Penghargaan Bukan Jaminan Kemenangan
Ketika Indonesia menerima penghargaan bergengsi di panggung dunia, ada dua pilihan sikap: merayakannya sebagai tujuan akhir, atau menjadikannya bahan bakar untuk perjuangan yang sesungguhnya baru dimulai.
Muhammad Rahmad - Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia
3/10/20264 min baca


Pada 3 Maret 2026, di bawah atap Berlin Expo Center City, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menerima penghargaan Travelers' Choice Awards Best of the Best 2026 dari Tripadvisor. Bali, sekaligus, resmi dinobatkan sebagai Destinasi Terbaik Dunia Peringkat Pertama dan Terbaik di Asia. Penghargaan itu bukan jatuh dari langit — ia lahir dari jutaan ulasan wisatawan nyata di seluruh dunia. Tidak ada lobi, tidak ada rekayasa angka. Hanya suara kolektif jutaan pelancong yang berkata: Indonesia memang luar biasa.
Kita patut berterima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto dan Kementerian Pariwisata yang telah menjaga arah kebijakan pariwisata nasional dengan konsisten. Kampanye #GoBeyondOrdinary yang diusung di ITB Berlin 2026 adalah pesan yang tepat — bahwa Indonesia bukan sekadar destinasi murah dengan pemandangan indah, melainkan destinasi berkelas yang mampu bersaing di liga tertinggi pariwisata global. Lima program unggulan Kemenpar untuk 2026 — Keselamatan Wisatawan, Pengembangan Desa Wisata, Pariwisata Berkualitas, Event by Indonesia, dan Tourism 5.0 — adalah kerangka strategis yang layak diapresiasi. Langkah Wamenpar Ni Luh Puspa yang turun langsung meninjau kesiapan Bali jelang libur Lebaran adalah sinyal bahwa pemerintah tidak hanya bekerja di balik meja.
Namun, di tengah kegembiraan yang sah ini, ada pertanyaan yang tidak boleh kita tunda: apakah penghargaan prestisius itu telah mengubah posisi kita di papan persaingan pariwisata kawasan?
Di sinilah kita harus berani menatap angka dengan mata terbuka. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa sepanjang 2025, Indonesia berhasil menarik 15,38 juta wisatawan mancanegara — capaian tertinggi dalam enam tahun terakhir dan melampaui target yang ditetapkan. Angka ini layak disyukuri. Tetapi ketika kita memandang ke kiri dan ke kanan, rasa syukur itu menemukan batas nyata di hadapan data tetangga-tetangga kita.
Malaysia, yang sepanjang Januari hingga Agustus 2025 saja telah meraup 28,2 juta kunjungan — naik 14,5 persen secara tahunan — untuk pertama kalinya merebut mahkota negara paling banyak dikunjungi di Asia Tenggara, menggeser Thailand yang telah lama mendominasi. Vietnam, negara yang baru satu dekade lalu nyaris tak diperhitungkan dalam percaturan pariwisata global, mencatatkan 10,7 juta kunjungan hanya dalam semester pertama 2025 dan diproyeksikan menutup tahun dengan 22 hingga 23 juta wisatawan — hampir dua kali lipat capaian Indonesia. Thailand, meski tengah didera isu keamanan yang memukul turunnya kunjungan wisatawan Tiongkok hingga 34 persen pada kuartal pertama 2025, masih mencatat 16,61 juta kunjungan di paruh pertama tahun berjalan. Singapura dengan keterbatasan geografisnya yang tak sebanding dengan luas kepulauan kita meraih 9,78 juta kunjungan hanya dalam tiga bulan pertama 2025.
Indonesia kini bukan hanya tertinggal dalam angka absolut. Kita sedang kehilangan relevansi secara relatif di kawasan yang kita sebut rumah sendiri.
Ironi ini menyakitkan. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau, memiliki 12 UNESCO Global Geopark, 10 Situs Warisan Dunia, dan lebih dari 6.100 desa wisata berbasis kearifan lokal. Raja Ampat adalah surga penyelam yang tak tertandingi di planet ini. Komodo adalah keajaiban alam yang hanya ada di sini. Namun sementara kita membanggakan kekayaan itu, Vietnam memperluas akses bebas visa hingga 45 hari bagi warga negara Eropa dan meningkatkan frekuensi penerbangan internasional secara agresif. Malaysia memperpanjang kebijakan bebas visa bagi wisatawan Tiongkok dan India — dua pasar wisatawan terbesar di dunia — hingga 2036. Mereka tidak hanya mempercantik etalase; mereka mempermudah dan mempermurah pintu masuknya.
