KEK Industropolis Batang: Visi Presiden Prabowo Mewujudkan "Shenzhen Indonesia" yang Holistik

Pada 20 Maret 2025, Presiden Prabowo Subianto berdiri di tengah hamparan KEK Industropolis Batang dan mengucapkan kata-kata yang menggugah: "Hari ini Indonesia memiliki kawasan yang kita harapkan bisa jadi Shenzhen-nya Indonesia, insyaallah."

Muhammad Rahmad - Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia

2/8/20267 min baca

Muhammad Rahmad - Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB)
Muhammad Rahmad - Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB)

Pada 20 Maret 2025, Presiden Prabowo Subianto berdiri di tengah hamparan KEK Industropolis Batang dan mengucapkan kata-kata yang menggugah: "Hari ini Indonesia memiliki kawasan yang kita harapkan bisa jadi Shenzhen-nya Indonesia, insyaallah." Bagi banyak orang, menyebut nama Shenzhen — kota yang bertransformasi dari desa nelayan menjadi metropolis teknologi bernilai triliunan dolar — dalam konteks sebuah kawasan di pesisir utara Jawa Tengah terdengar ambisius. Tetapi justru di situlah letak keberanian visi Presiden Prabowo: ia tidak memimpikan hal yang biasa-biasa saja untuk Indonesia.

Setelah berkesempatan mengunjungi Changi Business Park dan Jurong Industrial Estate di Singapura — dua kawasan industri terkemuka yang dikelola JTC Corporation — dan membandingkannya dengan perkembangan KEK Industropolis Batang, saya justru semakin yakin bahwa visi Presiden Prabowo bukan sekadar retorika. Ia memiliki fondasi yang nyata, dan yang lebih penting lagi, ia membawa dimensi yang justru belum dimiliki Singapura: potensi pariwisata holistik yang menyatu dengan industri.

1. Keputusan Strategis yang Tepat Waktu: Dari KITB ke KEK

Salah satu keputusan paling cerdas yang diambil oleh pemerintahan Presiden Prabowo adalah mentransformasi status KITB menjadi Kawasan Ekonomi Khusus melalui PP Nomor 12/2025. Ini bukan sekadar perubahan nomenklatur — ini adalah upgrade paradigma yang fundamental.

Sebelumnya, KITB beroperasi sebagai kawasan industri konvensional. Dengan status KEK, Industropolis Batang kini menjadi kawasan terbesar di antara seluruh KEK yang dikelola BUMN, dengan luas 2.886,7 hektar dari total pengembangan 4.300 hektar. Yang lebih penting, KEK Industropolis Batang menjadi satu-satunya KEK di Indonesia yang menggabungkan tiga sektor sekaligus: Industri dan Pengolahan, Logistik dan Distribusi, serta Pariwisata.

Keputusan untuk memasukkan pariwisata sebagai pilar ketiga inilah yang membedakan visi Presiden Prabowo dari pendekatan konvensional. Di Singapura, Changi Business Park dan Jurong Industrial Estate adalah kawasan industri yang luar biasa — tetapi keduanya tidak dirancang secara eksplisit untuk mengakomodasi fungsi pariwisata. JTC Corporation memang berhasil menciptakan kawasan yang indirectly menarik dari perspektif pengalaman, namun pariwisata bukanlah bagian dari mandat mereka.

Presiden Prabowo, dengan ketajaman strategisnya, melihat peluang yang tidak dilihat oleh banyak orang: bahwa di era ekonomi pengalaman, kawasan industri yang juga menjadi destinasi memiliki daya saing yang jauh lebih tinggi.Ini bukan sekadar tentang membangun pabrik — ini tentang membangun tempat yang membuat orang ingin datang, tinggal, dan kembali lagi.

2. Diplomasi Industri: Program TCTP sebagai Masterclass Geopolitik

Tidak kalah mengesankan adalah bagaimana Presiden Prabowo memanfaatkan momentum peresmian KEK untuk meluncurkan program Two Countries Twin Park (TCTP) — kerja sama strategis antara Indonesia dan Tiongkok yang merupakan tindak lanjut langsung dari pertemuan Presiden Prabowo dengan Presiden Xi Jinping.

Hasilnya sangat konkret: MoU dengan China State Construction Engineering Corporation (CSCEC), proyeksi investasi Rp60 triliun dalam lima tahun melalui kerangka TCTP, lahan 500 hektar yang disiapkan untuk kolaborasi bilateral, dan kehadiran 20 perusahaan Tiongkok yang siap berinvestasi. Sebagaimana disampaikan Menko Airlangga Hartarto, ini adalah "terwujudnya hasil dari pertemuan antara kedua Presiden."

Jika kita bandingkan, JTC Corporation Singapura memang memiliki joint venture internasional melalui Jurong Port — di Rizhao (Tiongkok), Yangpu (Tiongkok), dan Marunda (Indonesia). Tetapi skala kolaborasi ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan ambisi TCTP. Presiden Prabowo tidak sekadar mengundang investor — ia mendesain arsitektur geopolitik yang menjadikan KEK Industropolis Batang sebagai simpul kerja sama bilateral terbesar antara dua negara.

Dalam perspektif pariwisata holistik, kehadiran komunitas internasional (pekerja asing, eksekutif, keluarga mereka) secara otomatis menciptakan permintaan untuk fasilitas leisure, kuliner internasional, dan pengalaman budaya lokal. TCTP bukan hanya program investasi industri — ia adalah benih bagi ekosistem pariwisata bisnis yang organik.

3. Infrastruktur Terintegrasi: Fondasi yang Dibangun dengan Serius

Ketika Presiden Prabowo meresmikan KEK Industropolis Batang, Menko Airlangga Hartarto melaporkan kelengkapan infrastruktur yang telah disiapkan pemerintah: jalan kawasan, simpang susun akses jalan tol, penyediaan air baku, instalasi pengolahan air, instalasi pengolahan air limbah, reservoir air baku, tempat pengolahan sampah terpadu, instalasi gas, listrik, akses jetty, 10 tower rumah susun, serta 64 unit bangunan pabrik siap pakai.

Ini adalah komitmen infrastruktur yang luar biasa — dan patut diakui bahwa ia melampaui apa yang biasanya tersedia di kawasan industri Indonesia. Sebagai perbandingan, JTC Corporation Singapura memang terkenal dengan infrastruktur kelas dunia di kawasan-kawasan seperti Jurong Innovation District (JID) yang memiliki jaringan logistik bawah tanah dan koridor langit 11 km. Tetapi Singapura adalah negara-kota dengan GDP per kapita lebih dari sepuluh kali lipat Indonesia.

Yang menjadikan pencapaian KITB patut dipuji adalah bahwa dengan keterbatasan anggaran dan kompleksitas birokrasi yang jauh lebih besar, Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo berhasil menyiapkan infrastruktur yang comparable dalam konsep, meskipun berbeda dalam skala. Terminal Multipurpose Batang yang mulai beroperasi pada Agustus 2025 melengkapi ekosistem logistik yang langsung terhubung dengan Tol Trans Jawa — menciptakan konektivitas darat-laut yang mirip dengan sinergi antara Jurong Industrial Estate dan Jurong Port di Singapura.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bahkan melihat potensi Terminal Multipurpose ini tidak hanya sebagai fasilitas industri, tetapi juga sebagai destinasi wisata — sebuah pandangan yang sejalan dengan visi holistik yang diusung pemerintah pusat.

4. Keunggulan yang Tidak Dimiliki Singapura: Alam dan Budaya

Di sinilah poin paling menarik dari perspektif pariwisata holistik. Changi Business Park memiliki kedekatan dengan Changi Airport — salah satu bandara terbaik dunia. Jurong Industrial Estate memiliki Jurong Port dan Jurong Island. Keduanya memanfaatkan aset buatan manusia sebagai keunggulan kompetitif.

KEK Industropolis Batang memiliki sesuatu yang tidak bisa dibangun oleh uang sebanyak apa pun: lanskap alam yang memukau. Kawasan ini terhampar di antara pegunungan di selatan dan Laut Jawa di utara, dengan perkebunan hijau, danau, dan pesisir pantai. Dirut Ngurah Wirawan dengan tepat menyebutnya sebagai "satu-satunya KEK dengan akses tol langsung yang menyuguhkan pemandangan pantai."

JTC Corporation menanam 44.000 pohon di Jurong Island sebagai upaya penghijauan. JID mengalokasikan 30% kawasan untuk area hijau. Ini semua patut diapresiasi. Tetapi JTC harus membangun kehijauan dari nol di atas tanah reklamasi, sementara KITB sudah memiliki alam yang menakjubkan sebagai modal awal. Ini adalah keunggulan kompetitif yang sangat besar — dan visi Presiden Prabowo untuk menjadikan pariwisata sebagai pilar ketiga KEK menunjukkan bahwa beliau memahami nilai aset ini.

Langkah konkret sudah mulai terlihat. MoU dengan PT Arena Pacu Nusantara (Sarga Land) dan Euro Asia Management untuk mengembangkan SunPark Village Club — yang mencakup pacuan kuda, golf, dan resor terpadu — di atas lahan 200 hektar menunjukkan bahwa visi pariwisata bukan sekadar wacana. Industropolis Run 2025 yang menarik 2.525 peserta adalah bukti bahwa sport tourism di kawasan ini memiliki daya tarik nyata.

Yang lebih penting lagi, Presiden Prabowo memahami bahwa pariwisata holistik bukan soal membangun atraksi di samping pabrik — tetapi soal menjadikan seluruh kawasan sebagai pengalaman yang menarik. Dengan tiga pilar terintegrasi (industri, logistik, pariwisata), KEK Industropolis Batang berpotensi menjadi model pembangunan kawasan yang justru melebihi apa yang telah dilakukan Singapura — karena ia menggabungkan kekuatan industri dengan keindahan alam dan kekayaan budaya Jawa Tengah.

5. Dimensi Kemanusiaan: Industrialisasi yang Bermartabat

Presiden Prabowo menegaskan dengan jelas misi sosial KEK Industropolis Batang: "Ini semua demi kesejahteraan masyarakat Indonesia. Kita bertujuan untuk menghilangkan kemiskinan di negeri ini." Pernyataan ini bukan sekadar pidato seremonial — ia tercermin dalam data.

Dari 7 tenant yang telah beroperasi, 80% tenaga kerja berasal dari Kabupaten Batang sendiri. Total 7.008 lapangan kerja telah tercipta, dan proyeksi penyerapan mencapai 250.000 tenaga kerja saat kawasan beroperasi penuh. Kolaborasi dengan Kemnaker untuk pelatihan berbasis kompetensi memastikan bahwa masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku utama dalam transformasi ekonomi ini.

Dengan status KEK, Dirut Ngurah Wirawan menekankan bahwa masyarakat kini memiliki peluang yang jauh lebih luas — tidak hanya sebagai pekerja pabrik, tetapi juga bisa "merambah usaha di sektor lain, seperti jasa boga, pariwisata, perhotelan, kafe, dan lainnya." Ini adalah esensi dari pariwisata holistik yang sesungguhnya: ketika kehadiran kawasan industri tidak menghilangkan identitas lokal, melainkan justru membuka ruang bagi masyarakat untuk berkembang dengan cara mereka sendiri.

JTC Corporation Singapura berhasil membangun kawasan industri yang efisien dan produktif — tetapi Singapura tidak menghadapi tantangan pemerataan dan pengentasan kemiskinan pada skala yang sama. Apa yang dilakukan Presiden Prabowo dengan KEK Industropolis Batang adalah sesuatu yang jauh lebih kompleks dan, dalam banyak hal, jauh lebih bermakna: membangun kawasan industri kelas dunia yang sekaligus menjadi instrumen keadilan sosial.

6. Visi Jangka Panjang: Rp133,8 Triliun dan Lebih dari Sekadar Angka

Proyeksi investasi KEK Industropolis Batang mencapai Rp133,8 triliun dalam satu dekade ke depan, dengan target jangka menengah Rp75,8 triliun dalam lima tahun dan Rp60 triliun dari kerangka TCTP. Angka-angka ini mengesankan secara ekonomi, tetapi yang lebih mengesankan adalah bagaimana investasi ini diarahkan.

Presiden Prabowo tidak sekadar mengejar volume investasi — beliau mengarahkannya untuk membangun ekosistem yang berkelanjutan dan inklusif. KEK Industropolis Batang mengusung konsep Smart and Sustainable dengan filosofi nature, human, dan masa depan ekonomi berkelanjutan. Fasilitas hunian bersertifikasi Greenship Neighborhood, penggunaan energi terbarukan melalui SEG Solar, pengelolaan air limbah terintegrasi — semua ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh mengorbankan kelestarian lingkungan.

Sebagai perbandingan, JTC Corporation Singapura memiliki program SolarRoof dan Decarbonisation Living Lab di JID. Ini memang lebih matang karena telah berjalan lebih lama. Tetapi arah kebijakan yang ditetapkan oleh Presiden Prabowo untuk KEK Industropolis Batang sudah tepat sejak awal — dan justru memiliki keuntungan karena bisa belajar dari pengalaman Singapura tanpa harus mengulangi kesalahannya.

7. Pariwisata Holistik: Visi yang Melampaui Benchmarking

Saya ingin menegaskan mengapa perspektif pariwisata holistik sangat relevan dalam membaca visi Presiden Prabowo untuk KEK Industropolis Batang.

Pariwisata holistik memandang sebuah kawasan sebagai organisme hidup — tempat di mana fungsi ekonomi, ekologi, sosial-budaya, dan pengalaman manusiawi berada dalam keseimbangan. Dalam kerangka ini, sebuah kawasan industri yang berhasil bukan hanya yang menarik investasi, melainkan yang menjadi destinasi dalam pengertian seluas-luasnya.

Changi Business Park adalah benchmark yang sangat baik untuk kawasan bisnis premium. Ia menjual pengalaman bekerja dalam ekosistem kelas dunia yang terhubung ke bandara terbaik dunia. Jurong Industrial Estate adalah benchmark untuk ekosistem industri-logistik terpadu — pengalaman melihat bagaimana industri berat bertransformasi menjadi kawasan hijau dan inovatif. Keduanya menciptakan pengalaman, meskipun bukan secara eksplisit sebagai destinasi wisata.

KEK Industropolis Batang, di bawah visi Presiden Prabowo, berambisi menjadi sesuatu yang lebih dari keduanya: sebuah kawasan di mana industri, logistik, dan pariwisata bukan tiga sektor yang terpisah, melainkan satu narasi yang menyatu. Di mana seorang investor bisa turun dari tol dan melihat Laut Jawa. Di mana pekerja pabrik sepatu Converse dan Hoka bisa menikmati akhir pekan di resort tepi pantai. Di mana delegasi bisnis dari Fujian bisa merasakan batik Batang dan kuliner pesisir setelah menandatangani kontrak. Di mana Industropolis Run bukan sekadar event tahunan, melainkan cerminan dari kawasan yang memang indah untuk dilalui setiap hari.

Ini bukan utopia — ini adalah arah kebijakan yang sudah ditetapkan melalui PP 12/2025. Dan Presiden Prabowo, dengan segala ketegasan dan visi besar yang menjadi ciri kepemimpinannya, telah meletakkan fondasinya.

Indonesia Bisa, Indonesia Harus

Presiden Prabowo pernah menegaskan bahwa "kemakmuran dapat diraih melalui kerja keras dan kepemimpinan yang tegas." KEK Industropolis Batang adalah perwujudan nyata dari pernyataan ini.

Setelah melihat langsung bagaimana Singapura mengelola Changi Business Park dan Jurong Industrial Estate melalui JTC Corporation — dengan total aset Rp431 triliun, surplus bersih Rp24,3 triliun per tahun, dan puluhan tahun pengalaman — saya tidak gentar, melainkan justru optimis. Optimis karena Indonesia, melalui kepemimpinan Presiden Prabowo, tidak sekadar meniru Singapura tetapi berani melampaui benchmark dengan menambahkan dimensi yang unik: pariwisata holistik, kekayaan alam, kedalaman budaya, dan misi keadilan sosial.

Singapura membangun kawasan industri yang efisien dan indah di atas tanah yang terbatas. Indonesia, di bawah Presiden Prabowo, membangun kawasan industri yang ambisius dan bermakna di atas tanah yang melimpah — dengan pemandangan gunung di satu sisi dan deburan Laut Jawa di sisi lain.

Angka-angka sudah bicara: Rp17,95 triliun investasi telah terealisasi, 27 tenant telah berkomitmen, 7.008 lapangan kerja telah tercipta, Terminal Multipurpose telah beroperasi, dan target Rp133,8 triliun dalam satu dekade sudah dirancang. Tetapi yang lebih penting dari angka adalah visi — dan Presiden Prabowo telah memberikan visi yang berani: menjadikan KEK Industropolis Batang bukan sekadar kawasan industri, melainkan ikon keberhasilan pengembangan kawasan industri terintegrasi yang bisa menjadi contoh bagi seluruh Indonesia, bahkan Asia Tenggara.

Singapura membuktikan bahwa kawasan industri bisa menjadi tempat yang dikagumi. Indonesia — melalui KEK Industropolis Batang dan visi Presiden Prabowo — sedang membuktikan bahwa kawasan industri bisa menjadi tempat yang dicintai.

Disclaimer: Opini ini merupakan pandangan pribadi berdasarkan kunjungan lapangan ke Changi Business Park dan Jurong Industrial Estate (Singapura), data publik KEK Industropolis Batang, serta perbandingan dengan Annual Report JTC Corporation FY2022–FY2024.