Ketika Mesin Ikut Memesan Liburan Kita

Kecerdasan buatan kini tidak hanya menjawab pertanyaan wisatawan, tetapi mulai mencari, membandingkan, dan memesan liburan atas nama mereka.

OPINI

Muhammad Rahmad - Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata & Ekonomi Indonesia

10/11/20263 min baca

Muhammad Rahmad
Muhammad Rahmad

Selama ini kita mengenal kecerdasan buatan (AI) sebagai mesin yang menjawab pertanyaan. Wisatawan bertanya kepada ChatGPT tentang tempat menginap, lalu memutuskan sendiri. Kini AI mulai melangkah lebih jauh. Generasi baru yang disebut AI agen mampu mencari, membandingkan, memesan, bahkan mengubah jadwal perjalanan atas nama penggunanya. Jika mesin semakin sering mengambil keputusan berlibur, siapkah pariwisata Indonesia bersaing merebut perhatian mesin itu?

Pertanyaan ini penting karena AI agen menggeser siapa yang memutuskan. Dulu hotel, biro perjalanan, dan pemerintah daerah cukup meyakinkan wisatawan. Ke depan, mereka juga harus meyakinkan mesin yang bekerja untuk wisatawan. Sejumlah peneliti bahkan menyebut AI sebagai penentu baru arus wisatawan, karena mesin itulah yang mengarahkan ke mana wisatawan pergi dan berapa banyak uang mereka yang tinggal di daerah tujuan. Bagi Indonesia, yang menerima 10,58 juta kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang Januari hingga Agustus 2026, urusan ini menyangkut devisa dan lapangan kerja.

Sayangnya, pengetahuan kita tentang AI agen masih tipis. Saya menelaah 1.815 artikel tentang AI dan pariwisata yang terbit pada 2023 hingga 2026 di jurnal internasional terkemuka dan jurnal nasional terakreditasi. Hanya 22 artikel yang menjadikan AI agen sebagai pokok bahasan, dan 18 di antaranya baru terbit tahun ini. Sebagian besar masih berupa gagasan dan kerangka berpikir, belum hasil pengamatan di lapangan. Lebih memprihatinkan lagi, tidak satu pun berasal dari jurnal nasional kita, dan tidak ada yang menyajikan bukti dari Asia Tenggara.

Meski jumlahnya sedikit, penelitian yang ada memberi pelajaran berharga tentang perilaku wisatawan. Survei terhadap 421 wisatawan menunjukkan bahwa mereka mau menyerahkan keputusan kepada AI bila mesin itu dapat diandalkan dan ada pihak yang bertanggung jawab atas hasilnya. Menariknya, penjelasan yang berlebihan justru membuat wisatawan enggan menyerahkan keputusan. Serangkaian percobaan lain menemukan bahwa wisatawan lebih mudah menerima usulan rencana perjalanan dari AI daripada dari petugas biro perjalanan, karena mereka menganggap mesin tidak punya kepentingan tersembunyi.

Kepercayaan itu ternyata punya sisi gelap. Lima percobaan dengan 900 peserta di Tiongkok menunjukkan bahwa pelanggan lebih mudah berbuat tidak jujur ketika dilayani AI daripada ketika dilayani manusia, karena rasa empati dan kewajiban moral mereka melemah. Risiko lain datang dari mesinnya sendiri. Ketika AI hanya memberi saran, wisatawan masih bisa mengoreksi kesalahannya. Ketika AI bertindak, kesalahan itu langsung menjadi transaksi. Dalam satu pengujian, sebuah agen AI hanya mampu menjawab benar 42 persen pertanyaan tentang data hunian wisata.

Meski begitu, manfaatnya bagi pelaku usaha sudah mulai terlihat. Uji coba tiga bulan di 200 hotel menunjukkan bahwa sistem yang terdiri atas tiga agen AI memangkas waktu membalas surel tamu dari 18 jam menjadi 4,2 jam. Pertanyaan tamu yang tuntas pada balasan pertama naik dari 68 persen menjadi 83,6 persen, dan kepuasan tamu ikut meningkat. Hasil ini memberi gambaran betapa besar efisiensi yang bisa diraih hotel dan biro perjalanan kita, asalkan manusia tetap memeriksa hasil kerja mesin.

Perubahan terbesar justru menyangkut cara kita memasarkan destinasi. Para peneliti menyebut pemasaran kini memiliki dua sasaran. Manusia masih tersentuh oleh cerita yang menggugah, tetapi mesin hanya bisa membaca data yang tersusun rapi dan dapat diperiksa kebenarannya. AI agen akan jarang memilih hotel, desa wisata, dan destinasi yang informasinya berserakan, tidak lengkap, atau hanya tersedia dalam bentuk brosur. Penelitian lain mengingatkan bahwa semakin spesifik permintaan wisatawan kepada AI, semakin sempit pilihan yang ditawarkan mesin dan semakin seragam pula harganya.

Bagi Indonesia, temuan ini adalah peringatan sekaligus peluang. Data pariwisata kita masih tersebar di banyak instansi, dan sebagian besar pelaku usaha adalah usaha kecil yang belum menyajikan informasi produknya secara rapi. Jika keadaan ini berlanjut, AI agen akan lebih sering mengarahkan wisatawan ke negara tetangga yang datanya lebih siap. Sebaliknya, jika kita bergerak cepat, AI agen justru bisa membawa wisatawan ke destinasi yang selama ini kurang dikenal. Kementerian Pariwisata sudah memulai langkah itu melalui portal indonesia.travel, asisten perjalanan berbasis AI bernama MaiA, dan penyatuan data dalam Satu Data Pariwisata. Langkah ini perlu diperluas hingga menjangkau pelaku usaha di daerah.

Pemerintah juga perlu menyiapkan aturan mainnya. Setidaknya ada tiga langkah yang mendesak. Pertama, pemerintah perlu memperlakukan data pariwisata yang terbuka dan seragam sebagai infrastruktur publik, sama pentingnya dengan jalan dan bandara. Kedua, pemerintah perlu rutin memantau bagaimana AI menggambarkan dan merekomendasikan destinasi Indonesia. Ketiga, pemerintah perlu menetapkan siapa yang menanggung kerugian bila AI agen salah memesan, sekaligus menyiapkan pekerja pariwisata menghadapi perubahan tugas. Sejumlah peneliti mengingatkan bahwa ekonomi yang digerakkan oleh agen AI bisa meningkatkan kinerja perusahaan, tetapi juga mengubah lapangan kerja di sektor yang selama ini menampung banyak pekerja.

Kampus dan peneliti Indonesia pun perlu mengisi kekosongan ini. Penelitian AI di jurnal nasional kita masih berkutat pada chatbot, sistem rekomendasi, dan analisis ulasan. Padahal, pertanyaan yang lebih mendesak sedang menunggu jawaban. Destinasi mana yang dipilih AI agen? Siapa yang menikmati keuntungannya? Seberapa banyak uang wisatawan yang tetap tinggal di daerah? Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan arah kebijakan pariwisata kita dalam satu dekade ke depan.

AI agen tidak akan menggantikan pesona alam dan budaya Indonesia. Namun, mesin itulah yang akan menentukan destinasi mana yang lebih dulu sampai ke hadapan wisatawan. Negara yang menyiapkan data, aturan, dan manusianya sejak sekarang akan menikmati gelombang ini. Negara yang menunggu hanya akan menjadi penonton ketika mesin memesankan liburan jutaan orang ke tempat lain.

*) Penulis adalah Dosen Institut Pariwisata Trisakti dan Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata dan Ekonomi Indonesia

Email

info@pusatkajianpariwisata.id

© 2023-2026 Pusat Kajian Pariwisata & Ekonomi Indonesia. All Rights Reserved.