Kajian komparatif dengan menggunakan kerangka 4A — attraction, accessibility, amenity, ancillary — mengungkap kesenjangan yang perlu mendapat perhatian serius. Pada dimensi atraksi, kita sesungguhnya unggul mutlak: tidak ada negara ASEAN yang menandingi kombinasi kekayaan alam dan budaya Indonesia secara keseluruhan. Tetapi keindahan yang tersimpan di etalase yang sulit dijangkau adalah kegagalan strategi, bukan takdir. Aksesibilitas adalah luka terbuka paling menganga. Seorang wisatawan dari Paris atau Tokyo yang ingin menjelajahi Labuan Bajo atau Danau Toba masih harus menanggung rangkaian transit yang melelahkan dan biaya konektivitas yang tak kompetitif. Di sisi amenity, Bali memang telah membuktikan kemampuan bersaing di level tertinggi — namun pulau ini kini justru menanggung beban overtourism yang kian berat, dengan kemacetan, tekanan lingkungan, dan gejala kejenuhan pengunjung yang mulai nyata. Sementara dua belas destinasi prioritas lainnya masih bergelut dengan standar layanan yang jauh dari ekspektasi wisatawan internasional.
Ketergantungan akut pada Bali adalah risiko eksistensial yang sudah terlalu lama kita abaikan. Dari total 15,38 juta wisman Indonesia sepanjang 2025, Bali sendiri menyumbang lebih dari 4 juta kunjungan hanya dalam tujuh bulan pertama — cerminan betapa destinasi-destinasi baru kita belum mampu mencuri perhatian pasar global secara konsisten. Pembangunan fisik Destinasi Super Prioritas tanpa strategi pemasaran yang tajam dan infrastruktur pendukung yang matang hanyalah proyek mercusuar, bukan destinasi bernyawa.
Solusinya tidak tunggal, dan itulah mengapa diperlukan kerja keras yang benar-benar holistik. Pemerintah perlu berani mengakselerasi kebijakan visa yang lebih progresif — paling tidak menyamai agresivitas Vietnam dan Malaysia dalam menyambut pasar Tiongkok dan India yang selama ini lebih memilih negara tetangga. Kementerian Perhubungan dan Kementerian Pariwisata harus bergerak dalam satu orkestra untuk membuka rute penerbangan internasional langsung ke destinasi-destinasi prioritas, bukan hanya ke Bali dan Jakarta. Industri swasta perlu menghentikan mentalitas berjalan sendiri-sendiri; kolaborasi adalah keniscayaan, bukan kemewahan. Akademisi dan peneliti pariwisata wajib menghasilkan rekomendasi yang actionable, bukan hanya mengisi lemari arsip. Dan kita semua — sebagai bangsa — perlu menjadi duta nyata pariwisata Indonesia, baik di dalam maupun di luar negeri.
Target 17,6 juta wisatawan mancanegara yang dipatok pemerintah untuk 2026 adalah angka yang realistis namun menantang. Tanpa reformasi kebijakan yang berani, perbaikan infrastruktur yang terukur, dan kampanye promosi digital yang masif serta tersinkronisasi, angka itu pun tetap tak akan mengubah posisi kita di klasemen regional secara bermakna. Di penghujung 2026, dunia akan kembali menghitung. Angka kunjungan setiap negara ASEAN akan kembali diperbandingkan dan menjadi cermin sesungguhnya dari kinerja kita. Jika tidak ada perubahan fundamental dalam cara kita bekerja, kita akan kembali berdiri di podium penghargaan dengan piala di tangan — sementara Malaysia, Vietnam, dan para pengejar lainnya melangkah lebih jauh dan lebih cepat dari kita.
Penghargaan Best of the Best dari Tripadvisor adalah bukti bahwa Indonesia memiliki modal luar biasa. Tapi modal bukan kemenangan. Potensi sudah ada, arah sudah jelas. Yang tersisa adalah kecepatan — dan di dunia pariwisata yang semakin kompetitif, kecepatan bukan kemewahan, melainkan keharusan.
info@pusatkajianpariwisata.id
© 2023-2026 Pusat Kajian Pariwisata Indonesia. All Rights Reserved.
