Ketika Pasar Pariwisata Indonesia Disedot Jepang: Kita Harus Apa?

Untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade, Indonesia kehilangan posisinya sebagai destinasi Asia paling favorit bagi wisatawan Australia — disalip Jepang yang lebih gesit mengonversi peluang menjadi devisa.

Muhammad Rahmad - Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia

4/20/20264 min baca

Muhammad Rahmad - Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia
Muhammad Rahmad - Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia

Kompas.com (19/04/2026) menurunkan berita yang bertajuk: “Indonesia Tak Lagi Jadi Destinasi Favorit Turis Australia”. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade, Indonesia kehilangan posisinya sebagai destinasi Asia paling favorit bagi wisatawan Australia. Data Australian Bureau of Statistics (ABS) yang dirilis pada pertengahan April 2026 mencatat kunjungan turis Australia ke Jepang pada Februari 2026 mencapai 103.360 perjalanan, sedangkan kunjungan turis Australia ke Indonesia hanya 101.630 perjalanan.

Indonesia — yang dalam konteks Australia adalah identik dengan Bali — kini turun ke peringkat kedua sebagai destinasi favorit wisatawan Negeri Kanguru itu. Pertama kali terjadi dalam sejarah pariwisata Indonesia. Ini adalah sinyal struktural yang menandai akhir sebuah era dan awal kompetisi baru yang harus dihadapi Indonesia.

Pertanyaan yang harus dijawab bukan "mengapa Jepang menarik", melainkan "bagaimana Jepang bergerak lebih cepat dan lebih tepat dari kita". Jawabannya terletak pada empat strategi yang dieksekusi Jepang secara terkoordinasi dalam dua tahun terakhir.

Pertama, mengonversi sinyal harga menjadi kampanye pemasaran. Ketika yen melemah tajam terhadap dolar Australia — menguat sekitar 25 persen dalam sepuluh tahun terakhir — Japan National Tourism Organization (JNTO) tidak berdiam diri menunggu wisatawan datang. Mereka merancang narasi baru: Jepang sebagai destinasi premium dengan harga mid-range. Hotel bintang empat di Osaka seharga vila di Seminyak, sushi premium dengan harga warung pinggir pantai Kuta, transportasi publik yang jauh lebih murah dibanding menyewa sopir harian di Bali. Hasilnya: penerimaan pariwisata inbound Jepang menembus 8,1 triliun yen pada 2024 — rekor sepanjang sejarah.

Kedua, membangun konektivitas udara secara agresif. Maskapai Jepang dan Australia memperbanyak frekuensi langsung dari Sydney, Melbourne, Brisbane, hingga Perth ke Tokyo, Osaka, dan Fukuoka. Hal ini dimungkinkan karena otoritas bandara Jepang beroperasi dengan model pendapatan non-aeronautika yang mensubsidi biaya aeronautika — landing feedan ground handling ditekan untuk menarik rute baru. Model ini sama dengan yang dijalankan Changi dan KLIA sejak lama, dan menjadi fondasi mengapa Singapura dan Malaysia bisa terus menambah frekuensi penerbangan sementara kita terseret oleh biaya bandara yang menjadi beban kalkulasi maskapai asing.

Ketiga, menyederhanakan keimigrasian. Jepang telah lama menerapkan bebas visa bagi pemegang paspor Australia untuk kunjungan hingga 90 hari. Proses kedatangan di Narita dan Haneda telah sepenuhnya terdigitalisasi dengan automated gates. Wisatawan turun pesawat, pindai paspor, dan dalam hitungan menit sudah berada di kereta menuju pusat kota. Bandingkan dengan pengalaman di Ngurah Rai yang masih sering terjadi antrean imigrasi panjang, terutama pada musim puncak.

Keempat, mendistribusikan wisatawan ke seluruh kepulauan. Jepang tidak menjual Tokyo saja. Mereka menjual Kyoto, Osaka, Hokkaido, Okinawa, Fukuoka, hingga desa-desa bersalju di Tohoku, dalam paket pemasaran yang terintegrasi. Hal ini meringankan beban kota-kota besar dari overtourism sekaligus memberi kesan bahwa Jepang adalah negara yang bisa "dikunjungi berkali-kali tanpa pernah habis". Indonesia, sebaliknya, masih bergantung pada satu pulau sebagai etalase tunggal.

Di sinilah akar masalah pariwisata Indonesia yang sesungguhnya. Kita bukan kehilangan keindahan. Kita kehilangan sistem yang mampu mengonversi keindahan menjadi kedatangan, kedatangan menjadi devisa, dan devisa menjadi fondasi ekonomi. Bali bahkan masih dinobatkan TripAdvisor sebagai destinasi terbaik dunia 2026 — tapi paradoks ini justru memperlihatkan jurang yang kian lebar antara perceived quality oleh reviewer global dan lived experience wisatawan.

Beban Bali makin berat. Laporan Fodor's memasukkan pulau ini ke dalam "No List 2025" karena overtourism, apokalips plastik, dan degradasi budaya. Kemacetan rute bandara-Ubud menjadi keluhan berulang. Korea Selatan bahkan sempat mengeluarkan travel warning. Kasus kriminal terhadap wisatawan asing meningkat hingga gubernur baru harus turun tangan memberi jaminan keamanan. Okupansi hotel Bali pada libur Lebaran 2026 hanya menyentuh 65 persen — angka yang dua tahun lalu tidak terbayangkan.

Di sisi kebijakan, Indonesia masih terbelit strategi bebas visa yang tidak konsisten. Terlalu sering direvisi tanpa sosialisasi memadai. Terlalu panjang proses di lapangan meski regulasinya sudah ada. Wisatawan tidak membaca peraturan menteri; mereka membandingkan pengalaman memesan tiket pada hari Senin pagi. Ketika Vietnam menawarkan e-visa 90 hari dengan proses tiga hari seharga 38 dolar Australia, sementara kita masih meminta wisatawan melalui layanan yang berubah-ubah tiap kali ada pergantian direktorat jenderal, pasar tidak akan menunggu kita membenahi diri.

Pemerintah Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan anggaran, tidak kekurangan destinasi, tidak kekurangan pelaku industri yang kompeten. Yang kurang adalah command structure — struktur komando terpadu yang mampu mengubah keunggulan struktural menjadi kemenangan operasional. Jepang memenangkan pasar Australia bukan karena Gunung Fuji tiba-tiba lebih spektakuler dari Gunung Agung, melainkan karena pemerintahnya bergerak sebagai satu tim tunggal. Kementerian pariwisata, kementerian luar negeri, otoritas bandara, imigrasi, dan operator transportasi publik berada di bawah sinyal strategi yang sama, dieksekusi dengan kecepatan yang sama.

Lima hal yang harus segera dilakukan Indonesia, dan sebenarnya tidak rumit jika ada kemauan politik untuk mengeksekusinya. Pertama, reformasi model bisnis bandara dari cost recovery menjadi revenue diversification — meniru model Jepang, Singapura, dan Malaysia. Strategi ini menghasilkan biaya aeronautika turun, harga tiket kompetitif, dan rute-rute baru lebih mudah dibuka. Kedua, percepat akselerasi lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas: Borobudur, Danau Toba, Labuan Bajo, Mandalika, dan Likupang, dengan konektivitas langsung dari pasar-pasar kunci.

Ketiga, kampanye pemasaran bertarget di Sydney, Melbourne, dan Brisbane yang menjual "Indonesia", bukan hanya "Bali" — sebagai paket kepulauan yang beragam. Keempat, kepastian kebijakan keimigrasian dengan umur minimal lima tahun agar operator tur dan maskapai bisa menjual dengan yakin. Kelima, integrasi lintas-kementerian dalam satu gugus tugas dengan akuntabilitas target yang terukur: jumlah wisman, devisa, rata-rata pengeluaran per wisatawan, dan tingkat hunian di luar Bali.

Kita tidak sedang menghadapi krisis pariwisata. Kita sedang menghadapi kompetisi yang semakin tajam di kawasan, dengan kompetitor yang telah lama belajar mengonversi peluang menjadi kedatangan, dan kedatangan menjadi devisa. Jepang hanya satu dari beberapa negara yang sedang bergerak cepat. Di belakang Jepang, Vietnam tumbuh dengan agresivitas visa yang jauh melampaui kita. Malaysia akan memasuki "Visit Malaysia 2026" dengan anggaran promosi terbesar sepanjang sejarahnya. Thailand mempertahankan dominasinya meski sempat tertekan isu keamanan.

Dalam pariwisata, pasar yang disedot tidak selalu kembali. Ia cukup menemukan pengganti yang lebih nyaman, lebih murah, lebih ramah — dan berhenti mencari yang dulu ia cintai. Data Februari 2026 adalah peringatan pertama. Apakah kita akan menjadikannya momen berbenah, atau hanya menambah daftar keluhan yang tidak pernah ditindaklanjuti.*