Pariwisata Turki: Pembelajaran untuk Indonesia

Ketika Indonesia masih berkutat dengan target 1,4 miliar dolar AS (Rp 23,1 triliun) per bulan dari sektor pariwisata, Turki telah mencatatkan prestasi monumental dengan meraup 50 miliar dolar AS (Rp 825 triliun) hanya dalam sembilan bulan pertama 2025.

Muhammad Rahmad

11/9/20255 min read

Ketika Indonesia masih berkutat dengan target 1,4 miliar dolar AS (Rp 23,1 triliun) per bulan dari sektor pariwisata, Turki telah mencatatkan prestasi monumental dengan meraup 50 miliar dolar AS (Rp 825 triliun) hanya dalam sembilan bulan pertama 2025. Pencapaian ini bukan sekadar angka statistik, melainkan manifestasi dari strategi pariwisata yang terorkestra dengan matang, didukung oleh kebijakan terintegrasi lintas kementerian, dan dieksekusi dengan presisi tinggi.

Sebagai akademisi dan praktisi pariwisata Indonesia yang telah mengamati dinamika industri wisata global selama lebih dari dua dekade, saya melihat keberhasilan Turki sebagai cermin yang memantulkan potensi sekaligus ironi pariwisata Indonesia. Dengan kekayaan alam dan budaya yang sebanding—bahkan bisa dikatakan lebih beragam—Indonesia masih tertinggal jauh dalam monetisasi aset wisatanya.

Anatomi Keberhasilan Turki: Sebuah Dekonstruksi

1. Pencapaian Kuantitatif yang Mencengangkan

Mari kita bedah angka-angka Turki dengan perspektif komparatif:

Tabel 1: Perbandingan Kinerja Pariwisata Turki vs Indonesia (Estimasi 2025)

*Estimasi berdasarkan tren 2024 dan target pemerintah Indonesia

Sumber : Pusat Kajian Pariwisata Indonesia, 2025

Disparitas ini semakin mengkhawatirkan ketika kita mempertimbangkan bahwa Indonesia memiliki 17.504 pulau, 300 kelompok etnis, dan 8 situs Warisan Dunia UNESCO—sementara Turki "hanya" memiliki satu daratan yang terhubung dengan dua benua.

2. Struktur Pendapatan yang Optimal

Komposisi pendapatan Turki menunjukkan diversifikasi yang sehat:

Tabel 2: Komposisi Pendapatan Pariwisata Turki Q3 2025

*Estimasi berdasarkan pola umum industri

Sumber : Pusat Kajian Pariwisata Indonesia, 2025

Struktur ini mengindikasikan kemampuan Turki dalam menciptakan ekosistem pariwisata yang komprehensif, di mana setiap komponen saling menguatkan. Indonesia, sebaliknya, masih terjebak pada model "sun, sea, and sand" dengan ketergantungan berlebihan pada akomodasi sebagai sumber pendapatan utama.

3. Penetrasi Pasar yang Strategis

Tabel 3: Pasar Utama Wisatawan Turki (Jan-Sep 2025)

*Estimasi berdasarkan pola umum industriSumber : Pusat Kajian Pariwisata Indonesia, 2025

Diversifikasi pasar Turki mencerminkan strategi "tidak menaruh semua telur dalam satu keranjang"—sebuah pelajaran pahit yang Indonesia alami ketika pasar China tiba-tiba menghilang akibat pandemi dan belum sepenuhnya pulih hingga kini.

Faktor-Faktor Kunci Keunggulan Turki

1. Kepemimpinan Visioner dan Kontinuitas Kebijakan

Mehmet Nuri Ersoy, Menteri Pariwisata Turki, bukan sekadar birokrat seremonial. Dengan latar belakang bisnis yang kuat dan pemahaman mendalam tentang industri, ia mampu mengartikulasikan visi yang jelas: menjadikan Turki sebagai destinasi wisata berkualitas tinggi dengan pengeluaran per kapita yang terus meningkat. Target Rp 1.947.000 per malam pada akhir 2025 bukan sekadar angka ambisius, melainkan hasil kalkulasi strategis berbasis data.

Kontras dengan Indonesia, di mana pergantian menteri sering diikuti perubahan drastis kebijakan. Kita masih ingat bagaimana program "10 Bali Baru" yang digaungkan era sebelumnya kini hampir tidak terdengar gaungnya, digantikan dengan narasi "quality tourism" yang implementasinya masih kabur.

2. Integrasi Kebijakan Lintas Sektor

Turki memahami bahwa pariwisata bukan domain eksklusif Kementerian Pariwisata. Koordinasi dengan otoritas imigrasi menghasilkan kebijakan visa yang progresif—visa elektronik dapat diperoleh dalam hitungan menit dengan biaya terjangkau. Bandingkan dengan Indonesia yang masih mempertahankan sistem Visa on Arrival dengan antrean panjang di bandara, menciptakan first impression yang buruk bagi wisatawan.

Turkish Airlines, sebagai flag carrier, terintegrasi penuh dalam strategi pariwisata nasional. Dengan konektivitas ke 120 negara, maskapai ini menjadi enabler utama pertumbuhan pariwisata. Garuda Indonesia? Masih berkutat dengan restrukturisasi utang dan jaringan internasional yang terus menyusut.

3. Investasi Infrastruktur yang Masif

Istanbul Airport yang baru, dengan kapasitas akhir 200 juta penumpang per tahun, menjadi simbol ambisi Turki. Bandara-bandara di Antalya, Izmir, dan Trabzon terus diperluas. Indonesia? Kita masih memperdebatkan kelayakan ekonomi Bandara Internasional Jawa Barat yang sudah dibangun, sementara Bandara Ngurah Rai di Bali sudah overcapacity sejak bertahun-tahun lalu.

4. Pemasaran Digital yang Agresif dan Cerdas

Turki mengalokasikan anggaran pemasaran yang proporsional dengan targetnya. Kampanye "Türkiye" (rebranding dari "Turkey") dilakukan secara konsisten di media global. Kehadiran masif di pameran internasional seperti World Travel Market dengan stan 909 meter persegi dan 76 organisasi pariwisata menunjukkan keseriusan yang berbeda level.

Indonesia? Kita masih terjebak pada pendekatan sporadis—gembar-gembor besar saat event tertentu, lalu sunyi senyap hingga event berikutnya. Wonderful Indonesia, meski telah berjalan lebih dari satu dekade, masih kalah gaung dari Amazing Thailand atau Incredible India.

Pembelajaran Kritis untuk Indonesia

1. Dari Quantity Tourism ke Quality Tourism—Bukan Sekadar Jargon

Turki membuktikan bahwa meningkatkan kualitas wisatawan bukan berarti mengurangi kuantitas. Dengan 50 juta wisatawan yang menghasilkan Rp 825 triliun, mereka mencapai sweet spot antara volume dan nilai. Indonesia perlu belajar bahwa "quality tourism" bukan berarti membuat pariwisata menjadi eksklusif untuk kalangan elit, melainkan meningkatkan nilai tambah dari setiap kunjungan wisatawan.

Tabel 4: Skenario Peningkatan Kualitas Wisata Indonesia

*Sumber : Pusat Kajian Pariwisata Indonesia, 2025

2. Kebijakan Visa sebagai Enabler, Bukan Barrier

Sistem e-visa Turki yang user-friendly kontras dengan kebijakan visa Indonesia yang masih birokratis. Bahkan untuk negara-negara ASEAN sendiri, proses mendapatkan visa Indonesia masih merepotkan. Ironisnya, kita kehilangan momentum dari 169 negara bebas visa yang sempat diberlakukan, kemudian dicabut dengan alasan keamanan—tanpa evaluasi mendalam tentang dampak ekonominya.

3. Diversifikasi Pasar yang Terukur

Ketergantungan berlebihan pada pasar tertentu adalah vulnerability yang berbahaya. Turki memiliki setidaknya 10 pasar dengan kontribusi signifikan, sementara Indonesia masih mengandalkan 5 negara untuk 60% wisatawannya. Diversifikasi bukan sekadar membuka kantor promosi di berbagai negara, melainkan memahami karakteristik unik setiap pasar dan menyesuaikan produk wisata accordingly.

4. Kontinuitas dan Konsistensi Kebijakan

Turki menunjukkan bahwa kesuksesan pariwisata membutuhkan visi jangka panjang yang dieksekusi secara konsisten, terlepas dari dinamika politik. Indonesia perlu institutional memory yang kuat di sektor pariwisata, di mana pergantian pejabat tidak otomatis berarti restart dari nol.

Refleksi Kritis: Beyond the Numbers

Keberhasilan Turki mencapai Rp 825 triliun dalam 9 bulan bukan sekadar pencapaian finansial—ini adalah bukti bahwa negara berkembang dapat bersaing di liga global pariwisata. Namun, replikasi model Turki ke Indonesia bukanlah proses copy-paste sederhana.

Indonesia memiliki kompleksitas geografis, demografis, dan administratif yang jauh melampaui Turki. Koordinasi antara pemerintah pusat dengan 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota menciptakan tantangan governance yang unik. Belum lagi perbedaan kapasitas SDM pariwisata antara Jawa-Bali dengan Indonesia Timur yang masih menganga lebar.

Namun, kompleksitas bukanlah excuse untuk mediokritas. Justru dengan keragaman yang dimiliki, Indonesia seharusnya dapat menciptakan produk wisata yang jauh lebih beragam dan menarik dibanding Turki. Bayangkan jika setiap provinsi di Indonesia dapat menghasilkan Rp 21,7 triliun per tahun dari pariwisata (rata-rata per provinsi jika mencapai target Turki)—ini akan mentransformasi ekonomi daerah secara fundamental.

Kesimpulan

Pencapaian Turki harus menjadi wake-up call bagi Indonesia. Dengan potensi yang sebanding—bahkan lebih besar—tidak ada alasan fundamental mengapa Indonesia tidak dapat mencapai atau melampaui prestasi Turki. Yang dibutuhkan adalah political will yang kuat, eksekusi yang konsisten, dan yang terpenting: keberanian untuk melakukan transformasi fundamental, bukan sekadar reformasi kosmetik.

Pertanyaan kritisnya bukan lagi "bisakah Indonesia menjadi powerhouse pariwisata global?" melainkan "berapa lama lagi kita akan membiarkan potensi triliunan rupiah menguap begitu saja?" Turki telah menunjukkan jalannya. Sekarang giliran Indonesia untuk memutuskan: akan tetap menjadi penonton, atau bangkit menjadi pemain utama dalam industri pariwisata global yang bernilai puluhan ribu triliun rupiah.

Waktu untuk berwacana telah usai. Saatnya bergerak dengan strategi yang clear, measurable, dan executable. Turki membuktikan bahwa dalam pariwisata global abad ke-21, yang menang bukanlah yang memiliki sumber daya terbesar, melainkan yang paling cerdas mengelola dan memasarkan sumber daya yang dimiliki.

*) Penulisan adalah Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia / Dosen Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti