KBN dan Peluang Menjadi Hub Logistik Asia-Pasifik dari sudut Pariwisata
Dengan posisi strategis di persimpangan Selat Malaka dan kedekatan dengan Pelabuhan Tanjung Priok, PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN) memiliki semua modal untuk bertransformasi menjadi pemain kunci perdagangan regional. Namun ada satu dimensi yang sering terabaikan: bagaimana prinsip hospitalitas—yang selama ini dianggap hanya milik industri pariwisata (business tourism)—justru sebenarnya menjadi kunci daya saing global bagi kawasan industri modern.
Muhammad Rahmad - Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia
1/29/20269 min baca


Mari kita mulai dengan membongkar satu miskonsepsi besar.
Ketika mendengar kata "pariwisata", pikiran kita langsung tertuju pada pantai, gunung, liburan, dan foto-foto Instagram. Namun definisi ini terlalu sempit—dan ketinggalan zaman.
UN Tourism (sebelumnya UNWTO), badan PBB yang menangani pariwisata global, mendefinisikan pariwisata sebagai "fenomena sosial, kultural, dan ekonomi yang melibatkan perpindahan orang ke negara atau tempat di luar lingkungan biasanya untuk tujuan personal atau bisnis/profesional." Perhatikan: personal ATAU bisnis/profesional.
Definisi ini secara eksplisit melampaui persepsi umum bahwa pariwisata terbatas pada aktivitas liburan semata. UN Tourism menegaskan bahwa pariwisata mencakup semua orang yang bepergian dan tinggal di tempat di luar lingkungan sehari-hari mereka, untuk berbagai tujuan—termasuk leisure, business, and other purposes.
Artinya, seorang direktur perusahaan multinasional yang terbang ke Jakarta untuk meninjau lokasi investasi di kawasan industri adalah wisatawan. Delegasi dagang dari Korea Selatan yang mengunjungi pabrik di Cakung adalah wisatawan. Manajer supply chain dari Jepang yang melakukan audit ke gudang logistik di Marunda adalah wisatawan. Mereka semua tercatat dalam statistik pariwisata global, berkontribusi pada ekonomi destinasi, dan—yang paling penting—membentuk persepsi tentang Indonesia sebagai tempat berbisnis.
Inilah mengapa memahami pariwisata dalam konteks yang lebih luas menjadi krusial bagi PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN). KBN bukan sekadar pengelola lahan industri. Dalam perspektif UN Tourism, KBN adalah destinasi pariwisata bisnis—sebuah host yang menerima ribuan guest setiap tahunnya.
Teori Hospitalitas: Lebih dari Sekadar Senyum di Lobby Hotel
Di sinilah teori hospitalitas menjadi relevan.
Profesor Conrad Lashley dari Academy of International Hospitality Research, salah satu pakar terkemuka dalam studi hospitalitas, mendefinisikan hospitalitas sebagai "hubungan sosial yang berada di basis semua masyarakat manusia."Dalam bukunya In Search of Hospitality (2000) dan The Routledge Handbook of Hospitality Studies (2017), Lashley menegaskan bahwa hospitalitas bukan sekadar penyediaan makanan, minuman, dan akomodasi dalam setting komersial. Hospitalitas adalah relasi antara tuan rumah (host) dan tamu (guest) yang melibatkan penerimaan, keramahan, dan penciptaan pengalaman positif.
Filsuf Emmanuel Levinas bahkan melangkah lebih jauh. Bagi Levinas, hospitalitas adalah tanggung jawab etis terhadap "Yang Lain" (the Other)—sebuah kewajiban moral untuk menyambut dan melayani mereka yang datang ke "rumah" kita. Jacques Derrida, filsuf Prancis yang mengembangkan pemikiran Levinas, membedakan antara conditional hospitality (hospitalitas dengan syarat, yang terjadi dalam praktik sehari-hari) dan unconditional hospitality (hospitalitas ideal tanpa syarat, di mana kita terbuka menerima siapa pun).
Apa relevansinya dengan kawasan industri?
Lashley dan Morrison (2000) menegaskan bahwa hospitalitas adalah "kesediaan untuk bersikap hospitable tanpa mengharapkan sesuatu sebagai balasan langsung." Dalam konteks komersial, interaksi memang bersifat transaksional—ada pertukaran nilai. Namun hospitableness (keramahtamahan) melampaui transaksi; ia menjadi inti emosional dari hubungan host-guest yang menciptakan koneksi genuine melampaui sekadar pertukaran (Hemmington, 2007).
Ketika seorang investor asing datang ke KBN untuk survey lokasi, pengalamannya tidak ditentukan semata oleh harga sewa atau insentif fiskal. Pengalamannya dibentuk oleh:
Seberapa mudah ia menemukan informasi dan navigasi di kawasan
Seberapa cepat dan responsif layanan yang diterimanya
Seberapa nyaman fasilitas yang tersedia untuknya
Seberapa "disambut" ia merasa sebagai tamu
Ini adalah hospitality experience—dan ini yang membedakan kawasan industri biasa dengan kawasan industri berkelas dunia.
MICE Tourism: Mengapa Wisatawan Bisnis Bernilai Lebih Tinggi
Data membuktikan bahwa wisatawan bisnis memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi dibanding wisatawan leisure.
MICE tourism—akronim untuk Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions—adalah segmen pariwisata yang melibatkan kelompok terorganisir untuk tujuan profesional, komersial, atau networking. Menurut Allied Market Research, pasar MICE global diproyeksikan mencapai USD 1,8 triliun pada 2031 dengan CAGR 6,6%. Pada 2023, Grand View Research mencatat pasar MICE global senilai USD 802,59 miliar dengan proyeksi pertumbuhan 9,1% per tahun hingga 2030.
Yang lebih menarik adalah data pengeluaran. Studi Davidson dan Cope (1994) yang masih relevan hingga kini menunjukkan bahwa rasio pengeluaran harian wisatawan bisnis terhadap wisatawan leisure berkisar 2:1 hingga 3:1. Laporan GBTA (Global Business Travel Association) terbaru mencatat rata-rata pengeluaran business traveler mencapai USD 834 per orang per perjalanan. Tourism Northern Ireland bahkan menegaskan bahwa business visitors bernilai sekitar 3 kali lipat wisatawan leisure rata-rata.
Wisatawan bisnis juga memiliki karakteristik unik yang menguntungkan destinasi:
Mereka datang di shoulder dan off-peak seasons, menstabilkan pendapatan sepanjang tahun
Mereka memiliki ekspektasi tinggi terhadap kualitas layanan, mendorong peningkatan standar
Mereka berpotensi kembali untuk kunjungan leisure atau merekomendasikan destinasi ke jaringan mereka
Pengeluaran mereka menciptakan multiplier effect ke ekonomi lokal
Dalam konteks ini, setiap investor, buyer, supplier, auditor, atau delegasi dagang yang mengunjungi KBN adalah aset ekonomi yang harus dilayani dengan prinsip hospitalitas terbaik.
Paradoks Logistik Indonesia
Setiap tahun, lebih dari 94.000 kapal melintasi Selat Malaka—jalur laut tersibuk di dunia yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Pasifik. Sekitar 30% perdagangan global melewati selat sempit ini. Indonesia, dengan garis pantai lebih dari 95.000 kilometer dan posisi strategis di persimpangan dua samudra, seharusnya menjadi pemenang alamiah dari arus perdagangan raksasa tersebut.
Namun kenyataannya berbeda.
Dalam Logistics Performance Index (LPI) Bank Dunia 2023, Indonesia justru merosot 17 peringkat—dari posisi 46 menjadi peringkat 63 dari 139 negara. Sementara Singapura naik menjadi nomor 1 dunia, Malaysia ke posisi 30, dan Filipina melonjak 17 peringkat. Biaya logistik Indonesia masih berkutat di angka 22-23% dari GDP, jauh di atas Malaysia yang hanya 13%.
Yang menarik, penurunan terbesar Indonesia justru di indikator yang berkaitan erat dengan pengalaman "tamu": Timeliness (ketepatan waktu) turun drastis dari 3,67 ke 3,00, dan Tracking & Tracing turun dari 3,30 ke 3,00. Ini bukan sekadar masalah infrastruktur—ini adalah masalah pengalaman pelanggan, masalah hospitalitas.
Momentum Global yang Tidak Boleh Dilewatkan
Dunia sedang mengalami rekonfigurasi rantai pasok besar-besaran. Pandemi COVID-19 dan ketegangan geopolitik memaksa perusahaan multinasional memikirkan ulang strategi mereka. Konsep "China plus one" kini menjadi mantra baru para direktur supply chain.
Laporan Research and Markets (2025) memproyeksikan pasar logistik Asia-Pasifik akan tumbuh dari USD 4,56 triliun menjadi USD 8,28 triliun pada 2034. Pasar freight logistik Indonesia sendiri diperkirakan tumbuh USD 28 miliar dengan CAGR 8,3% hingga 2029. Nilai pasar logistik nasional yang mencapai USD 67,8 miliar di 2024 diprediksi menembus USD 131 miliar pada 2033.
Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP)—perjanjian perdagangan bebas terbesar di dunia—menyatukan 15 negara dengan 30% populasi global dan 30% GDP dunia senilai USD 25,8 triliun. RCEP akan mengeliminasi 92% tarif perdagangan antar anggotanya.
Ini berarti akan ada lebih banyak wisatawan bisnis yang datang ke Indonesia untuk eksplorasi peluang perdagangan dan investasi. Pertanyaannya: siapa yang akan menjadi host terbaik untuk menyambut mereka?
Modal Besar yang Dimiliki KBN
KBN bukan pemain baru tanpa modal. Dengan tiga kawasan strategis di Jakarta—Marunda, Cakung, dan Tanjung Priok—yang membentang lebih dari 600 hektar, KBN duduk tepat di jantung ekosistem perdagangan Indonesia.
Pertama, lokasi yang tak tergantikan. Kawasan KBN berbatasan langsung dengan Pelabuhan Tanjung Priok yang menangani lebih dari 50% lalu lintas kargo nasional. Pada 2024, Tanjung Priok mencatat throughput 7,6 juta TEU—rekor tertinggi. Proyek New Priok akan melipatgandakan kapasitas menjadi 18 juta TEU.
Kedua, ekosistem yang sudah terbangun. Lebih dari 130 pabrik beroperasi di kawasan ini dengan delapan sektor bisnis aktif: properti kawasan, logistik (145.641 m² gudang), Pusat Logistik Berikat, dua pelabuhan, rumah sakit, pengelolaan air, dan unit beton siap pakai.
Ketiga, konektivitas multimodal. Akses toll road langsung ke ring road Jakarta dan kedekatan dengan Bandara Soekarno-Hatta menjadikan KBN memiliki keunggulan yang langka.
Keempat, momentum transformasi nasional. Pemerintah telah meluncurkan National Logistics Ecosystem (NLE) dan menargetkan penurunan biaya logistik dari 24% menjadi 17% GDP.
Namun modal fisik saja tidak cukup. KBN perlu hospitality mindset—cara pandang yang menempatkan setiap investor, tenant, buyer, dan visitor sebagai tamu terhormat yang harus dilayani dengan standar kelas dunia.
Belajar dari Juara Dunia: Hospitalitas dalam Kawasan Industri
Kawasan-kawasan ekonomi terbaik dunia telah menerapkan prinsip hospitalitas dalam operasional mereka.
Jebel Ali Free Zone (JAFZA) di Dubai, pemenang Global Free Zone of the Year 2024, bukan sekadar menyediakan lahan dan insentif. JAFZA menciptakan pengalaman seamless bagi tenant dan visitor: portal digital terintegrasi, layanan concierge untuk investor, one-stop service yang mengeliminasi birokrasi berbelit. Dengan 11.000+ perusahaan dari 157 negara, JAFZA memperlakukan setiap perusahaan—besar maupun kecil—sebagai tamu yang harus dijaga kepuasannya.
Dubai Multi Commodities Centre (DMCC), Best Global Free Zone selama 9 tahun berturut-turut, menunjukkan kekuatan digitalisasi dalam hospitalitas bisnis. Proses setup bisnis hanya 10 hari kerja melalui portal digital. Investor tidak perlu bolak-balik kantor, tidak perlu menunggu antrian, tidak perlu menghadapi ketidakpastian. Ini adalah hospitality experience yang diterjemahkan ke dalam efisiensi operasional.
Singapore Free Trade Zone menerapkan prinsip timeliness sebagai bentuk penghormatan terhadap waktu tamu. Customs clearance 24/7, dwelling time minimal, tracking real-time—semuanya dirancang untuk menghargai waktu yang merupakan komoditas paling berharga bagi pelaku bisnis.
Tanger Med di Maroko membuktikan bahwa negara berkembang pun bisa menerapkan hospitalitas kelas dunia. Model plug-and-play dengan dokumentasi 10 hari kerja dan konsolidasi urusan dalam satu otoritas adalah bentuk keramahan yang konkret: menghilangkan hambatan dan mempermudah tamu untuk berbisnis.
Prinsip-prinsip ini selaras dengan apa yang Lashley (2001) identifikasi sebagai elemen hospitalitas dalam domain komersial: fokus pada hubungan host-guest, generosity (kemurahan), theatre and performance (penciptaan pengalaman), dan security of strangers (membuat orang asing merasa aman dan nyaman).
Delapan Catatan yang Harus Dibenahi: Menuju KBN yang Hospitable
Dari perspektif hospitalitas, berikut catatan kritis yang harus menjadi prioritas KBN:
1. Digitalisasi sebagai Bentuk Penghormatan terhadap Waktu Tamu
Dalam teori hospitalitas, menghargai waktu tamu adalah bentuk keramahtamahan paling mendasar. DMCC menawarkan setup 10 hari kerja melalui portal digital. KBN perlu mengembangkan one-stop digital service yang mengkonsolidasikan seluruh proses dalam satu platform terintegrasi. Setiap menit yang dihemat adalah bentuk hospitalitas.
2. Optimalisasi Integrasi Pelabuhan
Terminal Kali Blencong dan Pelabuhan Marunda adalah aset strategis yang belum dimaksimalkan. Integrasi seamless antara zona industri dan pelabuhan—seperti yang dilakukan JAFZA dengan Jebel Ali Port—menciptakan pengalaman yang mulus bagi tenant dan visitor.
3. Fasilitas yang Menyambut Tamu dengan Layak
Hospitality membutuhkan infrastruktur yang layak. Cold chain facilities, automated storage systems, dan warehouse management terintegrasi bukan sekadar kebutuhan operasional—ini adalah cara KBN menunjukkan bahwa ia serius melayani tamu-tamunya dengan standar terbaik.
4. Sustainability sebagai Nilai Hospitalitas Modern
KEZAD memenangkan fDi Sustainable Zones Award 2024. JAFZA menargetkan carbon neutrality 2040. Dalam hospitalitas modern, menjaga lingkungan adalah bentuk penghormatan terhadap tamu dan komunitas. KBN harus mentransformasi diri menjadi green industrial zone.
5. Human Capital: Pelayan yang Kompeten dan Ramah
Shannon Free Zone di Irlandia sukses karena bermitra dengan University of Limerick untuk pengembangan SDM. Dalam hospitalitas, kualitas pelayan menentukan kualitas pengalaman. Skor Logistics Quality and Competence Indonesia yang turun dari 3,1 ke 2,9 menunjukkan urgensi pengembangan kompetensi SDM.
6. Klaster Industri: Menciptakan "Neighborhood" yang Nyaman
Tanger Med memiliki 8 zona spesialis. Dalam analogi hospitalitas, ini seperti menciptakan neighborhood yang berbeda untuk tamu dengan kebutuhan berbeda. KBN perlu menspesialisasi Marunda, Cakung, dan Tanjung Priok sesuai karakter masing-masing.
7. Fleksibilitas Regulasi: Mengakomodasi Kebutuhan Tamu
Host yang baik menyesuaikan diri dengan kebutuhan tamu, bukan memaksa tamu mengikuti aturan kaku. Diperlukan advokasi untuk memberikan fleksibilitas lebih bagi KBN dalam hal insentif fiskal dan kemudahan operasional.
8. Transparansi dan Komunikasi: Membangun Kepercayaan
Dalam hospitalitas, kepercayaan adalah fondasi relasi. JAFZA, DMCC, dan kawasan sukses lainnya rutin mempublikasikan data kinerja. KBN perlu membangun unit komunikasi yang aktif engage dengan komunitas investor internasional.
Jendela Peluang: Menjadi Host Terbaik di Asia-Pasifik
Waktu adalah faktor kritis. Vietnam, Malaysia, dan Thailand berlomba menjadi host terbaik untuk investor global yang mencari alternatif di luar Tiongkok.
Namun Indonesia memiliki keunggulan unik: pasar domestik 270+ juta jiwa dengan kelas menengah yang tumbuh pesat. E-commerce Indonesia mencapai USD 75 miliar di 2024 dengan pertumbuhan 650% dalam 8 tahun. Investasi di Indonesia memiliki dual benefit—akses ke pasar ekspor sekaligus pasar domestik terbesar di Asia Tenggara.
KBN, dengan lokasi di Jakarta, memiliki akses langsung ke pasar ini. Tidak ada zona ekonomi khusus lain di Indonesia yang memiliki kombinasi serupa.
Pertanyaannya: apakah KBN siap menjadi tuan rumah yang mengesankan?
