PENGELOLAAN STRATEGIS SELAT MALAKA: Perspektif Ekonomi, Logistik, Pariwisata, dan Ketahanan Nasional (Astagatra)
Selat Malaka adalah aset geo-ekonomi paling bernilai yang dimiliki Indonesia, sekaligus area dengan kesenjangan terbesar antara potensi dan realisasi. Setiap tahun, sekitar USD 3,5 triliun perdagangan dunia melintasi selat ini — setara sepertiga PDB global — dengan 80.000 hingga 120.000 kapal sebagai pelintas. Indonesia menguasai sekitar 50% panjang garis pantai Selat Malaka, namun hanya memperoleh porsi minor dari nilai ekonominya.
POLICY BRIEF
Redaksi Pusat Kajian Pariwisata & Ekonomi Indonesia
5/5/20261 min baca


RINGKASAN EKSEKUTIF
Selat Malaka adalah aset geo-ekonomi paling bernilai yang dimiliki Indonesia, sekaligus area dengan kesenjangan terbesar antara potensi dan realisasi. Setiap tahun, sekitar USD 3,5 triliun perdagangan dunia melintasi selat ini — setara sepertiga PDB global — dengan 80.000 hingga 120.000 kapal sebagai pelintas. Indonesia menguasai sekitar 50% panjang garis pantai Selat Malaka, namun hanya memperoleh porsi minor dari nilai ekonominya.
Sebagai pembanding, Singapura — negara seluas hanya 735 km² — memperoleh sekitar USD 25 miliar per tahun dari layanan terkait Selat Malaka. Sementara Indonesia, dengan luas wilayah 2.600 kali lipat, hanya mendapat porsi kecil dari potensi ini.
info@pusatkajianpariwisata.id
© 2023-2026 Pusat Kajian Pariwisata Indonesia. All Rights Reserved.
