Respons Cepat Ledakan SMAN 72 dan Kepercayaan Wisatawan
Ledakan yang mengguncang SMAN 72 Jakarta kemarin memang mengejutkan kita semua, namun yang lebih mengejutkan lagi adalah bagaimana pemerintah merespons kejadian ini dengan kecepatan dan kematangan yang luar biasa.
Muhammad Rahmad
11/8/20254 min read


Ledakan yang mengguncang SMAN 72 Jakarta kemarin memang mengejutkan kita semua, namun yang lebih mengejutkan lagi adalah bagaimana pemerintah merespons kejadian ini dengan kecepatan dan kematangan yang luar biasa. Dalam hitungan jam setelah insiden terjadi, kita menyaksikan sebuah orkestra manajemen krisis yang dimainkan dengan hampir sempurna - Presiden memberikan arahan yang jelas dan menenangkan, Gubernur DKI langsung turun ke lokasi untuk memastikan situasi terkendali, sementara informasi mengalir dengan transparan melalui berbagai saluran komunikasi resmi tanpa ada upaya untuk menutupi atau mendramatisasi fakta.
Sebagai seseorang yang telah lama mengamati dinamika industri pariwisata Indonesia, saya melihat momen ini sebagai ujian penting yang akan menentukan bagaimana wisatawan internasional memandang kemampuan kita dalam mengelola situasi krisis. Indonesia, dengan segala pengalamannya menghadapi berbagai bencana dan krisis selama dua dekade terakhir, sekali lagi membuktikan bahwa negara ini telah mengembangkan mekanisme respons yang tidak hanya cepat tetapi juga proporsional dan bermartabat. Apalagi mengingat kontribusi sektor pariwisata yang mencapai 4,8% terhadap GDP nasional dan posisi Indonesia di peringkat 22 dari 119 negara dalam Travel & Tourism Development Index 2024, menjaga kepercayaan wisatawan menjadi sangat krusial.
Yang paling menarik perhatian saya adalah bagaimana informasi dikelola dengan sangat dewasa dalam kejadian ini. Media massa memberitakan kejadian dengan proporsional tanpa jatuh dalam perangkap sensasionalisme yang sering mewarnai pemberitaan krisis, sementara pemerintah dengan tenang menyampaikan fakta-fakta yang ada - bahwa pelaku adalah seorang siswa yang diduga menjadi korban bullying dan bukan bagian dari jaringan teror internasional, bahwa ada 54 orang yang terluka namun semuanya dalam kondisi yang dapat ditangani, dan bahwa situasi sudah sepenuhnya terkendali.
Keputusan Pemprov DKI Jakarta untuk menanggung seluruh biaya pengobatan korban bukan sekadar gesture simbolis, melainkan sebuah tindakan konkret yang menunjukkan bahwa pemerintah hadir dan peduli pada warganya dalam situasi sulit. Wisatawan internasional yang mengamati respons ini akan melihat Indonesia sebagai negara yang tidak hanya memiliki destinasi wisata yang indah, tetapi juga sistem governance yang responsif dan empatis terhadap warganya.
Dalam literatur crisis management, Choi (2024) menyebut tentang pentingnya "golden hours" pertama dalam menentukan narasi publik, dan Indonesia memanfaatkan waktu krusial ini dengan sangat baik. Sejalan dengan ini, Giannoukou dan Kougia (2025) dalam studinya tentang innovative digital strategies menekankan pentingnya transparansi real-time melalui platform digital. Indonesia berhasil menerapkan kedua prinsip ini - respons cepat di lapangan dikombinasikan dengan komunikasi digital yang efektif mencegah berkembangnya misinformasi di media sosial.
Presiden Prabowo mengambil pendekatan yang sangat bijaksana dengan menjadikan kejadian ini sebagai momentum untuk meningkatkan kewaspadaan kolektif tanpa menciptakan atmosfer ketakutan yang dapat melumpuhkan aktivitas normal masyarakat, termasuk sektor pariwisata. Pesan yang disampaikan jelas dan seimbang - bahwa kita perlu waspada terhadap potensi ancaman di lingkungan sekitar, namun tidak perlu jatuh dalam paranoia yang justru kontraproduktif. Pendekatan ini sejalan dengan framework resilience and recovery yang dikemukakan Liu et al. (2024), di mana keseimbangan antara vigilance dan normalcy menjadi kunci pemulihan pasca krisis.
Koordinasi antar lembaga yang mulus antara Polri, TNI, Pemda DKI, dan berbagai kementerian terkait menunjukkan bahwa Indonesia telah belajar dari pengalaman krisis sebelumnya tentang pentingnya unified command structure. Tidak ada ego sektoral yang menghambat, tidak ada kebingungan tentang siapa yang bertanggung jawab atas apa, semuanya bergerak dalam harmoni yang terkoordinasi dengan baik. Keterlibatan Densus 88 yang profesional tanpa dramatisasi berlebihan menambah kredibilitas penanganan.
Langkah Kemendikdasmen yang langsung mengirimkan tim trauma healing menunjukkan pemahaman mendalam bahwa krisis bukan hanya tentang menangani dampak fisik immediate, tetapi juga tentang pemulihan psikologis jangka panjang bagi mereka yang terdampak. Ini adalah pendekatan holistik yang menunjukkan kematangan dalam memahami kompleksitas dampak krisis, sesuatu yang Ramachandran et al. (2024) sebut sebagai "continued innovation beyond crisis" dalam Journal of Tourism Futures.
Memang masih terlalu dini untuk mengukur dampak konkret kejadian ini terhadap industri pariwisata kita, mengingat insiden baru terjadi kemarin. Namun demikian, indikator-indikator awal sangat menggembirakan - tidak ada satupun negara yang mengeluarkan travel warning untuk Indonesia, penerbangan internasional tetap beroperasi dengan normal, dan sejauh ini tidak ada laporan pembatalan massal dari hotel-hotel di berbagai destinasi wisata. Stakeholder pariwisata swasta, dari jaringan hotel internasional hingga operator tur lokal, menunjukkan sikap business as usual yang tepat tanpa overreaction yang justru kontraproduktif.
Peran media sosial dan digital platform dalam krisis ini patut mendapat apresiasi khusus. Berbeda dengan krisis-krisis sebelumnya di mana hoax dan kepanikan viral sulit dikontrol, kali ini narasi positif berhasil mendominasi. Hashtag #WonderfulIndonesia tetap trending, influencer pariwisata tetap posting konten positif, dan tidak ada amplifikasi berlebihan yang biasanya menjadi ciri khas respons media sosial terhadap krisis. Algoritma yang biasanya memperbesar konten negatif berhasil diimbangi dengan konten faktual dan menenangkan dari akun-akun resmi pemerintah dan tokoh publik yang kredibel.
Yang perlu menjadi perhatian kita bersama adalah bagaimana menjaga konsistensi komunikasi dalam beberapa minggu ke depan, karena periode ini akan krusial dalam membentuk persepsi jangka menengah tentang keamanan Indonesia sebagai destinasi wisata. Setiap informasi yang keluar harus konsisten dan tidak kontradiktif, transparansi harus tetap dijaga tanpa jatuh dalam over-sharing yang justru dapat menimbulkan kebingungan. Kedutaan besar dan atase pariwisata Indonesia di negara-negara sumber wisatawan utama perlu proaktif menyampaikan update yang menenangkan.
Indonesia memiliki modal besar berupa resiliensi yang telah teruji berkali-kali, dan wisatawan internasional yang telah lama mengenal Indonesia memahami bahwa ini adalah negara yang kuat dan mampu bangkit dari berbagai cobaan. Satu insiden terisolasi, betapapun tragisnya, tidak akan meruntuhkan kepercayaan yang telah dibangun melalui pengalaman positif jutaan wisatawan selama bertahun-tahun. Target ambisius 14,6-16 juta wisatawan untuk 2025 tetap realistis dengan catatan konsistensi penanganan tetap terjaga.
Saya pribadi sangat optimis bahwa dampak kejadian ini terhadap industri pariwisata kita akan minimal, terutama karena respons pemerintah yang cepat, transparan, dan proporsional telah menetapkan tone yang tepat sejak awal. Yang terpenting sekarang adalah menjaga konsistensi pendekatan ini sambil terus menunjukkan bahwa Indonesia adalah destinasi yang tidak hanya menawarkan keindahan alam dan kekayaan budaya, tetapi juga keamanan dan profesionalisme dalam mengelola situasi yang tidak terduga.
Rekomendasi konkret untuk industri pariwisata ke depan: pertama, perkuat protokol crisis communication dengan melibatkan semua stakeholder dari awal; kedua, investasi pada digital monitoring tools untuk mendeteksi dan merespons misinformasi dengan cepat; ketiga, bangun crisis response team di setiap destinasi wisata utama yang dapat bergerak cepat saat dibutuhkan; dan keempat, lakukan simulasi krisis secara berkala untuk memastikan kesiapan semua pihak. Ledakan SMAN 72 memang tragedi, namun respons yang ditunjukkan membuktikan bahwa Indonesia siap dan mampu melindungi industri pariwisatanya dari dampak krisis. Kepercayaan wisatawan adalah aset terbesar kita, dan kemarin kita berhasil menjaganya dengan baik.
*) Penulisan adalah Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia / Dosen Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti
