Rahmad: Warga Tak Perlu Resah Meskipun Rabies di Sumbar Tinggi
Republika, Kamis 06 Jul 2023 menurutkan berita dengan judul: Kasus Penularan Rabies di Sumbar Capai 1.171 Kasus, Urutan Lima Nasional
Muhammad Rahmad
7/8/20232 min baca


Republika, Kamis 06 Jul 2023 menurutkan berita dengan judul: Kasus Penularan Rabies di Sumbar Capai 1.171 Kasus, Urutan Lima Nasional. Berita tersebut bersumber dari Sukarli, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sumatera Barat (Sumbar). Dinas mencatat terdapat 1.171 kasus gigitan hewan penurabies (GHPR) di Sumbar sejak Januari hingga April 2023. Dari ribuan kasus gigitan hewan penular rabies tersebut, sembilan dinyatakan positif.
Sukarli menyebut sebaran kasus rabies di Sumbar berada di Kabupaten Pasaman Barat, Agam hingga Kota Payakumbuh.
"Yang dinyatakan positif hasil laboratorium itu sembilan kasus. Ketika ada pasien kami mendorong bawa ke puskesmas untuk dilakukan penyuntikan vaksin anti rabies (VAR). Sehingga yang tergigit bisa selamat," kata Sukarli, Kamis (6/7/2023) sebagaimana diberitakan Republika.
Sukarli menjelaskan tingginya kasus gigitan hewan penular rabies disebabkan dengan berbagai faktor. Salah satunya, masyarakat Sumbar yang gemar memelihara hewan seperti kucing serta anjing. Hingga saat ini, sebanyak 7.406 dosis sudah disuntikkan ke kucing dan anjing.
Disamping itu, menurut Sukarli, Dinas juga sudah menyediakan 7.500 dosis yang bersumber dari APBN. Juga akan tiba 20 ribu dosis dari dana APBD provinsi," ucap Sukarli.
Sukarli menyebut bahwa populasi ternak anjing pada tahun 2022 di Sumatera Barat mencapai 240,192 ekor. Menurut Sukarli, anjing yang masuk ke Sumbar kebanyakan dari Jawa Barat. Dalam setahun, diperkirakan sekitar 30 ribu ekor masuk ke Sumbar, atau sekitar 100 ekor per hari. Itu berdasarkan surat keterangan kesehatan anjing melintas masuk ke Sumbar," kata Sukarli seperti yang diberitakan Republika.
Muhammad Rahmad, Fungsionaris DPP Partai Golkar menghimbau masyarakat Sumbar untuk tidak perlu resah. Jika Dinas terkait menjalankan Tugas pokok dan fungsi nya dengan baik, maka kasus Rabies ini secara cepat bisa diatasi, ujar Rahmad.
Rahmad menyebut, banyaknya jumlah anjing yang masuk dari Jawa Barat ke Sumbar sebetulnya tidak jadi masalah dan tidak jadi ancaman Rabies bagi Sumbar jika sebelum masuk, anjing tersebut sudah disuntik vaksin. Apalagi Dinas terkait di Jawa Barat sudah menerbitkan surat keterangan kesehatan anjing sebelum masuk ke Sumbar. Hal ini yang perlu dipastikan oleh Dinas terkait.
Hal lain yang juga perlu jadi perhatian utama Dinas terkait di Sumbar adalah melakukan vaksin secara merata terhadap anjing dan kucing yang ada Sumbar sendiri. Tentu yang perlu divaksin adalah hewan peliharaan yang ada pemiliknya. Terhadap anjing dan kucing yang tidak ada pemiliknya, maka Dinas terkait dapat melakukan langkah-langkah lain. Bisa dimusnahkan atau bisa diberdayakan untuk kepentingan lain. Di Singapura misalnya, anjing dan kuncing yang tidak ada pemiliknya, dirawat ditempat khusus. Warga yang kemudian tertarik untuk merawat, bisa mengambilnya sebagai hewan peliharaan. Bahkan, Kawasan yang dikembangkan Dinas terkait itu juga menjadi objek pariwisata yang mendatangkan income buat pemerintah, kata Rahmad.
Pemilik tentu harus aktif dalam memastikan hewan peliharaannya sudah divaksin atau belum. Namun Dinas bisa pula melakukan jemput bola dengan melakukan vaksin serentak dengan memberdayakan komunitas pemilik anjing dan kucing, atau melalui unit layanan kesehatan hewan yang disebar ke nagari-nagari di seluruh Sumatera Barat, ujar Rahmad.
Kepedulian Pemerintah terhadap kesehatan hewan ternak seperti anjing dan kucing juga perlu ditingkatkan. Selama ini mungkin sudah baik, namun perlu lebih di tingkatkan, ujar Rahmad.
Pemerintah sudah menganggarkan dan menyediakan vaksin. Itu sudah baik. Namun sampai saat ini belum ada unit layanan khusus kesehatan hewan yang Nagari-nagari atau tingkat Kecamatan yang disiapkan Pemerintah, kata Rahmad.
Bila ada unit layanan khusus kesehatan hewan di Nagari-nagari atau di tingkat Kecamatan yang disiapkan Pemerintah, tentu masyarakat akan mulai peduli dengan pentingnya vaksin bagi hewan peliharaan seperti anjing dan kucing. Jika hewan hewan tersebut sudah divaksin secara merata, maka penyakin rabies bisa ditekan. Masyarakat juga akhirnya tidak perlu lagi resah dengan penyakit Rabies yang menakutkan, kata Rahmad.***
*) Penulisan adalah Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia / Dosen Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti
info@pusatkajianpariwisata.id
© 2023-2026 Pusat Kajian Pariwisata Indonesia. All Rights Reserved.
