Jakarta Tenggelam: Tantangan Ekonomi dan Pariwisata 2040
Kontroversi pencabutan pagar laut (sea wall) di Teluk Jakarta menjadi isu yang menarik perhatian publik belakangan ini.
Muhammad Rahmad
2/22/20255 min read


Kontroversi pencabutan pagar laut (sea wall) di Teluk Jakarta menjadi isu yang menarik perhatian publik belakangan ini. Pagar laut yang awalnya dibangun sebagai bagian dari proyek National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) atau Giant Sea Wall Jakarta ini ditujukan untuk melindungi wilayah pesisir Jakarta dari ancaman banjir rob dan kenaikan permukaan air laut.
Pencabutan struktur ini menimbulkan perdebatan di berbagai kalangan. Kelompok yang mendukung pencabutan berargumen bahwa struktur tersebut justru mengganggu ekosistem laut dan aktivitas nelayan lokal. Mereka menyoroti dampak negatif terhadap pola arus laut dan sedimentasi yang mempengaruhi mata pencaharian nelayan tradisional.
Di sisi lain, pihak yang menentang pencabutan mengkhawatirkan meningkatnya risiko banjir rob di wilayah pesisir Jakarta. Mereka menilai bahwa tanpa pagar laut, kawasan pesisir akan semakin rentan terhadap dampak kenaikan permukaan air laut, terutama mengingat fakta bahwa Jakarta terus mengalami penurunan permukaan tanah setiap tahunnya.
Pemerintah DKI Jakarta sendiri menyatakan bahwa keputusan ini diambil setelah melakukan kajian mendalam tentang efektivitas struktur tersebut dan dampaknya terhadap lingkungan serta sosial-ekonomi masyarakat pesisir. Sebagai alternatif, pemerintah berencana mengembangkan solusi yang lebih terintegrasi dengan mempertimbangkan aspek ekologi dan kebutuhan masyarakat lokal.
Keputusan ini juga berkaitan dengan rencana jangka panjang penanganan banjir di Jakarta, termasuk upaya restorasi ekosistem pesisir dan pengembangan sistem drainase yang lebih efektif. Namun, mengingat prediksi dampak kenaikan permukaan air laut di masa depan, diperlukan kajian lebih lanjut untuk memastikan keamanan wilayah pesisir Jakarta dalam jangka panjang.
Peran Strategis Teluk Jakarta
Teluk Jakarta dan wilayah sekitarnya memiliki peran strategis yang sangat penting bagi perekonomian dan pariwisata Indonesia.
Dari sisi ekonomi, kawasan Teluk Jakarta merupakan pusat aktivitas ekonomi nasional yang mencakup beberapa area vital. Pelabuhan Tanjung Priok, yang merupakan pelabuhan terbesar dan tersibuk di Indonesia, menangani lebih dari 50% volume perdagangan laut nasional. Pelabuhan ini menjadi gerbang utama arus masuk dan keluar barang yang mendukung aktivitas ekonomi tidak hanya untuk Jakarta, tetapi juga wilayah Jawa dan Indonesia secara keseluruhan.
Kawasan industri di sekitar Teluk Jakarta, termasuk Kawasan Industri Pulogadung, Kawasan Industri Cilincing, dan berbagai sentra industri di wilayah Bekasi dan Tangerang, menyumbang sekitar 20% dari total produksi industri nasional. Area ini menjadi rumah bagi ribuan pabrik yang memproduksi berbagai produk, mulai dari tekstil hingga elektronik, yang berkontribusi signifikan terhadap ekspor nasional.
Sektor pariwisata di kawasan Teluk Jakarta memiliki daya tarik tersendiri dengan beberapa destinasi unggulan. Taman Impian Jaya Ancol, sebagai tujuan wisata terintegrasi terbesar di Asia Tenggara, menarik lebih dari 15 juta pengunjung setiap tahunnya sebelum pandemi. Kompleks wisata ini berkontribusi signifikan terhadap pendapatan asli daerah DKI Jakarta dan penyerapan tenaga kerja di sektor pariwisata.
Kepulauan Seribu, yang merupakan bagian dari wilayah administratif DKI Jakarta, menjadi magnet wisata bahari yang menarik wisatawan domestik dan mancanegara. Kawasan ini menyumbang sekitar 30% dari total kunjungan wisatawan ke DKI Jakarta, dengan kontribusi signifikan terhadap ekonomi lokal melalui industri perhotelan, kuliner, dan jasa wisata bahari.
Daerah pesisir Teluk Jakarta juga menjadi pusat industri perikanan yang penting. Pelabuhan Muara Angke dan Muara Baru merupakan sentra aktivitas nelayan yang memasok kebutuhan ikan untuk Jakarta dan sekitarnya. Sektor perikanan di kawasan ini menyerap ribuan tenaga kerja dan mendukung rantai nilai industri pengolahan hasil laut.
Kawasan bisnis dan properti di sekitar Teluk Jakarta, seperti area Pantai Indah Kapuk dan kawasan reklamasi, telah berkembang menjadi pusat bisnis dan lifestyle yang berkontribusi signifikan terhadap sektor properti dan ritel. Area ini menarik investasi besar dan menciptakan lapangan kerja di sektor jasa dan properti.
Dari perspektif ketenagakerjaan, kawasan di sekitar Teluk Jakarta menyerap sekitar 15% dari total tenaga kerja di Jabodetabek, dengan variasi sektor mulai dari industri manufaktur, logistik, pariwisata, hingga sektor jasa. Multiplier effect dari aktivitas ekonomi di kawasan ini menciptakan rantai nilai yang mendukung pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitarnya.
Secara keseluruhan, kawasan Teluk Jakarta berkontribusi sekitar 25% terhadap PDRB DKI Jakarta, yang pada gilirannya menyumbang sekitar 17% dari PDB nasional. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kawasan ini bagi perekonomian nasional, tidak hanya sebagai pusat aktivitas ekonomi tetapi juga sebagai hub logistik dan destinasi pariwisata yang strategis.
Ancaman Banjir Rob di Teluk Jakarta
Sejak awal tahun 2020-an, para peneliti dari berbagai lembaga internasional telah memberikan peringatan serius mengenai masa depan Jakarta. Studi yang dilakukan oleh World Resources Institute dan Climate Central menunjukkan bahwa Jakarta menjadi salah satu kota pesisir yang paling rentan terhadap kenaikan permukaan air laut di Asia Tenggara. Para ilmuwan dari berbagai universitas terkemuka dunia memprediksi bahwa tanpa intervensi yang signifikan, sebagian besar wilayah pesisir Jakarta akan menghadapi ancaman serius dari banjir rob pada pertengahan abad 21. Jakarta Tenggelam. Berdasarkan kajian mendalam yang telah saya lakukan, dampak ekonomi dari banjir rob di wilayah Teluk Jakarta dan sekitarnya pada tahun 2040 mendatang diperkirakan akan sangat signifikan. Hasil perhitungan saya menunjukkan potensi kerugian total mencapai Rp 2.474,52 triliun atau setara dengan USD 97,60 miliar (dengan asumsi nilai tukar Rp 25.354/USD pada tahun 2040). Angka ini mencakup berbagai aspek kerugian, termasuk kerusakan aset pribadi yang saya perkirakan mencapai Rp 1.231,82 triliun, meliputi properti residensial, barang-barang pribadi, dan kendaraan.


Keterangan Foto : Warna merah adalah wilayah daratan Jakarta yang akan tenggelam pada tahun 2040 (simulasi foto satelit oleh Climate Central, Amerika Serikat)
Dalam analisis saya, Tantangan Ekonomi sektor pariwisata akan mengalami dampak yang sangat serius. Kawasan-kawasan wisata pesisir seperti Ancol, Kepulauan Seribu, dan area rekreasi pantai lainnya berpotensi mengalami kerusakan infrastruktur yang signifikan. Berdasarkan perhitungan saya, kerusakan infrastruktur secara keseluruhan diperkirakan mencapai Rp 543,45 triliun, termasuk kerusakan pada fasilitas wisata, sistem transportasi, dan infrastruktur pendukung pariwisata lainnya.


Keterangan foto : Data Satelit NASA 22 Februari 2025 yang menunjukkan grafik naiknya permukaan air laut dunia)
Dampak ekonomi tahunan yang saya proyeksikan mencapai Rp 608,66 triliun, mencerminkan hilangnya produktivitas ekonomi, terhentinya aktivitas bisnis, dan berkurangnya pendapatan daerah. Sektor pariwisata, yang menjadi salah satu penggerak ekonomi utama di kawasan ini, akan mengalami penurunan drastis akibat berkurangnya daya tarik wisata dan kerusakan fasilitas pendukung.
Dalam perhitungan saya, proses relokasi penduduk dan bisnis dari kawasan terdampak akan membutuhkan biaya sekitar Rp 90,58 triliun. Angka ini mencakup pembangunan permukiman baru dan fasilitas pendukung untuk sekitar 4,2 juta jiwa yang berpotensi kehilangan tempat tinggal. Relokasi ini tidak hanya berdampak pada aspek sosial, tetapi juga akan mengubah pola pergerakan wisatawan dan aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.


Keterangan foto : Pantai teluk Jakarta sepanjang 47,28 km yang perlu direklamasi dan dipasang tanggul agar air laut tidak naik kepermukaan daratan Jakarta.
Tantangan ini memerlukan pendekatan komprehensif dalam perencanaan kota dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Berdasarkan analisis saya, diperlukan investasi besar dalam infrastruktur pertahanan pantai, sistem drainase yang lebih baik, dan pengembangan destinasi wisata alternatif untuk mempertahankan daya saing sektor pariwisata Indonesia.
Meskipun proyeksi ini terlihat mengkhawatirkan, penting untuk dicatat bahwa perhitungan ini mengasumsikan tidak ada intervensi signifikan dalam bentuk adaptasi atau mitigasi. Dengan perencanaan yang tepat dan implementasi strategi adaptasi yang efektif, dampak negatif ini masih mungkin diminimalisir, meskipun tetap membutuhkan investasi dan komitmen yang besar dari berbagai pemangku kepentingan.
*) Penulisan adalah Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia / Dosen Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti
