Pariwisata dan Danantara
Indonesia baru saja meluncurkan lembaga yang akan mengubah lanskap ekonomi nasional secara fundamental.
Muhammad Rahmad
3/7/20255 min read


Indonesia baru saja meluncurkan lembaga yang akan mengubah lanskap ekonomi nasional secara fundamental. Danantara, Lembaga baru yang akan mengelola dana kekayaan negara (sovereign wealth fund) dengan aset konsolidasi sekitar 900 miliar USD atau setara Rp14.400 triliun (asumsi kurs 1 USD = Rp16.000). Seperti ditegaskan Presiden Prabowo Subianto saat peluncurannya, Danantara merupakan "instrumen pembangunan nasional yang harus mampu mentransformasi cara pengelolaan kekayaan negara demi kemakmuran seluruh rakyat Indonesia."
Danantara dimodelkan mirip Temasek Holdings dari Singapura, dengan tujuan menggeser pengelolaan BUMN ke arah yang lebih profesional dan berorientasi profit. Target pertumbuhan dicanangkan 8% PDB, melalui modernisasi BUMN dan kolaborasi dengan sektor swasta. Di tengah beban utang BUMN yang mencapai Rp6.957,43 triliun dan profitabilitas yang menurun 7,03% pada 2024, Danantara perlu mengembangkan strategi transformasi yang tidak hanya mampu memulihkan kesehatan finansial BUMN, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Dalam konteks inilah sektor pariwisata menawarkan peluang strategis yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Danantara: Ambisi Besar dan Tantangan Nyata
Danantara lahir dengan target ambisius: mendorong pertumbuhan PDB Indonesia hingga 8% melalui modernisasi BUMN dan kolaborasi sektor swasta. Dana ini mengkonsolidasikan aset dari berbagai BUMN terkemuka, termasuk Bank Mandiri, BRI, Pertamina, PLN, BNI, Telkom, dan MIND ID. Danantara juga menyiapkan investasi sekitar Rp320 triliun di sektor-sektor strategis seperti pertambangan, kecerdasan buatan (AI), energi terbarukan, ketahanan pangan, dan industrialisasi.
Namun, tantangan yang dihadapi tidak ringan. Data terbaru menunjukkan total utang BUMN mencapai Rp6.957,43 triliun pada akhir 2023, sementara laba bersih konsolidasi BUMN 2024 mengalami penurunan 7,03% menjadi Rp304 triliun dari Rp327 triliun pada tahun sebelumnya. Meskipun pendapatan konsolidasi meningkat 6,6% menjadi Rp3.128 triliun, penurunan laba menunjukkan margin yang semakin menipis.
Rasio ekuitas terhadap aset BUMN yang hanya sekitar 32% (Rp3.510 triliun dari total aset Rp10.950 triliun) juga mencerminkan tingkat leverage yang tinggi. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi Danantara untuk menarik investasi dari mitra swasta dan investor internasional tanpa menambah beban utang yang sudah besar.
Pertanyaannya: bagaimana Danantara dapat memenuhi ambisi besarnya di tengah kondisi keuangan BUMN yang menantang ini? Salah satu jawabannya mungkin terletak pada pengembangan strategis sektor pariwisata Indonesia.
Potensi Pariwisata sebagai Pendorong Pertumbuhan
Sektor pariwisata menawarkan beberapa keunggulan yang relevan dengan misi Danantara. Pertama, pariwisata merupakan penghasil devisa yang signifikan. Sebelum pandemi, sektor ini menyumbang sekitar Rp272-320 triliun per tahun dari wisatawan mancanegara. Dengan pengelolaan yang tepat, angka ini berpotensi meningkat pesat.
Kedua, pariwisata memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang tinggi. Setiap rupiah yang dibelanjakan wisatawan menghasilkan dampak ekonomi 2-3 kali lipat melalui rantai nilai yang panjang—mulai dari transportasi, akomodasi, kuliner, kerajinan, hingga jasa pemandu. Ini berarti investasi di pariwisata dapat menghasilkan pengembalian ekonomi yang lebih besar dibandingkan beberapa sektor lain.
Ketiga, pengembangan pariwisata memerlukan dan mendorong pembangunan infrastruktur yang juga bermanfaat bagi masyarakat lokal dan sektor ekonomi lainnya. Bandara, pelabuhan, jalan, fasilitas air bersih, dan telekomunikasi yang dibangun untuk melayani wisatawan juga meningkatkan konektivitas dan kualitas hidup penduduk setempat.
Keempat, pariwisata dapat menjadi laboratorium ideal untuk transformasi digital dan implementasi AI—salah satu fokus investasi Danantara. Sistem reservasi pintar, analisis perilaku wisatawan berbasis big data, dan marketing digital dapat menjadi model percontohan digitalisasi ekonomi Indonesia.
Strategi Integrasi Pariwisata dalam Ekosistem Danantara
Untuk memaksimalkan kontribusi pariwisata terhadap target Danantara, diperlukan beberapa langkah strategis. Pertama, konsolidasi aset-aset pariwisata BUMN yang saat ini tersebar di berbagai entitas seperti Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), Hotel Indonesia Natour, Angkasa Pura, Pelindo, dan Garuda Indonesia. Konsolidasi ini akan menciptakan ekosistem pariwisata terintegrasi yang lebih efisien dan berdaya saing global.
Kedua, Danantara dapat mengembangkan model destinasi terintegrasi di lokasi-lokasi prioritas, mengadopsi praktik terbaik seperti yang dilakukan Temasek melalui Sentosa Development Corporation di Singapura. Model ini menggabungkan perencanaan, pembangunan infrastruktur, pengelolaan lingkungan, dan promosi terpadu di bawah satu entitas.
Ketiga, pembentukan dana investasi khusus pariwisata (tourism investment fund) di bawah Danantara untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dan fasilitas pariwisata berkualitas tinggi. Dana ini dapat menarik co-investment dari investor swasta dengan rasio leverage yang menguntungkan.
Keempat, pengembangan kemitraan strategis dengan operator pariwisata global terkemuka untuk mentransfer pengetahuan dan menarik investasi. Perusahaan seperti Marriott, Accor, atau Disney memiliki standar global dan basis pelanggan yang dapat membantu meningkatkan kualitas dan daya tarik destinasi Indonesia.
Implementasi Konkret: Bali sebagai Model Percontohan
Bali dapat menjadi model percontohan bagaimana Danantara mengintegrasikan pariwisata dalam strategi pertumbuhannya. Misalnya Danantara membentuk "Bali Tourism Investment Corporation" yang mengintegrasikan pengelolaan bandara, pelabuhan, hotel BUMN, kawasan wisata, dan infrastruktur pendukung di Bali.
Entitas ini kemudian mengembangkan masterplan pariwisata berkelanjutan, menarik investasi untuk resort mewah ramah lingkungan, mengimplementasikan sistem transportasi umum berbasis energi bersih, dan mengembangkan aplikasi digital terpadu untuk seluruh pengalaman wisatawan di Bali.
Model serupa dapat direplikasi di destinasi super prioritas lainnya seperti Danau Toba, Labuan Bajo, Mandalika, atau Borobudur, masing-masing dengan fokus unik sesuai karakteristik destinasi. Pendekatan ini tidak hanya akan meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia, tetapi juga menciptakan dampak ekonomi yang signifikan di berbagai daerah.
Manfaat Finansial untuk Danantara
Dari perspektif finansial, sektor pariwisata yang dikelola dengan baik menawarkan beberapa keuntungan bagi Danantara. Pertama, aset pariwisata seperti tanah dan properti di lokasi strategis umumnya mengalami apresiasi nilai yang signifikan dari waktu ke waktu, memperkuat neraca Danantara.
Kedua, aliran pendapatan dari sektor pariwisata relatif stabil dan dapat diprediksi dalam jangka panjang, memberikan basis pendanaan berkelanjutan untuk investasi di sektor strategis lainnya yang mungkin memiliki periode pengembalian lebih panjang.
Ketiga, pengembangan pariwisata yang tepat dapat meningkatkan nilai properti dan investasi Danantara di sektor terkait seperti ritel, perkantoran, atau perumahan melalui efek limpahan (spillover effect).
Keempat, profil risiko pariwisata yang berbeda dari sektor ekstraktif atau manufaktur dapat memberikan diversifikasi yang sehat bagi portofolio investasi Danantara, mengurangi kerentanan terhadap fluktuasi harga komoditas global.
Langkah Strategis ke Depan
Untuk memaksimalkan peran pariwisata dalam mencapai target Danantara, beberapa langkah strategis perlu diambil. Pertama, audit menyeluruh terhadap seluruh aset pariwisata BUMN untuk mengidentifikasi aset-aset yang berpotensi tinggi dan memerlukan restrukturisasi atau peningkatan.
Kedua, penyusunan masterplan pariwisata terpadu yang sejalan dengan tujuan investasi Danantara di sektor-sektor strategis seperti infrastruktur, energi terbarukan, dan transformasi digital. Hal ini memastikan sinergi antar sektor dalam portofolio Danantara.
Ketiga, pembentukan tim manajemen pariwisata yang terdiri dari profesional berpengalaman global, bukan sekadar penempatan birokrat. Keberhasilan Temasek sebagian besar ditentukan oleh kualitas SDM yang mengelolanya.
Keempat, pengembangan metrik kinerja yang jelas dan transparan untuk memastikan akuntabilitas dalam pengelolaan aset-aset pariwisata. Ini penting untuk membangun kepercayaan investor dan masyarakat terhadap Danantara.
Kesimpulan
Di tengah tantangan finansial BUMN yang signifikan, Danantara memerlukan sektor-sektor yang dapat memberikan dorongan cepat untuk mencapai targetnya. Pariwisata, dengan potensi pertumbuhan tinggi, efek pengganda ekonomi yang besar, dan sinergi dengan sektor-sektor strategis lainnya, dapat menjadi katalisator penting bagi transformasi ekonomi yang diusung Danantara.
Dengan pendekatan yang tepat, pariwisata bukan hanya akan berkontribusi pada perbaikan kinerja finansial BUMN, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif di berbagai daerah, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan daya saing Indonesia di panggung global. Lebih dari sekadar destinasi wisata, Indonesia berpotensi menjadi model pengelolaan aset pariwisata nasional yang profesional dan menguntungkan.
Meskipun tantangan yang dihadapi tidak ringan, kesuksesan mengintegrasikan pariwisata dalam strategi Danantara akan memberikan bukti nyata bahwa Indonesia mampu mentransformasi kekayaan alamnya menjadi kemakmuran berkelanjutan bagi seluruh rakyat—persis seperti visi yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto saat meluncurkan Danantara.
*(Penulis adalah tenaga pengajar Institut Pariwisata Trisakti, dan Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia) No HP/WA : +62-81282050404
