Saham Bank Tertekan, Indonesia Punya Banyak Alasan untuk Tetap Optimis

Angka saham bank sebesar itu gampang memancing panik. Namun orang yang matang tidak sekedar membaca angka. Ia mencari cerita di baliknya. Setelah menelaah grafik ini, saya menemukan bahwa ceritanya jauh lebih menenangkan daripada judul-judul berita yang beredar.

OPINI

Muhammad Rahmad - Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata dan Ekonomi Indonesia

10/17/20263 min baca

Muhammad Rahmad
Muhammad Rahmad

Sekilas, grafik indeks harga saham bank dari 16 April sampai 16 Oktober 2026 memang membuat dada sesak. Enam garis bergerak turun, dan pada 16 Oktober semuanya jatuh tajam dalam satu hari. BBRI turun 14,84 persen, BMRI 14,82 persen, BBCA 14,81 persen, BRIS 14,79 persen, BBTN 14,49 persen, dan BBNI 12,90 persen.

Angka sebesar itu gampang memancing panik. Namun orang yang matang tidak sekedar membaca angka. Ia mencari cerita di baliknya. Setelah menelaah grafik ini, saya menemukan bahwa ceritanya jauh lebih menenangkan daripada judul-judul berita yang beredar.

Mulai dari hal yang paling mencolok. Keenam saham turun bersamaan dengan besaran yang nyaris sama. Bank besar dan bank yang lebih kecil, bank konvensional dan bank syariah, semuanya terkena. Kalau masalahnya ada di dalam satu bank, penurunannya pasti berbeda-beda. Kekompakan ini menunjukkan bahwa yang bergerak adalah suasana hati pasar, bukan kondisi dapur masing-masing bank.

Suasana hati itu pun tidak lahir di dalam negeri. Grafik menyebut suku bunga global yang masih tinggi, dolar AS yang menguat, dana asing yang keluar, dan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi dunia. Semua itu angin kencang dari luar yang menerpa banyak negara berkembang. Indonesia ikut terkena, tetapi bukan karena rumahnya rapuh.

Untuk menilai seberapa kuat rumah kita, tengoklah Juni 2026. Waktu itu seluruh indeks bank menyentuh dasar. BRIS sempat melorot ke kisaran 55, sementara bank lain bertahan di rentang 60 sampai 70. Banyak orang pasti mengira keadaan akan terus memburuk.

Kenyataannya berbalik arah. Dalam beberapa pekan, indeks naik lagi ke kisaran 85 sampai 90. Pada akhir September, BBNI mendekati 108 dan BBCA menembus 100. Dari lubang yang dalam, saham bank kita memanjat 40 sampai 50 poin dalam waktu singkat. Pasar yang rapuh tidak akan sanggup melakukannya. Itulah yang disebut daya lenting.

Daya lenting itu punya alasan. Setiap kali harga ditekan, selalu ada investor yang melihat nilai di balik harga murah. Mereka tahu bank-bank Indonesia bersandar pada pasar domestik yang luar biasa besar. Ada sekitar 280 juta orang yang menabung, membayar, meminjam, dan berusaha setiap hari. Selama roda ekonomi rakyat berputar, bank punya sumber penghasilan yang tidak gampang kering.

Sejarah pun mengajarkan hal serupa. Pada 2008, Indonesia tetap tumbuh ketika banyak negara terperosok. Pada awal pandemi 2020, pasar saham kita jatuh dalam, tetapi kemudian pulih dan perbankan kembali mencatat laba. Dalam kedua peristiwa itu, yang diuntungkan adalah mereka yang sabar dan percaya pada fondasi ekonomi Indonesia.

Dari sini kita bisa melihat sisi lain dari penurunan harga. Saham yang murah berarti valuasi yang lebih menarik bagi investor jangka panjang, seperti dana pensiun, perusahaan asuransi, dan investor ritel yang disiplin. Bagi bank milik negara, koreksi ini juga menjadi pengingat untuk terus merawat tata kelola, manajemen risiko, dan komunikasi yang jernih kepada pasar. Pengingat semacam itu sehat, karena institusi yang kuat memang lahir dari ujian.

Grafik ini menutup dengan catatan bahwa pemulihan bergantung pada tiga hal, yaitu stabilitas global, rupiah, dan pertumbuhan kredit domestik. Ketiganya layak dibaca dengan kepala dingin.

Soal stabilitas global, tidak ada tekanan yang abadi. Suku bunga tinggi akan turun pada waktunya, dan dolar yang terlalu perkasa akan mereda. Ketika itu terjadi, dana asing biasanya kembali ke negara berkembang yang prospeknya baik. Indonesia termasuk yang paling siap menyambutnya.

Soal rupiah, kita punya bank sentral yang berpengalaman dan cadangan devisa yang memadai. Beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa otoritas kita tahu kapan harus bertindak cepat.

Soal kredit domestik, di sinilah modal terbesar kita. Usaha kecil dan menengah, perumahan, energi baru, hingga industri kreatif masih haus pembiayaan. Pariwisata adalah contoh yang paling gamblang. Satu wisatawan yang datang menggerakkan hotel, restoran, transportasi, pengrajin, dan petani sekaligus. Mereka semua membutuhkan tabungan, pembiayaan, dan layanan pembayaran. Ketika pariwisata kita dipacu untuk memimpin di ASEAN, perbankan ikut kebagian arus transaksi yang sehat. Sektor riil yang kuat adalah sahabat terbaik sektor perbankan.

Meski begitu, optimisme tidak berarti menutup mata. Penurunan belasan persen dalam sehari patut dicermati. Regulator perlu menjaga pasar tetap tertib dan memastikan informasi sampai ke publik dengan jelas. Bank perlu menjaga kualitas kredit dan kecukupan modal. Investor perlu menahan diri agar tidak mengambil keputusan karena takut. Waspada itu perlu, tetapi waspada tidak sama dengan pesimis.

Bagi masyarakat biasa, pesannya sederhana. Harga saham bukan tabungan Anda. Turunnya harga saham tidak memotong saldo di rekening. Simpanan nasabah berada dalam sistem yang diawasi ketat dan dijamin oleh lembaga penjamin simpanan. Jangan sampai grafik yang menakutkan membuat orang mengambil langkah keuangan yang keliru.

Pada akhirnya, grafik ini mengajarkan kita membaca dua hal sekaligus. Ada tekanan, tetapi ada juga daya tahan. Ada penurunan, tetapi ada pula bukti pemulihan. Enam bulan terakhir sudah memperlihatkan bank-bank kita jatuh ke dasar lalu bangkit lagi. Rekam jejak itu pantas kita pegang.

Indonesia bukan bangsa yang mudah goyah oleh satu hari. Kita pernah melewati krisis yang jauh lebih berat dan keluar sebagai bangsa yang lebih tangguh. Dengan fondasi yang terjaga, pasar dalam negeri yang besar, dan kebijakan yang sigap, saya yakin tekanan kali ini hanya bab sementara. Badai global pasti berlalu. Mari kita menatapnya dengan tenang, waspada, dan penuh keyakinan.

*) Penulis adalah Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata dan Ekonomi Indonesia / Dosen Institut Pariwisata Trisakti

Email

info@pusatkajianpariwisata.id

© 2023-2026 Pusat Kajian Pariwisata & Ekonomi Indonesia. All Rights Reserved.