Penutup: Hospitality Mindset untuk Daya Saing Global
Saya percaya bahwa transformasi KBN menjadi pemain kunci hub perdagangan Asia-Pasifik membutuhkan lebih dari sekadar infrastruktur fisik dan insentif fiskal. KBN membutuhkan pergeseran paradigma—dari sekadar pengelola lahan industri menjadi host yang menyambut tamu-tamu globalnya dengan standar hospitalitas kelas dunia.
Pariwisata, dalam definisi UN Tourism, mencakup semua pergerakan manusia untuk tujuan bisnis maupun leisure. Setiap investor, buyer, supplier, dan delegasi dagang yang menginjakkan kaki di KBN adalah wisatawan yang akan membentuk persepsi tentang Indonesia sebagai destinasi bisnis. Pengalaman mereka—positif atau negatif—akan menentukan keputusan investasi mereka, rekomendasi mereka ke jaringan bisnis, dan pada akhirnya, posisi Indonesia dalam peta perdagangan global.
Teori hospitalitas mengajarkan bahwa relasi host-guest bukan sekadar transaksi komersial. Ia adalah hubungan sosial yang melibatkan penerimaan, penghormatan, dan penciptaan pengalaman positif. Kawasan industri yang menerapkan prinsip ini—seperti JAFZA, DMCC, dan Singapore FTZ—terbukti memenangkan persaingan global.
Visi KBN 2023-2027 untuk menjadi "ekosistem kawasan industri berstandar internasional" harus dimaknai dalam konteks ini. Standar internasional bukan sekadar soal sertifikasi dan infrastruktur—ia adalah soal bagaimana kita memperlakukan setiap tamu yang datang.
Jika kita serius ingin Indonesia menjadi maritime fulcrum Asia—bukan sekadar slogan—maka KBN harus menjadi contoh bagaimana kawasan industri Indonesia bisa menyambut dunia dengan keramahtamahan yang genuine dan profesional.
Sudah saatnya masa depan hub perdagangan Asia-Pasifik ditulis oleh KBN mulai sekarang.
Referensi
Allied Market Research. (2022). MICE Industry Report: Global Market Size and Forecast 2021-2031.
Bank Dunia. (2023). Logistics Performance Index 2023. World Bank Group.
Boston Consulting Group. (2024). Four Chokepoints Threatening Global Trade.
Davidson, R., & Cope, B. (1994). Business Travel: Conferences, Incentive Travel, Exhibitions, Corporate Hospitality and Corporate Travel. Pitman Publishing.
fDi Intelligence. (2024). Global Free Zones of the Year 2024 Awards. Financial Times.
Grand View Research. (2024). MICE Market Size, Share & Trends Analysis Report 2024-2030.
Hemmington, N. (2007). From Service to Experience: Understanding and Defining the Hospitality Business. The Service Industries Journal, 27(6), 747-755.
IMARC Group. (2024). Indonesia Logistics Market Report 2024-2033.
Lashley, C. (2000). Towards a Theoretical Understanding. In C. Lashley & A. Morrison (Eds.), In Search of Hospitality: Theoretical Perspectives and Debates. Butterworth-Heinemann.
Lashley, C. (2015). Hospitality and Hospitableness. Research in Hospitality Management, 5(1), 1-7.
Lashley, C. (Ed.). (2017). The Routledge Handbook of Hospitality Studies. Routledge.
Lashley, C., & Morrison, A. (Eds.). (2000). In Search of Hospitality: Theoretical Perspectives and Debates. Butterworth-Heinemann.
Research and Markets. (2025). Asia-Pacific Logistics Market Report 2025.
Technavio. (2024). Indonesia Freight Logistics Market 2024-2029.
UN Tourism. (2023). Glossary of Tourism Terms. World Tourism Organization.
UN Tourism. (2017). UNWTO Tourism Definitions. World Tourism Organization.
World Economic Forum. (2024). World's Most Vital Waterways for Global Trade. WEF Agenda.
Yang, L., & Kumarasinghe, P. (2024). Analysis of the impact of RCEP on industrial and innovation chains. PLOS ONE, 19(8).
Zhang, K. (2022). The Effect of Logistics Performance Index of RCEP Countries on China's Export Trade. Review of Economic Assessment, 1(1), 52-62.
info@pusatkajianpariwisata.id
© 2023-2026 Pusat Kajian Pariwisata Indonesia. All Rights Reserved.
