Pariwisata Adventure: Merajut Peluang Emas
Indonesia tengah berada di persimpangan emas industri pariwisata global.
Muhammad Rahmad
11/11/20255 min read


Indonesia tengah berada di persimpangan emas industri pariwisata global. Ketika dunia pasca-pandemi mencari pengalaman perjalanan yang lebih bermakna, autentik, dan menantang, pariwisata adventure (adventure tourism) muncul sebagai salah satu segmen dengan pertumbuhan tercepat. Pasar global adventure tourism diproyeksikan tumbuh dari USD 406 miliar pada 2024 menjadi USD 1.010 miliar pada 2030, dengan tingkat pertumbuhan tahunan mencapai 16,8% (Grand View Research, 2024). Di tengah momentum tersebut, Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk merebut peran sentral sebagai destinasi adventure tourism kelas dunia.
Keunggulan Kompetitif yang Tak Tertandingi
Indonesia bukan sekadar negara dengan potensi adventure tourism. Dengan lebih dari 17.500 pulau, 400 gunung berapi (129 di antaranya masih aktif), garis pantai terpanjang di dunia yang mencapai 54.720 kilometer, serta 10 Situs Warisan Dunia UNESCO, Indonesia menawarkan keragaman lanskap yang sulit ditandingi oleh destinasi manapun di dunia (GoWithGuide, 2025). Dari puncak Cartenz Pyramid yang menjadi bagian dari Seven Summits, hingga kedalaman laut Raja Ampat dengan biodiversitas tertinggi di planet ini, Indonesia adalah laboratorium alam untuk segala bentuk petualangan.
Dunia internasional mengakuinya. Pada World Travel Awards 2024, Indonesia dinobatkan sebagai Asia's Leading Adventure Tourism Destination. Ini menandakan bahwa Indonesia adalah pemain utama di Asia (Road Genius, 2025). Meski gelar tersebut berpindah ke Jepang pada tahun 2025, pencapaian tersebut telah menempatkan Indonesia dalam radar internasional sebagai destinasi adventure yang kredibel dan menarik.
Momentum Pertumbuhan yang Mengesankan
Data terkini menunjukkan bahwa adventure tourism Indonesia bukan sekadar wacana, melainkan kenyataan yang tengah berkembang pesat. Hingga Juni 2025, kunjungan wisatawan asing meningkat 9,4 persen, sementara pergerakan wisatawan domestik tumbuh 25,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (ANTARA, 2025). Lebih mengesankan lagi, segmen adventure travel Indonesia mengalami pertumbuhan 100% pada 2024 dibandingkan 2019, menurut EXO Adventure Director Matt Blench (Travel and Tour World, 2024).
Pertumbuhan ini bukan kebetulan. Ia adalah hasil dari perubahan fundamental dalam perilaku wisatawan global. Seperti yang disampaikan Budi Supriyanto, Asisten Deputi Manajemen Industri Kementerian Pariwisata, dalam Musyawarah Nasional IATTA (Indonesian Adventure Travel Trade Association) pada 16 September 2025, "Adventure tourism telah menjadi tren global karena wisatawan mencari pengalaman yang menantang, autentik, dan berkesan yang terkait dengan budaya" (Tempo.co, 2025).
Kontribusi Ekonomi yang Signifikan
Dampak ekonomi dari perkembangan ini sangat nyata. Pada 2024, sektor pariwisata Indonesia mendukung lebih dari 12,5 juta pekerjaan dengan pengeluaran wisatawan internasional yang melonjak 22,3% menjadi IDR 291 triliun, sementara pengeluaran domestik meningkat 7,0% mencapai IDR 344 triliun (Road Genius, 2025). Kontribusi pariwisata terhadap GDP nasional juga menunjukkan tren positif, tumbuh dari 4,8% pada 2023 menjadi 5,1% pada 2024 (Pear Anderson, 2025).
Yang lebih menarik, rata-rata pengeluaran wisatawan internasional per perjalanan meningkat signifikan dari USD 896 pada 2023 menjadi USD 1.201 pada 2024—peningkatan 34% dalam setahun dan bahkan melampaui level pra-pandemi 2019 sebesar USD 1.143 (Road Genius, 2025). Ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya menarik lebih banyak wisatawan, tetapi juga wisatawan dengan daya beli yang lebih tinggi.
Peluang yang Masih Terbentang Luas
Meski pencapaian impressive, Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang sangat besar. Kawasan Asia-Pasifik diproyeksikan menjadi pasar adventure tourism dengan pertumbuhan tercepat, dengan CAGR 18,0% dari 2025 hingga 2030 (Grand View Research, 2024). Khususnya untuk Asia Tenggara, pasar adventure tourism diproyeksikan tumbuh dengan CAGR 18,9% dengan ukuran pasar USD 4,54 miliar pada 2024 (Cognitive Market Research, 2024).
Indonesia memiliki posisi strategis untuk menangkap momentum ini. Liberalisasi visa di kawasan Asia Tenggara, peningkatan konektivitas udara melalui maskapai berbiaya rendah, dan penetrasi internet yang meningkat menciptakan kondisi ideal untuk pertumbuhan eksponensial (Future Market Insights, 2025). Marketplace booking online seperti GetYourGuide, Viator, dan Klook yang tumbuh dengan CAGR 13,4% membuka akses pasar global yang sebelumnya sulit dijangkau oleh operator lokal (Future Market Insights, 2025).
Tantangan yang Harus Diatasi
Namun, peluang besar ini hadir bersama tantangan yang tidak bisa diabaikan. Data mengkhawatirkan menunjukkan bahwa hanya 50% wisatawan menginap di akomodasi legal atau berlisensi (ANTARA, 2025). Ini bukan hanya masalah ekonomi—hilangnya potensi pendapatan—tetapi juga masalah keselamatan, kualitas layanan, dan keberlanjutan industri.
Keselamatan menjadi perhatian krusial dalam aktivitas berisiko tinggi seperti pendakian gunung, trekking, dan diving. Kementerian Pariwisata telah mendesak operator untuk mengamankan lisensi bisnis dan mengadopsi standar sertifikasi pariwisata untuk membantu mitigasi risiko potensial (ANTARA, 2025). Selain itu, profesionalisme tenaga kerja pariwisata masih perlu ditingkatkan untuk memenuhi standar internasional.
Konservasi sumber daya alam juga menjadi isu mendesak. Tanpa manajemen yang cermat, over-tourism dapat menyebabkan degradasi lingkungan yang justru merusak daya tarik utama destinasi adventure tourism (Travel and Tour World, 2025). Komitmen terhadap praktik berkelanjutan yang melindungi lingkungan dan menghormati budaya lokal harus menjadi fondasi pengembangan adventure tourism Indonesia.
Strategi Ke Depan: Dari Potensi Menjadi Prestasi
Untuk mengoptimalkan peluang adventure tourism, Indonesia memerlukan pendekatan strategis dan terintegrated.
Pertama, investasi infrastruktur harus diprioritaskan, tidak hanya di destinasi utama seperti Bali, tetapi juga di wilayah dengan potensi belum tergali seperti Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara. Ekspansi bandara, perbaikan jaringan jalan, dan peningkatan fasilitas keselamatan akan meningkatkan aksesibilitas dan kepercayaan wisatawan.
Kedua, transformasi digital harus dipercepat. Adopsi teknologi seperti Augmented Reality (AR) dan Artificial Intelligence (AI) dapat meningkatkan pengalaman wisatawan melalui tur virtual, personalisasi itinerary, dan real-time safety monitoring (Report Linker, 2025). Platform booking digital memudahkan wisatawan untuk merencanakan perjalanan adventure secara mandiri—tren yang semakin dominan di kalangan wisatawan Indonesia pada 2025 (TGM Research, 2025).
Ketiga, sertifikasi dan standarisasi harus diberlakukan secara konsisten. Mengikuti jejak European Union yang menyetujui Adventure Travel Europe Certification Scheme pada Oktober 2024, Indonesia dapat mengembangkan kerangka sertifikasi sendiri yang menjamin praktik pariwisata adventure yang berkelanjutan dan bertanggung jawab (Technavio, 2024).
Keempat, kolaborasi multi-stakeholder antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat lokal harus diperkuat. Adventure tourism yang sukses bukan hanya menguntungkan operator besar, tetapi harus memberdayakan komunitas lokal melalui penciptaan lapangan kerja, transfer keterampilan, dan distribusi pendapatan yang adil. Model community-based adventure tourism dapat menjadi solusi yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian budaya dan lingkungan.
Kelima, diversifikasi produk dan segmentasi pasar perlu diperluas. Soft adventure tourism seperti hiking, camping, dan cultural experiences mendominasi 65% pasar global (Grand View Research, 2024), namun Indonesia juga memiliki potensi luar biasa untuk hard adventure seperti mountaineering, white-water rafting, dan extreme diving. Segmentasi berdasarkan usia, preferensi, dan kemampuan finansial akan memaksimalkan penetrasi pasar.
Visi 2030: Indonesia sebagai Episentrum Adventure Tourism Asia
Dengan pasar global adventure tourism yang diproyeksikan mencapai USD 1,68 triliun pada 2032 dengan CAGR 9,42% (Fortune Business Insights, 2025), dan Asia-Pasifik sebagai wilayah dengan pertumbuhan tercepat, Indonesia memiliki kesempatan emas untuk menjadi episentrum adventure tourism di kawasan. Target pemerintah untuk menarik 16 juta wisatawan internasional pada 2025 dan meningkatkan pendapatan dari €200 juta pada 2024 menjadi €360 juta pada 2029 adalah langkah awal yang ambisius namun realistis (Travel and Tour World, 2025).
Namun, ambisi sejati Indonesia seharusnya melampaui angka. Visi yang sesungguhnya adalah menciptakan ekosistem adventure tourism yang berkelanjutan, inklusif, dan memberdayakan—di mana setiap pendaki yang mencapai puncak Rinjani, setiap penyelam yang mengeksplorasi terumbu karang Raja Ampat, dan setiap petualang yang menelusuri hutan Kalimantan tidak hanya membawa pulang pengalaman yang mengubah hidup, tetapi juga meninggalkan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat setempat.
Indonesia memiliki semua kartu as di tangannya: keindahan alam yang spektakuler, kekayaan budaya yang autentik, momentum pasar yang kuat, dan posisi geografis yang strategis. Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia bisa menjadi pemain utama dalam adventure tourism global, melainkan seberapa cepat dan seberapa berkelanjutan kita dapat mewujudkan potensi tersebut menjadi kenyataan.
Saatnya Indonesia tidak hanya menjadi destinasi yang dikunjungi, tetapi menjadi pengalaman yang dikenang selamanya.
*) Penulisan adalah Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia / Dosen Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti
