Peran InJourney dalam Mewujudkan Target PDB Pariwisata 400 T
Indonesia, dengan kekayaan alam dan budayanya yang memukau, memiliki potensi luar biasa untuk menjadi destinasi wisata kelas dunia.
Muhammad Rahmad
11/2/20242 min read


Indonesia, dengan kekayaan alam dan budayanya yang memukau, memiliki potensi luar biasa untuk menjadi destinasi wisata kelas dunia. Di tengah ambisi besar ini, sejatinya PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney) hadir sebagai katalisator utama transformasi sektor pariwisata nasional. Sebagai holding BUMN pariwisata, InJourney mengemban misi strategis untuk mendorong kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB hingga Rp 400 triliun menjelang tahun 2029.
Saat ini, InJourney telah menunjukkan posisi yang kuat dengan mengelola aset bernilai Rp 99,28 triliun yang terdiri dari 35 bandara strategis, jaringan hotel tersebar, dan berbagai destinasi wisata unggulan. Dengan pendapatan Rp 23,95 triliun pada tahun 2023, InJourney telah menguasai 15.96% pangsa pasar pariwisata Indonesia. Meski demikian, kinerja finansial masih memerlukan optimalisasi, terlihat dari ROA 1,1% dan ROE 3,29% yang masih jauh tertinggal dibanding benchmark global seperti Dubai Holdings dengan ROA 23.4% dan ROE 41%, atau Korea Tourism Organization dengan ROA 21.3% dan ROE 39%.
Tantangan signifikan yang dihadapi InJourney terletak pada rendahnya average spending wisatawan di jaringan bisnis InJourney yang hanya mencapai $179.5 per kunjungan. Angka ini sangat kontras dengan capaian destinasi wisata terkemuka lainnya seperti Dubai yang mencapai $2,900, Singapura $1,870, dan Korea $1,460 per kunjungan. Kesenjangan ini mengindikasikan urgensi transformasi komprehensif dalam meningkatkan value proposition dan customer experience yang ditawarkan.
Dalam upaya mencapai target kontribusi PDB pariwisata Rp 400 triliun, InJourney tentu perlu menyusun strategi transformasi yang berfokus pada lima pilar utama.
Pertama, penguasaan market share 34%, dan peningkatan average spending wisatawan menjadi $2,500 melalui pengembangan premium experiences dan diversifikasi produk wisata.
Kedua, penguatan integrasi ekosistem pariwisata nasional melalui sinkronisasi dengan stakeholders lokal dan pengembangan tourism hub terintegrasi.
Ketiga, akselerasi transformasi digital melalui implementasi smart tourism dan pengembangan platform digital terintegrasi.
Pilar keempat berfokus pada pengembangan SDM berkelas dunia melalui program sertifikasi internasional dan kolaborasi dengan institusi global.
Sementara pilar kelima menekankan pada optimalisasi aset strategis dan pengembangan partnership global untuk meningkatkan daya saing InJourney di kancah internasional. Implementasi kelima pilar ini diharapkan dapat mendorong transformasi InJourney secara menyeluruh.
Dampak ekonomi dari transformasi InJourney ini diprediksi akan sangat signifikan. Dengan multiplier effect sebesar 2x lipat dari setiap rupiah pendapatan, sebagaimana yang telah terbukti di Thailand dan Singapura, InJourney diproyeksikan dapat menciptakan 1 juta lapangan kerja baru dan memberdayakan 10.000 UMKM. Hal ini tentu saja akan memperkuat integrasi dengan ekonomi lokal dan memberikan dampak positif bagi pembangunan nasional.
Disisi lain, keberhasilan transformasi InJourney tidak hanya akan berdampak pada pencapaian target finansial, tetapi juga akan mengukuhkan posisi Indonesia sebagai destinasi wisata utama dunia. Program ini akan menciptakan legacy dalam industri pariwisata nasional yang berkelanjutan dan berdaya saing global. Melalui implementasi strategi yang tepat dan dukungan seluruh pemangku kepentingan, target kontribusi PDB pariwisata Rp 400 triliun pada 2029 menjadi sebuah ambisi yang menantang namun achievable.
Transformasi InJourney ini tentu saja akan menjadi blueprint bagi pengembangan pariwisata berkelanjutan yang berdaya saing global. Lebih dari sekadar mencapai target finansial, inisiatif ini akan memberikan dampak ekonomi dan sosial yang substansial bagi pembangunan nasional Indonesia, sekaligus membangun fondasi kokoh bagi masa depan industri pariwisata yang lebih cerah.***
*) Penulisan adalah Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia / Dosen Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti
