Revolusi Pemberdayaan Ekonomi Melalui Beasiswa Pariwisata Religi

Indonesia tengah menghadapi ironi yang menyakitkan.

Muhammad Rahmad

10/26/20253 min read

Indonesia tengah menghadapi ironi yang menyakitkan. Di satu sisi, 1,1 juta sarjana menganggur pada Februari 2025—angka yang terus membengkak dengan laju 14,6% untuk lulusan diploma. Di sisi lain, 860.976 lulusan SMA berbondong-bondong mengikuti seleksi perguruan tinggi, berharap pendidikan tinggi menjadi tangga menuju kesejahteraan. Paradoks ini bukan hanya soal angka, melainkan cerminan sistem pendidikan yang gagal membaca kebutuhan pasar.

Namun di balik kegelapan ini, ada celah cahaya yang jarang dilirik: wisata religi. Sektor yang tumbuh eksponensial, namun minim perhatian sebagai solusi pemberdayaan ekonomi berbasis zakat, infak, dan sedekah (ZIS).

Ledakan Tersembunyi: Wisata Religi Indonesia

Data menunjukkan transformasi dramatis. Jamaah umrah Indonesia yang hanya mencapai 29,2 triliun rupiah pada 2019, melesat menjadi 34,2 triliun rupiah pada 2024, dengan proyeksi mencapai 280,9 triliun rupiah pada 2035. Angka ini bukan sekadar statistik—ini adalah tsunami ekonomi yang sedang mendekat, membawa peluang lapangan kerja masif yang belum tergarap optimal.

Pusat Kajian Pariwisata Indonesia mengidentifikasi kebutuhan SDM wisata religi periode 2025-2035 yang mencengangkan: gap sebesar 61.750 tenaga kerja. Dari 21.500 posisi yang dibutuhkan saat ini, proyeksi 2035 memerlukan 83.250 profesional. Yang lebih menarik, 26,5% dari gap ini—atau 16.350 posisi—berpotensi diisi oleh mustahik yang diberdayakan melalui program beasiswa pendidikan pariwisata.

Anatomi Peluang: Posisi Tradisional dan Digital

Kebutuhan SDM terbagi dalam dua kategori besar: posisi tradisional dan digital. Posisi tradisional seperti pembimbing ibadah, tour leader, dan travel management memiliki gap masing-masing 8.500, 8.500, dan 4.250 posisi. Sementara posisi digital—digital marketing, content creator, dan affiliate manager—mengalami gap lebih masif: 15.000, 11.000, dan 6.000 posisi.

Pembagian ini mengungkap strategi pemberdayaan ganda. Untuk mustahik dari generasi lebih tua yang religius namun kurang literasi digital, posisi tradisional menawarkan jalur karir stabil dengan gaji awal Rp 8-15 juta per bulan. Untuk generasi muda mustahik yang digital native, posisi digital marketing menjanjikan penghasilan Rp 15-25 juta per bulan dengan fleksibilitas kerja tinggi.

Simulasi Transformasi: Dari Penerima Zakat Menjadi Pembayar Zakat

Proyeksi transformasi ekonomi kohort 1.000 mustahik selama 10 tahun menunjukkan magic of compound effect. Tahun 0-1, mahasiswa tidak menghasilkan income. Tahun 2-3 (periode magang), rata-rata income Rp 2-3 juta per bulan, dengan economic multiplier 1,5x, menciptakan dampak ekonomi Rp 36-54 miliar.

Titik kritis terjadi pada Tahun 4. Dengan asumsi 95% terserap pasar, fresh graduate menghasilkan rata-rata Rp 10 juta per bulan atau Rp 120 juta per tahun. Total income kohort mencapai Rp 114 miliar, dengan economic multiplier 2,5x menghasilkan dampak ekonomi Rp 285 miliar—sebuah transformasi yang menakjubkan.

Perjalanan karir berlanjut. Tahun 10, ketika para alumni mencapai posisi director/entrepreneur dengan penghasilan Rp 30 juta per bulan, total income kohort meledak menjadi Rp 360 miliar, dengan dampak ekonomi total Rp 1,98 triliun dan zakat yang dihasilkan mencapai Rp 9 miliar per tahun. Dalam satu dekade, mustahik bertransformasi menjadi muzakki—penerima zakat menjadi pembayar zakat.

Keunggulan Kompetitif: Membandingkan Jalur Karir

Analisis komparatif menunjukkan keunggulan sektor pariwisata religi. Starting salary Rp 8-15 juta jauh melampaui banking teller (Rp 4-6 juta), retail (Rp 3-5 juta), dan manufacturing (Rp 4-7 juta). Dalam lima tahun, profesional wisata religi dapat mencapai Rp 25-40 juta, setara dengan IT junior namun dengan time to muzakki hanya 0-6 bulan—tercepat dibanding sektor lain.

Stabilitas juga menjadi keunggulan. Dengan tag "high spiritual demand", sektor ini tahan resesi. Berbeda dengan retail yang rentan guncangan ekonomi, kebutuhan ibadah umrah dan haji cenderung konsisten bahkan di masa sulit—menjadi prioritas spiritual yang tidak ditunda.

Scaling Up: Roadmap 16.000 Mustahik

Implementasi bertahap dimulai 2025 dengan kohort perdana 1.000 mustahik. Tahun 2026 naik menjadi 2.000, tahun 2027 menjadi 3.000, puncaknya 2028 dengan 4.000 mustahik. Setelah itu, intake diturunkan menjadi 3.000 per tahun hingga 2030, mencapai total 16.000 mustahik terinvestasi dalam pendidikan pariwisata.

Proyeksi 2035 menunjukkan revolusi ekonomi. Dengan 16.000 alumni bekerja, total income per tahun mencapai Rp 5,616 triliun, menghasilkan zakat Rp 140 miliar per tahun. Dampak ekonomi total dengan multiplier 5,5x mencapai Rp 30,888 triliun—kontribusi signifikan terhadap PDB sektor pariwisata nasional.

Dari Teori ke Aksi: Imperatif Strategis

Model ini bukan charity biasa. Ini adalah investasi sosial dengan ROI terukur, mengubah paradigma ZIS dari konsumtif menjadi produktif. Setiap rupiah zakat yang diinvestasikan dalam beasiswa pendidikan pariwisata menciptakan efek bergulir: mustahik terserap industri, menghasilkan income, membayar zakat, yang kemudian mendanai mustahik baru—siklus pemberdayaan berkelanjutan.

Keberhasilan memerlukan kolaborasi pentahelix: BAZNAS sebagai penyalur dana ZIS, institusi pendidikan pariwisata sebagai penyelenggara program, industri wisata religi sebagai job creator, pemerintah sebagai regulator, dan komunitas sebagai support system. Sinergi ini memastikan kualitas pendidikan, penyerapan kerja, dan keberlanjutan program.

Penutup: Mengubah Takdir Generasi

Di tengah paradoks pengangguran sarjana dan ledakan kebutuhan SDM wisata religi, model beasiswa pendidikan pariwisata untuk mustahik menawarkan solusi elegant: mengatasi kemiskinan struktural sambil memenuhi kebutuhan industri. Dari 1,1 juta sarjana menganggur, ada ribuan mustahik berpotensi yang hanya butuh tangga untuk naik—pendidikan pariwisata adalah tangga itu.

Dalam 10 tahun, satu mustahik tidak hanya berubah dari penerima menjadi pemberi, tetapi menjadi penggerak ekonomi dengan dampak berlipat. Dan ketika 16.000 mustahik bertransformasi, kita tidak sekadar memberdayakan individu—kita mengubah takdir generasi, mewujudkan keadilan ekonomi yang menjadi esensi sejati dari zakat.

*) Penulisan adalah Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia / Dosen Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti