Pelemahan Rupiah: Momentum Kebangkitan Pariwisata Indonesia
Di tengah dinamika perekonomian global yang terus berfluktuasi, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) mencatatkan pelemahan signifikan.
Muhammad Rahmad
1/18/20254 min read


Di tengah dinamika perekonomian global yang terus berfluktuasi, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) mencatatkan pelemahan signifikan. Data terkini menunjukkan posisi Rupiah berada di level 16.380,65 per 18 Januari 2025, melanjutkan tren pelemahan yang terekam sejak pertengahan Januari. Fenomena ini membawa berbagai implikasi terhadap berbagai sektor ekonomi Indonesia, dengan pariwisata menjadi salah satu yang paling terpengaruh secara langsung.


Sektor pariwisata Indonesia memiliki posisi strategis untuk memanfaatkan situasi ini. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB Indonesia mencapai 4,1% pada tahun 2024, dengan potensi pertumbuhan yang lebih besar di tahun-tahun mendatang. Pelemahan Rupiah menciptakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara, khususnya dari negara-negara dengan mata uang yang lebih kuat.
Sebagai ilustrasi, seorang wisatawan dari Amerika Serikat yang membawa USD 1.000 kini bisa mendapatkan sekitar Rp 16,3 juta, meningkat signifikan dibandingkan periode sebelumnya. Peningkatan daya beli ini membuat Indonesia menjadi destinasi yang semakin menarik, mengingat biaya akomodasi, makanan, dan aktivitas wisata menjadi lebih terjangkau bagi wisatawan asing.
Meski membawa keuntungan dari sisi wisatawan mancanegara, pelemahan Rupiah juga menciptakan tantangan bagi pelaku industri pariwisata domestik. Data dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menunjukkan bahwa sekitar 35% komponen biaya operasional hotel berbintang masih bergantung pada produk impor. Kenaikan biaya ini berpotensi mendorong kenaikan tarif yang bisa mempengaruhi tingkat okupansi.
Namun, situasi ini juga membuka peluang untuk pengembangan substitusi impor dan penguatan rantai pasok lokal. Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) mencatat potensi penghematan devisa hingga USD 500 juta per tahun jika industri perhotelan dapat meningkatkan penggunaan produk lokal hingga 80%.
Menghadapi situasi ini, Indonesia perlu mengembangkan strategi komprehensif untuk memaksimalkan potensi pariwisata. Berdasarkan studi World Travel & Tourism Council, setiap peningkatan 1% kunjungan wisatawan mancanegara berpotensi menciptakan tambahan 100.000 lapangan kerja di berbagai sektor terkait pariwisata. Program pengembangan destinasi super prioritas seperti Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang perlu dipercepat. Investasi infrastruktur yang mencapai Rp 27,3 triliun di tahun 2024 diharapkan dapat meningkatkan aksesibilitas dan kualitas layanan di destinasi-destinasi unggulan ini.
Pengalaman negara-negara Asia yang berhasil memanfaatkan pelemahan mata uang untuk mendorong pariwisata memberikan pelajaran berharga. Jepang, misalnya, berhasil meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara hingga 189% dalam lima tahun terakhir setelah Yen melemah, didukung oleh kebijakan bebas visa dan pengembangan infrastruktur ramah wisatawan. Thailand juga mencatat keberhasilan serupa dengan mencatatkan pertumbuhan pendapatan dari sektor pariwisata sebesar 23% year-on-year di tengah fluktuasi nilai Baht. Kunci keberhasilan Thailand terletak pada konsistensi dalam pengembangan produk wisata dan penguatan branding "Amazing Thailand".
Era digital membuka peluang baru bagi pengembangan pariwisata Indonesia. Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika menunjukkan bahwa 73,7% penduduk Indonesia telah memiliki akses internet pada tahun 2024. Platform digital telah menjadi saluran utama promosi pariwisata Indonesia. Berdasarkan survei Google Travel Insights, 82% wisatawan mancanegara melakukan pencarian informasi dan pemesanan perjalanan secara online. Pelemahan Rupiah justru menjadi momentum tepat untuk meningkatkan visibilitas destinasi Indonesia di platform digital global.
Sektor ekonomi kreatif memiliki peran vital dalam memperkuat daya tarik pariwisata Indonesia. Data Badan Ekonomi Kreatif menunjukkan bahwa kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB mencapai 7,4% pada tahun 2024, dengan sub-sektor kuliner, fashion, dan kerajinan sebagai penyumbang terbesar. Pelemahan Rupiah menciptakan peluang bagi produk ekonomi kreatif Indonesia untuk bersaing di pasar global. Harga yang lebih kompetitif membuat produk-produk seperti batik, perhiasan perak, dan produk kerajinan tangan lainnya semakin menarik bagi wisatawan mancanegara. Survei menunjukkan bahwa rata-rata wisatawan mancanegara mengalokasikan 30% dari total pengeluaran mereka untuk belanja produk lokal.
Program desa wisata yang telah dikembangkan di 1.831 lokasi di seluruh Indonesia menunjukkan hasil positif. Data menunjukkan bahwa pendapatan rata-rata masyarakat di desa wisata meningkat 45% dibandingkan sebelum pengembangan pariwisata. Pelemahan Rupiah dapat mendorong wisatawan untuk mengeksplorasi destinasi-destinasi alternatif yang menawarkan pengalaman otentik dengan harga terjangkau. Hal ini membuka peluang bagi desa-desa wisata untuk menarik lebih banyak pengunjung dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.
Infrastruktur menjadi fondasi penting dalam pengembangan pariwisata. Pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 392 triliun untuk pembangunan infrastruktur pada tahun 2025, termasuk pengembangan 15 bandara baru dan peningkatan kapasitas 20 bandara existing. Pengembangan infrastruktur ini diharapkan dapat meningkatkan konektivitas antar destinasi wisata dan menurunkan biaya logistik. Studi Bank Dunia menunjukkan bahwa setiap penurunan 10% biaya transportasi berpotensi meningkatkan kunjungan wisatawan sebesar 12%.
Dalam situasi pelemahan Rupiah, strategi pemasaran pariwisata perlu disesuaikan dengan target pasar yang tepat. Data menunjukkan bahwa wisatawan dari Asia Timur (Jepang, Korea Selatan, China) dan negara-negara Eropa memiliki sensitivitas tinggi terhadap perubahan nilai tukar dalam keputusan berwisata. Kampanye pemasaran digital yang mengedepankan value for money dan keunikan destinasi Indonesia telah terbukti efektif. Engagement rate pada platform media sosial resmi Wonderful Indonesia meningkat 156% setelah penerapan strategi konten yang menekankan aspek harga yang kompetitif.
Aspek keberlanjutan menjadi semakin penting dalam pengembangan pariwisata. Survei menunjukkan bahwa 67% wisatawan mancanegara mempertimbangkan faktor keberlanjutan dalam memilih destinasi wisata. Indonesia telah menerapkan standar CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability) di 80% destinasi wisata utama. Program sertifikasi green tourism ini telah diterapkan di 127 destinasi wisata di Indonesia. Destinasi yang telah tersertifikasi mencatatkan peningkatan kunjungan rata-rata 23% lebih tinggi dibandingkan destinasi yang belum tersertifikasi.
Untuk memaksimalkan potensi pariwisata di tengah pelemahan Rupiah, beberapa langkah strategis perlu diambil;
Pertama, pengembangan paket wisata terintegrasi yang menggabungkan berbagai destinasi unggulan dengan harga kompetitif.
Kedua, penguatan kemitraan dengan platform digital global untuk meningkatkan visibilitas destinasi Indonesia.
Ketiga, peningkatan kapasitas SDM pariwisata melalui program sertifikasi dan pelatihan.
Keempat, fasilitasi investasi di sektor pariwisata, terutama untuk pengembangan infrastruktur pendukung.
Kelima, penguatan sistem monitoring dan evaluasi untuk memastikan keberlanjutan pengembangan pariwisata.
Pelemahan Rupiah terhadap USD harus dilihat sebagai momentum untuk melakukan transformasi mendasar dalam industri pariwisata Indonesia. Dengan pendekatan yang tepat dan kolaborasi yang kuat antara semua pemangku kepentingan, situasi ini dapat menjadi katalis bagi kebangkitan pariwisata nasional yang lebih berkelanjutan dan berdaya saing global. Keberhasilan transformasi ini akan memberikan dampak positif tidak hanya bagi sektor pariwisata, tetapi juga bagi perekonomian nasional secara keseluruhan.
*) Penulisan adalah Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia / Dosen Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti
