Kartini, Teori Emansipasi, dan Pariwisata Indonesia
Hari Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April memiliki makna mendalam bagi bangsa Indonesia.
Muhammad Rahmad
4/20/20255 min read


Hari Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April memiliki makna mendalam bagi bangsa Indonesia. Sosok Raden Ajeng Kartini yang lahir pada 21 April 1879, merupakan simbol perjuangan emansipasi perempuan di Indonesia. Pemikirannya yang visioner tidak hanya relevan dalam konteks pendidikan dan kesetaraan gender, tetapi juga memiliki potensi besar untuk menginspirasi pengembangan pariwisata Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan. Di tengah upaya pemulihan industri pariwisata pasca-pandemi, mengintegrasikan nilai-nilai Kartini dalam pembangunan pariwisata dapat menjadi strategi inovatif yang memberikan keunggulan kompetitif sekaligus mendorong keadilan sosial.
Kartini dan Dimensi Emansipatoris
Perjuangan Kartini, yang tertuang dalam kumpulan suratnya "Habis Gelap Terbitlah Terang", mengandung beberapa dimensi emansipatoris yang fundamental. Pertama, penekanannya pada pendidikan sebagai kunci pembebasan dari belenggu ketidaksetaraan. Kedua, visinya tentang kemajuan yang tidak meninggalkan akar budaya. Ketiga, kesadarannya akan pentingnya kemandirian ekonomi bagi perempuan.
Ketiga dimensi ini memiliki resonansi kuat dengan diskursus feminisme dan pembangunan kontemporer. Konsep pendidikan sebagai pembebasan yang digaungkan Kartini sejalan dengan pemikiran pedagogi kritis Paulo Freire. Visinya tentang modernisasi yang tidak meninggalkan akar budaya mencerminkan apa yang disebut para teoretisi poskolonial sebagai hibriditas kultural—menolak dikotomi tradisi versus modernitas dengan menciptakan sintesis baru yang progresif namun tetap autentik.
Sementara itu, perjuangan untuk kemandirian ekonomi perempuan yang diadvokasi Kartini sejalan dengan pendekatan "Women in Development" yang menekankan pentingnya partisipasi perempuan dalam pembangunan ekonomi. Pendekatan ini telah berevolusi menjadi "Gender and Development" yang lebih komprehensif, menganalisis relasi kuasa dan struktur sosial yang membentuk ketidaksetaraan gender.
Pariwisata Indonesia: Potret Ketimpangan dan Peluang
Pariwisata merupakan sektor strategis bagi ekonomi Indonesia. Sebelum pandemi COVID-19, sektor ini menyumbang sekitar 5,7% terhadap PDB dan mempekerjakan lebih dari 13 juta orang. Meski sedang dalam proses pemulihan, pariwisata dipandang sebagai salah satu penggerak utama ekonomi nasional dalam beberapa tahun ke depan.
Namun, di balik angka-angka makro yang mengesankan, terdapat ketimpangan gender yang signifikan. Data terbaru dari International Labour Organization menunjukkan bahwa meskipun perempuan membentuk mayoritas (sekitar 60%) tenaga kerja di sektor pariwisata Indonesia, mereka terkonsentrasi pada posisi-posisi dengan upah rendah dan status kerja tidak tetap. Ketimpangan ini mencerminkan pola global di mana perempuan sering menjadi pekerja "lapis kedua" dalam industri pariwisata—berada di posisi pelayanan, kebersihan, dan administrasi level bawah, sementara posisi manajerial dan strategis didominasi laki-laki.
Pandemi COVID-19 semakin memperburuk ketimpangan ini. Studi oleh UN Women (2022) menunjukkan bahwa perempuan di sektor pariwisata Indonesia mengalami dampak ekonomi yang lebih parah selama pandemi, dengan tingkat PHK yang lebih tinggi dan kesulitan yang lebih besar untuk kembali ke pasar kerja.
Namun, di tengah tantangan ini, muncul peluang baru untuk menciptakan model pariwisata yang lebih inklusif dan berkeadilan. Tren global menunjukkan pergeseran preferensi wisatawan menuju pengalaman yang otentik, berkelanjutan, dan berdampak positif bagi komunitas lokal. Sebuah survey oleh Booking.com (2023) menemukan bahwa 73% wisatawan global menginginkan pengalaman perjalanan yang mendukung komunitas lokal, dan 68% tertarik pada destinasi yang menunjukkan komitmen terhadap keadilan sosial dan lingkungan.
