Pariwisata Indonesia-Tiongkok di Era Pemulihan

Penanda-tanganan Memorandum of Understanding (MoU) Pariwisata antara Indonesia-Tiongkok pada 25 Mei 2025 membuka peluang emas untuk mengakselerasi pemulihan pariwisata kedua negara.

Muhammad Rahmad

5/26/20254 min read

Penanda-tanganan Memorandum of Understanding (MoU) Pariwisata antara Indonesia-Tiongkok pada 25 Mei 2025 membuka peluang emas untuk mengakselerasi pemulihan pariwisata kedua negara. Di satu sisi, industri pariwisata Indonesia sedang berada di persimpangan jalan dalam menentukan masa depan. Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik menunjukkan kinerja yang beragam pada Maret 2025 dimana kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) mengalami penurunan 2,18% menjadi 841,03 ribu kunjungan. Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara justru meningkat 12,61% mencapai 88,91 juta perjalanan.

Momentum Strategis di Tengah Tantangan

Realitas statistik pariwisata Indonesia pada kuartal pertama 2025 menggambarkan kompleksitas tantangan yang dihadapi. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang yang hanya mencapai 33,56%, turun 9,85 poin dibandingkan tahun sebelumnya, mencerminkan betapa ketatnya persaingan global dalam menarik wisatawan internasional. Namun, di balik angka yang tampak pesimis ini, terdapat sinyal positif yang patut dicermati.

Pertama, kumulatif kunjungan wisman periode Januari-Maret 2025 mencapai 2,74 juta kunjungan, meningkat 7,83% dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Kedua, dominasi moda transportasi udara (79,60%) menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi destinasi yang menarik bagi wisatawan jarak jauh. Ketiga, kontribusi wisatawan Tiongkok yang mencapai 279.040 kunjungan pada kuartal pertama 2025, naik 1,15% dari periode yang sama tahun sebelumnya, membuktikan daya tarik Indonesia bagi pasar Tiongkok.

Tiongkok: Pasar Emas yang Belum Tergali Optimal

Data historis menunjukkan potensi luar biasa pasar Tiongkok bagi Indonesia. Pada 2024, dari total 13,9 juta kunjungan wisatawan mancanegara, sebanyak 1,19 juta (8,56%) adalah wisatawan Tiongkok, meningkat drastis 52% dibandingkan 2023. Angka ini menempatkan Tiongkok sebagai salah satu kontributor utama industri pariwisata Indonesia, sekaligus menunjukkan tren pertumbuhan yang sangat positif.

Namun, ketika membandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Thailand yang menerima jutaan wisatawan Tiongkok setiap tahunnya, Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang sangat besar. Hal ini terutama mengingat Indonesia memiliki kekayaan budaya, alam, dan kuliner yang tidak kalah menarik dibandingkan destinasi lain di Asia Tenggara.

Tujuh Pilar Transformasi Pariwisata

MoU pariwisata Indonesia-Tiongkok yang baru disepakati mengusung tujuh poin strategis yang dapat menjadi katalis transformasi industri pariwisata nasional:

1. Ekosistem Bisnis Terintegrasi Pertukaran kontak bisnis dan kerja sama sektor pariwisata akan menciptakan jejaring yang kuat antara pelaku industri kedua negara. Ini bukan sekadar pertukaran informasi, tetapi pembentukan ekosistem bisnis yang saling menguntungkan.

2. Akselerasi Kunjungan Wisatawan Program aktif mendorong kunjungan warga kedua negara akan membuka tap market yang selama ini belum tergarap maksimal. Dengan populasi Tiongkok yang mencapai 1,4 miliar jiwa dan growing middle class yang terus berkembang, potensi ini sangat besar.

3. Strategi Pasar Ketiga Kolaborasi menarik wisatawan dari negara ketiga merupakan inovasi strategis yang memungkinkan Indonesia dan Tiongkok berperan sebagai gateway regional, bukan sekadar destinasi individual.

4. Infrastruktur Promosi Permanent Pendirian kantor perjalanan resmi di kedua negara akan memberikan jaminan kontinuitas promosi dan pelayanan yang lebih profesional.

5. Sinergi Promosi Multi-Stakeholder Fasilitasi kegiatan promosi yang melibatkan pemerintah dan swasta akan menciptakan kekuatan promosi yang lebih masif dan terkoordinasi.

6. Intelligence Pasar Berbasis Data Pertukaran informasi dan statistik pariwisata akan memberikan dasar pengambilan keputusan yang lebih akurat dan responsif terhadap dinamika pasar.

7. Fleksibilitas Pengembangan Ruang untuk kerja sama tambahan memberikan adaptabilitas terhadap perkembangan industri dan kebutuhan pasar yang terus berubah.

Dampak Ekonomi Multidimensional

Implementasi MoU ini berpotensi menghasilkan dampak ekonomi yang signifikan. Berdasarkan rata-rata pengeluaran wisatawan Tiongkok di Indonesia yang mencapai USD 1.200 per kunjungan, peningkatan 100% kunjungan wisatawan Tiongkok saja dapat memberikan kontribusi tambahan sekitar USD 1,43 miliar terhadap devisa negara.

Lebih dari itu, dampak multiplier effect-nya akan dirasakan oleh berbagai sektor. Industri hotel dan akomodasi yang saat ini mengalami tekanan dengan TPK hotel bintang hanya 33,56% berpotensi mengalami peningkatan signifikan. Sektor transportasi, kuliner, kerajinan, dan jasa lainnya juga akan merasakan efek positif ini.

Data menunjukkan bahwa rata-rata lama menginap tamu asing di Indonesia mencapai 2,50 malam, lebih tinggi dibandingkan tamu domestik (1,54 malam). Ini berarti wisatawan Tiongkok yang umumnya melakukan perjalanan jarak jauh akan memberikan kontribusi ekonomi per individu yang lebih besar.

Tantangan dan Strategi Mitigasi

Meski prospektif, implementasi MoU ini tidak lepas dari tantangan. Pertama, infrastruktur pariwisata Indonesia yang belum merata. Data TPK hotel menunjukkan disparitas yang cukup besar antar provinsi, dari tertinggi Papua Selatan (53,55%) hingga terendah Aceh (13,30%).

Kedua, kapasitas sumber daya manusia pariwisata yang perlu ditingkatkan, termasuk kemampuan bahasa Mandarin yang masih terbatas. Ketiga, konektivitas transportasi yang belum optimal, terutama untuk destinasi-destinasi potensial di luar Jawa-Bali.

Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan strategi holistik yang meliputi:

  1. Investasi infrastruktur pariwisata yang merata

  2. Program pelatihan SDM pariwisata yang intensif

  3. Pengembangan konektivitas transportasi yang lebih baik

  4. Standardisasi pelayanan pariwisata yang berkualitas internasional

Proyeksi dan Rekomendasi Strategis

Dengan asumsi implementasi MoU yang efektif, Indonesia berpotensi meningkatkan kunjungan wisatawan Tiongkok menjadi 2-2,5 juta kunjungan dalam 3-5 tahun ke depan. Angka ini realistis mengingat pertumbuhan 52% pada 2024 dan tren positif pada kuartal pertama 2025.

Untuk mencapai target ini, beberapa rekomendasi strategis perlu diimplementasikan:

1. Diversifikasi Destinasi Tidak hanya fokus pada Bali dan Jakarta, tetapi mengembangkan destinasi-destinasi baru yang sesuai dengan preferensi wisatawan Tiongkok seperti wisata alam, budaya, dan kuliner.

2. Pengembangan Produk Wisata Tematik Mengembangkan paket wisata yang disesuaikan dengan karakteristik wisatawan Tiongkok, seperti wisata halal, wisata keluarga, dan wisata petualangan.

3. Penguatan Digital Marketing Memanfaatkan platform digital yang populer di Tiongkok seperti WeChat, Weibo, dan TikTok untuk promosi yang lebih efektif.

4. Fasilitasi Visa dan Regulasi Mempermudah proses visa dan regulasi terkait untuk memberikan pengalaman yang lebih nyaman bagi wisatawan Tiongkok.

Kesimpulan: Masa Depan Pariwisata Indonesia-Tiongkok

MoU pariwisata Indonesia-Tiongkok bukan sekadar dokumen kerja sama, tetapi blueprint transformasi industri pariwisata Indonesia menuju era baru. Dengan populasi Tiongkok yang besar, pertumbuhan ekonomi yang stabil, dan minat yang tinggi terhadap destinasi internasional, kerja sama ini memiliki potensi untuk mengubah lanskap pariwisata Indonesia secara fundamental.

Data statistik menunjukkan bahwa momen ini sangat tepat. Di tengah pemulihan global pasca-pandemi, Indonesia memiliki kesempatan emas untuk memposisikan diri sebagai destinasi utama wisatawan Tiongkok di Asia Tenggara. Namun, kesuksesan ini membutuhkan komitmen jangka panjang, investasi yang tepat sasaran, dan koordinasi yang solid antara pemerintah dan sektor swasta.

Jika diimplementasikan dengan baik, kerja sama ini tidak hanya akan meningkatkan angka kunjungan wisatawan, tetapi juga menciptakan fondasi yang kuat untuk pertumbuhan industri pariwisata Indonesia yang berkelanjutan. Dalam konteks yang lebih luas, ini juga akan memperkuat hubungan bilateral Indonesia-Tiongkok dan memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.

Saatnya Indonesia memanfaatkan momentum ini untuk merealisasikan potensi pariwisata yang sesungguhnya. Dengan strategi yang tepat dan implementasi yang konsisten, industri pariwisata Indonesia dapat menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi nasional di dekade mendatang.

*) Penulis adalah Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia / Dosen Pariwisata pada Institut Pariwisata Trisakti, Jakarta

Pemerintah Indonesia dan China resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mempererat kerja sama di sektor pariwisata.(dok. Kemenpar)