Pariwisata Indonesia 2026: Optimisme yang Perlu Diwaspadai
Pemerintah mengumumkan kabar gembira: target 15 juta wisatawan mancanegara (wisman) tahun 2025 tercapai. Devisa mengalir, lapangan kerja tercipta. Namun, di balik euforia ini, tersembunyi fakta yang kurang nyaman—Indonesia sedang tertinggal dari tetangganya.
Muhammad Rahmad
1/12/20262 min read


Pada 12 Januari 2026, pemerintah mengumumkan kabar gembira: target 15 juta wisatawan mancanegara (wisman) tahun 2025 tercapai. Devisa mengalir, lapangan kerja tercipta. Namun, di balik euforia ini, tersembunyi fakta yang kurang nyaman—Indonesia sedang tertinggal dari tetangganya sendiri.
Sementara kita merayakan 15 juta, Malaysia sudah menembus 28 juta wisman hanya dalam delapan bulan. Vietnam tumbuh 22 persen per tahun. Thailand, meski menurun, tetap di angka 30 juta. Pertanyaannya: mengapa negara dengan Borobudur, Raja Ampat, dan 17.000 pulau ini harus puas di posisi keempat ASEAN?
Visa: Akar Masalahnya
Jawabannya ada pada kebijakan visa. Melalui Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2024, Indonesia justru mengurangi negara bebas visa dari 169 menjadi hanya 13. Bandingkan dengan Malaysia (163 negara) atau Thailand (93 negara).
Yang lebih krusial: Indonesia tidak memberikan bebas visa untuk China—pasar outbound tourism terbesar dunia dengan 100 juta wisatawan per tahun. Malaysia menerima 3,8 juta wisatawan China pada 2024. Vietnam pada kuartal pertama 2025 sudah menerima 1,6 juta. Indonesia? Hanya 8,8 persen total wisman kita berasal dari China.
Ini bukan sekadar statistik. Ini miliaran dolar devisa yang mengalir ke negara tetangga.
Target Konservatif
Pemerintah menargetkan 16-17,6 juta wisman untuk 2026. Kedengarannya ambisius? Tidak juga. Malaysia menargetkan 40 juta. Vietnam diproyeksikan 23 juta. Bahkan capaian 15 juta kita masih 8 persen di bawah level pra-pandemi 2019.
Siaran pers Kemenko Perekonomian menyebut akan "mengevaluasi kebijakan visa"—pernyataan yang terlalu samar. Sementara Malaysia baru mempermanenkan perjanjian bebas visa dengan China hingga 2035, kita masih sekadar "mengevaluasi."
Apa yang Harus Dilakukan?
Indonesia tidak kekurangan potensi. Yang dibutuhkan adalah keberanian mengambil keputusan.
Pertama, buka pintu untuk China. Terapkan bebas visa resiprokal 30 hari seperti Malaysia. Potensi tambahannya: 2-3 juta wisman per tahun.
Kedua, kembalikan kebijakan bebas visa minimal ke 50 negara, terutama pasar high-spending: Eropa Barat, Jepang, Korea Selatan, dan Australia.
Ketiga, modernisasi sistem imigrasi. Thailand sudah menerapkan full e-Visa dan Digital Arrival Card. Wisatawan modern tidak mau antre berjam-jam.
Keempat, luncurkan kampanye "Visit Indonesia 2026" yang setara dengan Malaysia—bukan sekadar brosur, tetapi serangan digital berskala global.
Target 16-17,6 juta wisman bukan target ambisius—itu target aman. Dengan reformasi kebijakan yang berani, Indonesia mampu menembus 20 juta dalam tiga tahun.
Malaysia tidak menjadi nomor satu ASEAN karena optimis semata. Mereka berani mengambil keputusan, termasuk membuka pintu lebar-lebar untuk wisatawan China. Pertanyaannya: apakah kita akan terus berjalan santai sementara tetangga berlari?
Waktu tidak menunggu. Wisatawan juga tidak.
*) Penulis adalah Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia
Download / unduh Press Release Policy Brief Pariwisata Indonesia - Januari 2026
