juga tidak berhenti di situ. Hotel membeli ikan dari nelayan dan sayur dari petani. Juga beras, telur, dan kopi. Tenun dan ukiran dipakai menghiasi kamar. Jasa binatu, tukang kebun, satpam, dan tukang bangunan ikut kebagian. Para pemasok itu lalu belanja lagi untuk keperluan mereka sendiri, dari pupuk sampai solar perahu.

Putaran berikutnya yang paling jarang terlihat, padahal paling luas. Pekerja hotel dan para pemasok tadi membelanjakan penghasilannya di kampung sendiri. Warung makan jadi ramai. Toko bangunan laku karena ada rumah yang diperbaiki. Uang sekolah anak terbayar.

Ada pula pengaruh yang lebih jauh lagi. Begitu sebuah daerah dikenal punya hotel kelas dunia, maskapai mulai melirik rute baru, investor lain ikut masuk, dan hotel menengah di sekitarnya kebagian tamu.

Data resmi menunjukkan besarnya. Pada 2025, sumbangan langsung pariwisata ke ekonomi nasional tercatat 3,97 persen. Kalau dampak lanjutannya ikut dihitung, angkanya menjadi 4,80 persen atau sekitar Rp1.139 triliun, setara USD69 miliar. Sektor ini menghidupi 25,91 juta tenaga kerja, naik 3,64 persen dari tahun sebelumnya.

Satu hal tetap harus dijaga. Manfaat berantai ini bisa bocor ke luar kalau bahan bakunya diimpor dan keuntungannya dibawa pulang ke negara asal pemiliknya. Karena itu hotel perlu didorong berbelanja di daerah dan melatih orang setempat. Ini bukan sekedar soal adil, tetapi soal untung rugi yang nyata.

Bahwa pengakuan seperti ini benar-benar menggerakkan uang, sudah terbukti di kawasan kita sendiri. Di sebuah negara tetangga, belanja tambahan wisatawan asing di tempat-tempat berlabel MICHELIN mencapai sekitar USD25 miliar sepanjang 2025. Dihitung sejak 2018, hasilnya setara 14,7 kali lipat dari biaya program yang mereka keluarkan. Dalam survei yang sama, 76 persen wisatawan mengaku bersedia memperpanjang masa tinggal demi singgah di tempat yang direkomendasikan.

Kalau wisatawan tinggal lebih lama, yang bertambah bukan hanya malam kamar, tetapi juga makan, transportasi, dan oleh-oleh. Tahun 2025 Indonesia menerima 15,39 juta kunjungan wisatawan asing dengan belanja rata-rata USD1.267 per orang. Naik seratus dolar saja, devisa kita bertambah sekitar USD1,5 miliar atau Rp25 triliun. Jadi persoalannya bukan sekedar banyaknya wisatawan, melainkan berapa yang mereka belanjakan.

Semua capaian ini milik para pengelola hotel dan insan hospitality Indonesia yang menjaga mutu setiap hari. Tidak ada yang berhak mengambilnya dari mereka. Meski begitu, lompatan dari 33 ke 47 dalam setahun juga tidak terjadi begitu saja. Ada arah kebijakan yang jelas di belakangnya.

Sejak awal memimpin Kementerian Pariwisata, Menteri Widiyanti Putri Wardhana memegang satu garis yang tidak pernah berubah. Pariwisata harus berkualitas dan berkelanjutan, bukan sekedar ramai dan murah. Di tengah godaan mengejar angka kunjungan demi berita sehari, memilih jalan mutu butuh kesabaran dan keyakinan.

Hasilnya mulai terlihat. Kunjungan wisatawan asing naik 10,8 persen. Devisa pariwisata memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah, yaitu USD18,27 miliar. Tenaga kerja yang terserap bertambah menjadi 25,91 juta orang.

Yang paling layak dicatat justru sikap beliau ketika kabar itu datang. Menteri Widiyanti tidak mengaku prestasi itu sebagai milik kementerian. Beliau menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para pengelola hotel dan insan hospitality, lalu mengajak semua pihak memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi kelas dunia. Dalam dunia diplomasi, memberi hormat kepada orang lain justru ketika kita sendiri berhak dipuji adalah tanda kematangan.

Ke depan ada tiga pekerjaan rumah. Pertama, membuka lebih banyak penerbangan ke daerah wisata di luar Bali, sebab hotel sebagus apa pun tidak akan dinilai kalau sulit dijangkau. Kedua, memperkuat sekolah perhotelan agar anak daerah bisa bekerja dengan standar internasional, sebab gedung bisa berdiri dalam dua tahun sementara pelayanan yang baik hanya lahir dari orang yang terlatih. Ketiga, mendorong hotel berbelanja dari petani, nelayan, dan perajin di sekitarnya, supaya uangnya benar-benar tinggal di daerah itu.

Di luar itu, satu peluang besar masih terbuka lebar. Pengakuan dunia baru menyentuh hotel kita, sementara kekayaan kuliner Indonesia belum mendapat penilaian serupa. Padahal di kawasan ini, program semacam itu terbukti mengembalikan nilai berlipat belasan kali. Membuka jalan ke arah sana akan membawa manfaatnya sampai ke dapur rumah makan kecil di daerah.

Empat puluh tujuh kunci kini ada di tangan Indonesia. Yang sebenarnya kita kejar bukan nama di sebuah daftar, melainkan jutaan keluarga yang hidupnya membaik karena dunia memilih datang ke rumah kita.

*) Penulis adalah Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata dan Ekonomi Indonesia (PKPEI) dan dosen Institut Pariwisata Trisakti.

Email

info@pusatkajianpariwisata.id

© 2023-2026 Pusat Kajian Pariwisata & Ekonomi Indonesia. All Rights Reserved.