Strategi Agile Tourism Management (ATM) Menghadapi Dampak Geopolitik Krisis Iran dan Akselerasi Adaptasi Iklim 2026
Artikel ini menguraikan kerangka kerja Agile Tourism Management (ATM) yang mengintegrasikan tiga pilar — kelincahan (agility), manajemen krisis, dan adaptasi iklim — sebagai strategi bagi industri pariwisata Indonesia untuk menghadapi dampak geopolitik konflik Iran serta tantangan perubahan iklim di tahun 2026.
Agus Riyadi - Peneliti Senior Pusat Kajian Pariwisata Indonesia
3/2/20265 min baca


Jakarta — Industri pariwisata Indonesia kini berdiri di persimpangan tantangan global yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat peperangan yang terus berlangsung antara Iran dan Israel bersama Amerika Serikat telah menciptakan gelombang ketidakpastian yang berdampak lebih dari sekadar berita internasional. Ketidakpastian global di awal Maret 2026 ditandai dengan penutupan di Selat Hormuz (Iran) yang mengancam stabilitas harga energi dan jalur penerbangan internasional (Euronews, 2025). Sektor wisata terusik oleh persepsi risiko, gangguan rute penerbangan, Harga avtur melonjak, dan disrupsi rantai pasok ikut terdorong naik serta pergeseran preferensi pasar wisatawan mancanegara. Di saat yang sama, destinasi wisata dituntut untuk melakukan adaptasi iklim yang agresif.
Pembatalan pesawat dari Timur Tengah berdampak pada penurunan drastis di destinasi utama seperti Bali atau Jakarta, para pelaku industri mengakui bayangan geopolitik mampu menekan wisatawan berwisata ke Indonesia khususnya wisatawan asal Timur Tengah. Pada tahun 2024, jumlah wisatawan asal Timur Tengah yang berkunjung ke Indonesia tercatat sekitar 224.000 orang, meningkat sekitar 24% dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2023). Pemerintah menargetkan kedatangan sekitar 249.000 wisatawan asal Timur Tengah pada tahun 2025. Data Badan Pusat Statistik (2026) juga menunjukkan adanya pertumbuhan kedatangan wisatawan dari kawasan tersebut pada beberapa bulan di tahun 2025, yang ditunjukkan oleh peningkatan persentase dibandingkan pada November 2025 terjadi kenaikan sekitar 15% dibandingkan November 2024.
Manajemen tangkas dalam pariwisata didefinisikan sebagai kemampuan organisasi untuk merasakan perubahan lingkungan dan meresponsnya secara cepat dan adaptif (Nafei, W. A. 2016; Riyadi, A et al., 2022). Strategi antisipasi yang efektif dalam menghadapi eskalasi konflik Iran perlu dirancang melalui integrasi tiga pilar utama dalam satu kerangka kerja adaptif yang berbasis bukti dan responsif terhadap dinamika geopolitik global. Konsep Agile Tourism Management (ATM) menjadi semakin relevan sebagai strategi bertahan sekaligus bertumbuh. Pilar pertama, agility, menekankan pemanfaatan real-time data analytics sebagai dasar pengambilan keputusan strategis yang cepat dan presisi ketika penerbangan di Timur Tengah terhenti. Dalam konteks gangguan pasar akibat konflik di Iran, organisasi terutama pada sektor pariwisata dan perdagangan internasional harus mampu melakukan re-alokasi anggaran promosi dan pemasaran secara dinamis, misalnya mengalihkan fokus dari pasar Timur Tengah menuju pasar Asia Tenggara atau domestik dalam waktu kurang dari 48 jam. Pendekatan ini sejalan dengan literatur manajemen strategis kontemporer yang menempatkan dynamic capabilities sebagai faktor kunci dalam mempertahankan keunggulan kompetitif di tengah ketidakpastian global.
Pilar kedua, crisis management, berfokus pada penguatan supply chain resilience melalui diversifikasi sumber pasokan dan pengurangan ketergantungan pada jalur logistik internasional yang rentan terhadap disrupsi geopolitik. Konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran, berpotensi memicu volatilitas harga energi dan gangguan distribusi global. Oleh karena itu, substitusi bahan baku impor dengan produk lokal, renegosiasi kontrak logistik, serta pengembangan skema buffer stock menjadi langkah mitigatif yang rasional untuk menekan eskalasi biaya dan menjaga stabilitas operasional. Ketergantungan pada jaringan logistik global yang panjang dan kompleks seringkali membuat sistem pasokan pangan rentan terhadap gangguan eksternal seperti pandemi, konflik, atau fluktuasi harga internasional. Dalam konteks ini, short food supply chains (SFSC) dipandang memiliki potensi untuk meningkatkan ketahanan pangan lokal karena mereka terhubung langsung dengan konsumen dan memiliki struktur yang lebih fleksibel dalam merespons disrupsi pasar (Yang et al., 2024; F. Jia, G. Shahzadi, M. Bourlakis, & A. John, 2024). Pemerintah harus segera mengambil memontum, ketika restoran-restoran franchise asing mengalami kesulitan kebutuhan bahan baku maka menjadi peluang bagi rempah-rempah Indonesia sebagai penggantinya.
Pilar ketiga, climate adaptation, menekankan pentingnya energy autonomy melalui investasi pada energi terbarukan sebagai strategi jangka menengah dan panjang (IPCC, 2023; International Energy Agency, 2024). Ketergantungan pada bahan bakar fosil yang sangat sensitif terhadap dinamika konflik geopolitik menjadikan sektor industri dan pariwisata rentan terhadap lonjakan harga operasional (Yergin, 2023; Hall, 2024). Penggunaan panel surya, sistem manajemen energi cerdas, serta integrasi renewable energy mix dalam operasional perusahaan berfungsi sebagai mekanisme mitigasi risiko sekaligus mendukung agenda keberlanjutan (IRENA, 2023; Gössling & Scott, 2025). Integrasi ketiga pilar tersebut membentuk kerangka kerja strategis yang tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga proaktif dalam membangun ketahanan sistemik dan stabilitas jangka panjang dalam lanskap global yang semakin volatil (Folke, 2022).Menghadapi tahun 2026 yang penuh ketidakpastian, pariwisata tidak bisa lagi dikelola dengan metode linear. Skenario konflik di Iran menjadi katalis bagi destinasi untuk mempercepat transisi menuju operasional yang lebih tangkas (agile) dan mandiri secara energi. Integrasi antara manajemen krisis dan adaptasi iklim adalah satu-satunya jalur menuju keberlanjutan industri di masa depan.
Strategi Agile Tourism Management (ATM) menawarkan kerangka transformatif yang mengintegrasikan agility, crisis management, dan climate adaptation dalam satu sistem respons terpadu. Pilar agility memastikan respons berbasis data secara cepat dan presisi terhadap pergeseran pasar global. Pilar crisis management memperkuat ketahanan rantai pasok melalui diversifikasi dan lokalisasi sumber daya. Sementara itu, pilar climate adaptation mendorong kemandirian energi dan transisi menuju bauran energi terbarukan sebagai fondasi stabilitas jangka panjang.
Integrasi ketiga pilar tersebut menegaskan bahwa resiliensi pariwisata tidak hanya dibangun melalui mitigasi risiko jangka pendek, tetapi melalui transformasi struktural yang memperkuat daya tahan sistemik. Krisis Iran harus dipandang sebagai momentum strategis untuk mempercepat reformasi operasional, memperkuat ketahanan domestik, dan menempatkan keberlanjutan sebagai inti strategi industri.
Dengan demikian, masa depan pariwisata Indonesia tidak ditentukan oleh absennya krisis, melainkan oleh kemampuan mengantisipasi, beradaptasi, dan bertransformasi secara tangkas di tengah ketidakpastian global. ATM bukan lagi opsi strategis, melainkan prasyarat untuk menjaga daya saing, stabilitas ekonomi, dan keberlanjutan jangka panjang sektor pariwisata nasional.
Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik. (2025, January 2). Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada November 2024 mencapai 1,09 juta kunjungan, naik 17,27 persen (year-on-year) [Press release]. https://www.bps.go.id/assets/pressrelease/2025/01/02/2395/kunjungan-wisatawan-mancanegara--wisman--pada-november-2024-mencapai-1-09-juta-kunjungan--naik-17-27-persen-year-on-year--y-on-y--.ht
Euronews. (2025). Why the Strait of Hormuz remains critical for the global economy. Euronews Business. https://www.euronews.com/business/2025/06/23/why-the-strait-of-hormuz-remains-critical-for-the-global-economy?utm_source=chatgpt.com
Fu. Jia, G. Shahzadi, M. Bourlakis, & A. John. (2024). Promoting resilient and sustainable food systems: A systematic literature review on short food supply chains. Journal of Cleaner Production, 435, 140364. https://doi.org/10.1016/j.jclepro.2023.140364
Folke, C., S. R. Carpenter, B. Walker, M. Scheffer, T. Chapin, & J. Rockström. 2010. Resilience thinking:integrating resilience, adaptability and transformability. Ecology and Society 15(4): 20. http://www.ecologyandsociety.org/vol15/iss4/art20/
Folke, Carl. (2022). Resilience. In C. Folke (Ed.), Foundations of social-ecological resilience. Cambridge University Press.
Gössling, S., & Scott, D. (2025). Tourist demand and destination development under climate change: complexities and perspectives. Journal of Sustainable Tourism, 1–31. https://doi.org/10.1080/09669582.2025.2543953
IPCC. (2023). Climate change 2023: Synthesis report. Contribution of Working Groups I, II and III to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. IPCC. https://www.ipcc.ch/report/ar6/syr/
International Energy Agency. (2024). World energy outlook 2024. IEA. https://www.iea.org/reports/world-energy-outlook-2024
International Renewable Energy Agency. (2023). World energy transitions outlook 2023: 1.5°C pathway. IRENA. https://www.irena.org/Publications/2023/Jun/World-Energy-Transitions-Outlook-2023
Riyadi, A., Leonandri, D. G., & Jamaluddin, M. R. (2022). Examining the impact of crisis management on brand performance of upscale hotels in the post-COVID-19 crisis in Indonesia. European Proceedings of Social and Behavioural Sciences. https://www.europeanproceedings.com/article/10.15405/epsbs.2024.05.84
Yang, C. X., Baker, L. M. L., Mattox, A. M. A., & Peterson, H. H. (2024). Innovation in isolation: Diffusion of local foods purchasing and online shopping methods during the pandemic. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0959652623045225?via%3Dihub
Yergin, Daniel. (2023). The new map: Energy, climate, and the clash of nations (Updated ed.). Penguin Press.
info@pusatkajianpariwisata.id
© 2023-2026 Pusat Kajian Pariwisata Indonesia. All Rights Reserved.