Mengintegrasikan Nilai Kartini dalam Pariwisata Indonesia
Bagaimana nilai-nilai Kartini dapat diimplementasikan dalam pengembangan pariwisata Indonesia? Berikut beberapa pendekatan strategis yang dapat ditempuh:
1. Pariwisata Berbasis Komunitas yang Berperspektif Gender
Pariwisata berbasis komunitas (Community-Based Tourism/CBT) telah berkembang di berbagai destinasi di Indonesia, dari Nglanggeran di Yogyakarta hingga Waerebo di Flores. Model ini memberikan kontrol lebih besar kepada masyarakat lokal atas pengembangan pariwisata di wilayah mereka.
Namun, penelitian oleh Hidayat et al. (2021) menunjukkan bahwa tanpa intervensi khusus, CBT cenderung mereproduksi ketimpangan gender yang ada dalam masyarakat. Untuk itu, diperlukan pendekatan CBT yang secara eksplisit mengintegrasikan perspektif gender, memastikan perempuan tidak hanya berpartisipasi tetapi juga memiliki suara dalam pengambilan keputusan dan akses terhadap manfaat ekonomi.
Desa Wisata Pentingsari di lereng Merapi, Yogyakarta, menunjukkan bagaimana hal ini dapat diterapkan. Di desa ini, perempuan tidak hanya terlibat dalam penyediaan akomodasi dan kuliner, tetapi juga membentuk 40% anggota kelompok pengelola pariwisata. Program-program pelatihan kepemimpinan dan literasi keuangan secara khusus menyasar perempuan desa, membekali mereka dengan keterampilan untuk berpartisipasi aktif dalam ekonomi pariwisata.
2. Jalur Wisata Edukatif Bertema Kartini
Warisan Kartini dapat dikembangkan menjadi produk wisata edukatif yang menarik. Jalur wisata yang menghubungkan lokasi-lokasi bersejarah terkait Kartini—seperti Museum Kartini di Jepara, Museum Kartini di Rembang, dan Pendopo Kabupaten Jepara—dapat dikemas dengan narasi yang kuat dan pengalaman interaktif.
Museum R.A. Kartini di Jepara telah melakukan pembaruan pada tahun 2022, mengintegrasikan teknologi augmented reality untuk menciptakan pengalaman immersive bagi pengunjung. Melalui aplikasi smartphone, pengunjung dapat "berinteraksi" dengan Kartini dan mendapatkan pemahaman mendalam tentang pemikirannya.
Upaya semacam ini tidak hanya melestarikan warisan sejarah tetapi juga mempromosikan nilai-nilai kesetaraan dan emansipasi kepada generasi muda dan wisatawan mancanegara.
3. Festival Budaya yang Mengangkat Tema Emansipasi
Festival Kartini International yang diselenggarakan di Jepara sejak 2018 merupakan contoh bagaimana warisan Kartini dapat dikembangkan menjadi event pariwisata yang menarik. Festival ini menggabungkan parade budaya, pameran seni, diskusi tentang isu perempuan kontemporer, dan workshop kerajinan tradisional.
Data dari Dinas Pariwisata Jepara mencatat peningkatan kunjungan wisatawan sebesar 25% selama periode festival. Yang lebih penting, festival ini menciptakan ruang dialog tentang kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, membawa isu-isu yang diperjuangkan Kartini ke dalam diskursus kontemporer.
4. Revitalisasi Kerajinan Tradisional sebagai Produk Wisata Kreatif
Kartini memiliki perhatian besar terhadap kerajinan tradisional Jepara, khususnya ukiran kayu. Ia melihat kerajinan tradisional bukan sekadar artefak budaya, tetapi juga sebagai potensi ekonomi bagi perempuan lokal.
Semangat ini dapat direvitalisasi melalui pengembangan wisata kreatif yang memungkinkan wisatawan belajar dan terlibat dalam produksi kerajinan tradisional. Di Jepara, beberapa workshop ukir kayu yang dikelola perempuan telah menawarkan pengalaman belajar ukir untuk wisatawan. Di Yogyakarta, kelas membatik yang diselenggarakan oleh komunitas pengrajin perempuan menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik dan mancanegara.
Model ini tidak hanya menciptakan pengalaman yang bermakna bagi wisatawan tetapi juga mendukung kemandirian ekonomi perempuan pengrajin.
5. Diplomasi Budaya melalui Narasi Emansipasi
Dalam konteks pemasaran pariwisata internasional, figur Kartini dan nilai-nilai yang diperjuangkannya dapat menjadi elemen unik dari branding Indonesia. Di era di mana wisatawan semakin mencari destinasi yang memiliki "cerita" dan nilai-nilai yang sejalan dengan kepedulian sosial mereka, narasi tentang perjuangan emansipasi dan kesetaraan dapat menjadi pembeda.
Wonderful Indonesia, kampanye branding pariwisata nasional, dapat mengintegrasikan kisah Kartini dan kontribusinya terhadap kemajuan Indonesia. Hal ini akan memberikan dimensi baru pada citra Indonesia di mata internasional—tidak hanya sebagai destinasi dengan keindahan alam dan kekayaan budaya, tetapi juga sebagai negara dengan sejarah perjuangan kemanusiaan yang inspiratif.
Tantangan dan Jalan ke Depan
Mengimplementasikan nilai-nilai Kartini dalam pariwisata Indonesia bukanlah tanpa tantangan. Beberapa kendala utama yang perlu diatasi antara lain:
Resistensi budaya: Di beberapa daerah dengan nilai-nilai patriarkal yang kuat, upaya pemberdayaan perempuan sering menghadapi resistensi dari elit lokal.
Keterbatasan akses terhadap sumber daya: Perempuan di banyak daerah wisata masih menghadapi hambatan dalam mengakses modal, pelatihan, dan teknologi.
Risiko komodifikasi: Terdapat risiko bahwa narasi tentang Kartini dan emansipasi perempuan hanya menjadi komoditas eksotis untuk konsumsi wisatawan, tanpa perubahan struktural yang bermakna.
Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan pendekatan yang transformatif dan kolaboratif. Beberapa langkah konkret yang dapat ditempuh antara lain:
Integrasi perspektif gender dalam kebijakan pariwisata nasional: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif perlu mengadopsi gender-responsive budgeting dan gender impact assessment dalam perencanaan dan evaluasi program pariwisata.
Kemitraan strategis antara pemerintah, industri, dan organisasi perempuan: Kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk mengembangkan program-program yang efektif dan berkelanjutan.
Pengembangan kapasitas yang berfokus pada kepemimpinan perempuan: Program pelatihan yang ditargetkan untuk membekali perempuan dengan keterampilan kepemimpinan, literasi digital, dan pengelolaan bisnis.
Penelitian dan evaluasi partisipatif: Melibatkan perempuan lokal dalam penelitian dan evaluasi dampak pariwisata, memastikan suara mereka menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan.
Kesimpulan
Mengintegrasikan nilai-nilai emansipatoris Kartini dalam pengembangan pariwisata Indonesia menawarkan peluang untuk menciptakan model pariwisata yang tidak hanya berkelanjutan secara ekonomi, tetapi juga berkeadilan dan inklusif. Di tengah pemulihan industri pariwisata pasca-pandemi dan persaingan global yang semakin ketat, pendekatan ini dapat menjadi keunggulan kompetitif bagi Indonesia.
Lebih dari itu, hal ini juga merupakan penghormatan yang bermakna terhadap warisan Kartini—bukan sekadar memperingati namanya sebagai pahlawan nasional, tetapi benar-benar mengimplementasikan visinya tentang masyarakat yang adil dan setara dalam konteks pembangunan kontemporer.
Sebagaimana Kartini menulis dalam suratnya: "Aku ingin... aku ingin... bolehkah aku mengambil bagian dalam memajukan perempuan Jawa?" Seabad lebih setelah kepergiannya, kita memiliki kesempatan untuk menjawab pertanyaan itu dengan langkah-langkah konkret dalam membangun pariwisata Indonesia yang lebih inklusif dan emansipatoris.
Referensi
Booking.com. (2023). Sustainable Travel Report 2023.
Hidayat, A., Rahmanita, M., & Hermantoro, H. (2021). Gender Analysis in Community-Based Tourism Development: Case Study of Pentingsari Tourism Village, Yogyakarta. Journal of Indonesian Tourism and Development Studies, 9(3), 176-189.
International Labour Organization. (2023). Women in Tourism: Realities, Challenges and Opportunities. ILO Regional Office for Asia and the Pacific.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. (2023). Statistik Pariwisata Indonesia 2023.
UN Women. (2022). Gender Dimensions of the COVID-19 Pandemic in Indonesia: Assessment of the Impact on Women in Tourism Sector.
*) Penulisan adalah Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia / Dosen Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti
