Kekuatan Dahsyat Sport Tourism: Ronaldo Mogok, Saudi Kehilangan Pasar Rp40 Triliun
Ketika Satu Pemain Sepak Bola Membuktikan bahwa Pariwisata Olahraga (Sport Tourism) Lebih Ganas dari Seluruh Mesin Industri Manufaktur. Ronaldo Mogok, Saudi Kehilangan Pasar Rp40 Triliun
Muhammad Rahmad - Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia
2/13/20265 min baca


Pada awal Februari 2026, Cristiano Ronaldo memilih tidak turun ke lapangan. Bukan karena cedera, bukan karena usia yang telah memasuki kepala empat. Penyerang asal Portugal itu mogok bermain — dua laga berturut-turut — sebagai bentuk protes terhadap Public Investment Fund (PIF), dana kekayaan negara Arab Saudi yang ia anggap memperlakukan Al Nassr secara tidak adil dibandingkan rival mereka, Al Hilal. Sebuah keputusan personal yang tampak sederhana.
Namun dampaknya sama sekali tidak sederhana. FOX Sports, salah satu broadcaster internasional terbesar, dilaporkan menarik diri dari liputan Saudi Pro League. Kerugian nilai media dan komersial yang ditimbulkan mencapai 2,4 miliar dolar AS — atau setara dengan Rp40 triliun. Angka itu lahir bukan dari bencana alam, bukan dari krisis finansial, melainkan dari ketidakhadiran satu orang di sebuah lapangan hijau selama dua pertandingan.
Fenomena ini seharusnya menghentakkan cara berpikir kita tentang pembangunan ekonomi.
Rp40 Triliun dalam Perspektif Industri Manufaktur
Untuk memahami betapa dahsyatnya angka tersebut, mari kita letakkan dalam konteks industri manufaktur — sektor yang selama beberapa dekade dianggap sebagai tulang punggung pembangunan ekonomi di banyak negara, termasuk Indonesia.
PT Astra International, konglomerat manufaktur terbesar di Indonesia yang menaungi Toyota, Honda, dan ratusan anak usaha lainnya, mencatatkan laba bersih Rp34 triliun pada tahun 2024. Artinya, seluruh keuntungan Astra selama satu tahun penuh — dengan total aset hampir Rp473 triliun dan ratusan ribu tenaga kerja — masih belum menyamai kerugian yang ditimbulkan oleh mogoknya satu pemain sepak bola selama dua pertandingan.
Perbandingan lain lebih mengejutkan. Unilever Indonesia, yang produknya hadir di hampir setiap rumah tangga di negeri ini, membukukan laba bersih Rp7,64 triliun pada 2025. Dibutuhkan lebih dari lima tahun kerja tanpa henti bagi Unilever untuk mengumpulkan keuntungan setara Rp40 triliun. Indofood CBP, produsen Indomie yang menjangkau lebih dari 100 negara, memerlukan waktu hampir enam tahun untuk meraih angka yang sama. Kalbe Farma, raksasa farmasi nasional, membutuhkan lebih dari sebelas tahun.
Jika Rp40 triliun itu dikonversi ke dalam investasi riil, angka tersebut mampu membangun 8 hingga 10 pabrik mobil berskala VinFast atau BYD, yang masing-masing berkapasitas produksi 50.000 hingga 150.000 unit per tahun. Atau setara dengan pembangunan sekitar 80 hotel bintang lima di seluruh Indonesia. Atau cukup untuk mendirikan 8 hingga 13 kawasan industri baru yang mampu menyerap ratusan ribu tenaga kerja.
Angka-angka ini bukan sekadar perbandingan retoris. Ia menyingkap sebuah realitas ekonomi yang kerap diabaikan: bahwa kekuatan pariwisata olahraga — atau sport tourism — telah melampaui daya ungkit banyak sektor industri konvensional dalam menciptakan dan menghancurkan nilai ekonomi.
Kekuatan Dahsyat yang Bernama Sport Tourism
Data global menunjukkan bahwa pasar sport tourism dunia mencapai nilai sekitar 685 miliar dolar AS pada 2024, dan diproyeksikan menembus 2 triliun dolar AS pada 2032 dengan tingkat pertumbuhan tahunan mencapai 16 persen — jauh melampaui pertumbuhan rata-rata industri manufaktur global yang berkisar 3 hingga 5 persen. Sepak bola menjadi motor utama, menguasai lebih dari 37 persen pangsa pasar sport tourism dunia.
Secara lebih luas, sektor travel and tourism telah menyumbang 11,7 triliun dolar AS terhadap PDB global pada 2025, atau setara 10,3 persen dari seluruh ekonomi dunia. Sektor ini menopang 371 juta pekerjaan — satu dari setiap sepuluh pekerjaan di planet ini. Bahkan menurut World Travel and Tourism Council (WTTC), sektor pariwisata kini tumbuh lebih cepat dibandingkan sektor consumer goods, menandai pergeseran fundamental: manusia semakin menghargai pengalaman ketimbang kepemilikan barang.
Arab Saudi memahami betul transformasi ini. Kedatangan Cristiano Ronaldo ke Al Nassr pada 2023 bukan sekadar transfer sepak bola — ia adalah investasi strategis dalam Vision 2030, sebuah cetak biru transformasi ekonomi dari ketergantungan minyak menuju diversifikasi yang bertumpu pada pariwisata, hiburan, dan olahraga. Hasilnya nyata: WTTC memproyeksikan sektor travel and tourism Saudi akan menyumbang lebih dari 10 persen PDB pada 2025, dengan belanja wisatawan internasional diperkirakan mencapai hampir 200 miliar riyal Saudi — rekor tertinggi sepanjang sejarah kerajaan itu.
Ronaldo, dalam konteks ini, bukan sekadar pencetak gol. Ia adalah magnet ekonomi — satu individu yang mampu menggerakkan miliaran dolar dalam hak siar, sponsorship, merchandise, dan arus wisatawan. Ketika ia mogok, seluruh ekosistem ekonomi itu terguncang. Kerugian Rp40 triliun dalam dua pertandingan adalah bukti empiris betapa terkonsentrasinya nilai ekonomi dalam industri pariwisata olahraga.
Paradoks Pembangunan: Manufaktur versus Pariwisata
Temuan ini menghadirkan sebuah paradoks bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, yang selama ini menjadikan industrialisasi manufaktur sebagai pilar utama pembangunan.
Tidak ada yang keliru dengan industrialisasi. Sektor manufaktur Indonesia menyumbang sekitar 20 persen terhadap PDB, menyerap jutaan tenaga kerja, dan menjadi fondasi ekspor nonmigas. Pembangunan kawasan industri di Batang, Subang, dan berbagai wilayah lain merupakan langkah penting yang harus terus didorong.
Namun data menunjukkan bahwa net profit margin industri manufaktur rata-rata hanya berkisar 5 hingga 8 persen, dengan siklus balik modal yang panjang — biasanya 7 hingga 15 tahun. Sementara itu, industri pariwisata olahraga mampu menghasilkan multiplier effect yang berlipat ganda dalam tempo yang jauh lebih singkat: dari penjualan tiket, hak siar televisi, akomodasi, transportasi, kuliner, hingga ekonomi digital yang tercipta di sekitarnya.
Perbandingan ini bukan untuk mendiskreditkan manufaktur. Ia justru hendak menegaskan bahwa kebijakan pembangunan ekonomi di abad ke-21 tidak bisa lagi bersandar pada satu pilar tunggal. Negara-negara yang cerdas — seperti yang dilakukan Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab — telah mulai mengintegrasikan pariwisata olahraga sebagai komponen strategis dalam arsitektur ekonomi mereka.
Apa Pelajaran untuk Indonesia?
Indonesia sesungguhnya memiliki potensi luar biasa dalam sport tourism yang belum tergarap secara serius. Kita memiliki sirkuit Mandalika yang telah menjadi tuan rumah MotoGP, Jakarta International Stadium yang megah, serta kekayaan alam yang memungkinkan pengembangan adventure sport tourism — dari selancar di Mentawai hingga diving di Raja Ampat.
Namun potensi itu masih terfragmentasi. Belum ada grand design nasional yang secara eksplisit memosisikan sport tourism sebagai instrumen pembangunan ekonomi. Kita masih memperlakukan event olahraga besar semata sebagai ajang prestasi atau seremonial, bukan sebagai mesin ekonomi yang terukur dan berkelanjutan.
Data menunjukkan bahwa 73 persen populasi Generasi Z global lebih memilih pengalaman wisata kelompok ke event olahraga besar seperti Piala Dunia dan Olimpiade. Ini adalah pasar masa depan yang sedang terbentuk, dan Indonesia harus bergerak cepat untuk mengambil posisi.
Beberapa langkah strategis yang perlu dipertimbangkan. Pertama, menjadikan sport tourism sebagai subsektor prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, bukan sekadar pelengkap sektor pariwisata konvensional. Kedua, membangun infrastruktur olahraga bertaraf internasional yang terintegrasi dengan ekosistem pariwisata — hotel, transportasi, dan konektivitas digital. Ketiga, menjalin kemitraan strategis dengan federasi olahraga internasional untuk secara konsisten menjadi tuan rumah event-event berskala global. Keempat, mengembangkan talent ecosystem yang mampu memproduksi atlet dan event berkelas dunia, karena pada akhirnya sport tourism membutuhkan konten — pertandingan yang menarik, atlet yang menginspirasi, dan pengalaman yang tak terlupakan.
Fenomena Ronaldo di Al Nassr ini mengajarkan kita satu hal yang fundamental: bahwa dalam ekonomi abad ke-21, nilai tidak lagi semata-mata tercipta dari proses produksi barang di pabrik. Ia tercipta dari pengalaman, dari emosi, dari jutaan pasang mata yang menonton, dari miliaran jempol yang menggulir layar ponsel, dan dari keputusan seorang wisatawan untuk membeli tiket pesawat menuju sebuah kota hanya untuk menyaksikan satu pertandingan.
Sekitar Rp40 triliun menguap dalam dua laga. Angka yang membutuhkan waktu bertahun-tahun bagi perusahaan manufaktur terbesar Indonesia untuk dikumpulkan. Angka yang setara dengan pembangunan sepuluh pabrik mobil atau delapan puluh hotel bintang lima.
Pertanyaannya bukan lagi apakah pariwisata olahraga itu penting. Pertanyaannya adalah: apakah kita cukup berani menjadikan pariwisata pilar pembangunan, ataukah kita akan terus menjadi penonton sambil negara-negara lain meraup triliunan dari industri yang sedang tumbuh paling pesat di dunia saat ini?
info@pusatkajianpariwisata.id
© 2023-2026 Pusat Kajian Pariwisata Indonesia. All Rights Reserved.
