Strategi Cerdas Memilih Perguruan Tinggi

Indonesia menghadapi paradoks pendidikan tinggi yang mengkhawatirkan.

Muhammad Rahmad

5/28/20253 min read

Tenaga Pengajar S1 Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti siap mencetak tenaga kerja pariwisata yang unggul dan handal. S1 Pariwisata di Institut Pariwisata Trisakti memperoleh Akreditasi Unggul (Diatas A) (Foto. Muhammad Rahmad)

Indonesia menghadapi paradoks pendidikan tinggi yang mengkhawatirkan. Di satu sisi, ratusan ribu calon mahasiswa berebut kursi di perguruan tinggi negeri dengan tingkat kompetisi yang sangat ketat. Data SNPMB 2025 menunjukkan bahwa dari 829.790 peserta UTBK yang hadir, hanya 253.421 peserta atau 29,43% yang berhasil diterima di perguruan tinggi negeri. Artinya, sekitar 70% atau lebih dari 600 ribu calon mahasiswa harus mencari alternatif di perguruan tinggi swasta atau menunda cita-cita pendidikan tinggi mereka.

Namun di sisi lain, tingkat pengangguran terbuka masih mencapai 4,76% secara nasional dengan angka yang lebih tinggi di wilayah-wilayah strategis seperti DKI Jakarta (6,18%), Jawa Barat (6,74%), dan Banten (6,64%). Dari 153.049.487 angkatan kerja, sebanyak 7.278.307 orang masih menganggur. Yang lebih mengkhawatirkan, banyak lulusan perguruan tinggi yang justru kesulitan mendapatkan pekerjaan sesuai bidang keahliannya.

Akar Masalah: Kesenjangan Antara Dunia Akademis dan Industri

Fenomena pengangguran terdidik ini mengindikasikan adanya kesenjangan fundamental antara kurikulum perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja. Banyak institusi pendidikan tinggi yang masih menggunakan pendekatan teoretis konvensional tanpa mempertimbangkan perkembangan dinamis industri modern. Akibatnya, lulusan memiliki ijazah namun tidak memiliki keterampilan praktis yang dibutuhkan oleh pasar kerja.

Situasi ini memaksa generasi muda untuk lebih strategis dalam memilih perguruan tinggi. Tidak cukup hanya mempertimbangkan prestise atau biaya kuliah, tetapi juga harus menganalisis relevansi program studi dengan prospek karier masa depan. Pemilihan yang tepat dapat menentukan apakah seseorang akan menjadi bagian dari 145.771.180 orang yang bekerja atau terjebak dalam statistik pengangguran.

Sektor Pariwisata: Peluang Emas yang Belum Terjamah Optimal

Dalam konteks ekonomi Indonesia yang sedang berkembang, sektor pariwisata menunjukkan prospek yang paling menjanjikan. Industri ini tidak hanya memiliki potensi pertumbuhan yang tinggi, tetapi juga menyediakan beragam peluang karier dengan pendapatan yang kompetitif. Kebutuhan tenaga kerja di sektor pariwisata sangat besar, namun mensyaratkan kompetensi khusus yang tidak bisa diperoleh melalui pendidikan umum.

Institut Pariwisata Trisakti hadir sebagai salah satu perguruan tinggi terkemuka yang secara khusus mempersiapkan mahasiswa untuk industri pariwisata. Institusi ini memiliki rekam jejak yang terbukti dalam menghasilkan lulusan yang langsung terserap pasar kerja. Dengan kurikulum yang diselaraskan dengan kebutuhan industri, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan teoretis tetapi juga keterampilan praktis yang langsung applicable.

Peluang Karier Konkret: Tour Leader dan Pengelola Travel Umrah

Salah satu segmen yang paling prospektif dalam industri pariwisata adalah pengelolaan perjalanan umrah. Dengan 1,4 juta jamaah umrah Indonesia setiap tahunnya, kebutuhan tour leader (TL) profesional sangat tinggi. Setiap grup 44 jamaah membutuhkan satu tour leader, yang berarti dibutuhkan sekitar 31.818 tour leader per tahun.

Profesi tour leader menawarkan paket remunerasi yang sangat menarik. Untuk setiap perjalanan, seorang tour leader mendapatkan uang saku sebesar 5 juta rupiah plus perjalanan umrah gratis dari perusahaan. Ditambah dengan gaji bulanan berkisar 4,5 hingga 5,5 juta rupiah, total penghasilan tour leader bisa mencapai 60-70 juta rupiah per tahun, belum termasuk bonus dan tunjangan lainnya.

Lebih dari aspek finansial, profesi ini juga memberikan kesempatan untuk berkeliling dunia dengan biaya ditanggung perusahaan. Banyak tour leader yang kemudian berkembang menjadi pengelola travel agency atau konsultan pariwisata dengan penghasilan yang jauh di atas rata-rata pekerja pemula di sektor lain.

Strategi Memilih Perguruan Tinggi yang Tepat

Menghadapi realitas persaingan yang ketat dan tantangan ketenagakerjaan, calon mahasiswa perlu menerapkan strategi pemilihan perguruan tinggi yang lebih matang. Pertama, riset mendalam tentang prospek industri dan kebutuhan tenaga kerja di masa depan. Kedua, evaluasi kurikulum dan fasilitas praktikum yang ditawarkan perguruan tinggi. Ketiga, analisis tingkat penyerapan lulusan dan jejaring alumni di industri terkait.

Institut Pariwisata Trisakti, sebagai contoh, memiliki keunggulan dalam hal networking dengan industri pariwisata nasional dan internasional. Mahasiswa mendapatkan kesempatan magang di hotel-hotel berbintang, maskapai penerbangan, dan travel agency terkemuka. Sistem pembelajaran yang mengintegrasikan teori dan praktik membuat lulusan memiliki competitive advantage yang signifikan.

Kesimpulan: Investasi Pendidikan yang Strategis

Memilih perguruan tinggi bukan sekadar keputusan akademis, tetapi investasi strategis untuk masa depan karier. Dengan tingkat penerimaan perguruan tinggi negeri yang hanya 29,43% dan tingkat pengangguran yang masih relatif tinggi, generasi muda harus lebih selektif dalam menentukan pilihan pendidikan.

Sektor pariwisata, khususnya pengelolaan perjalanan umrah dan tour leader, menawarkan peluang karier yang tidak hanya menguntungkan secara finansial tetapi juga memberikan pengalaman hidup yang berharga. Institut Pariwisata Trisakti dan perguruan tinggi sejenis yang fokus pada industri spesifik dapat menjadi pilihan tepat bagi calon mahasiswa yang ingin memastikan relevansi pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja.

Pada akhirnya, kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh prestise perguruan tinggi, tetapi oleh seberapa baik institusi tersebut mempersiapkan mahasiswa untuk menghadapi tantangan dunia kerja yang sesungguhnya. Pilihan yang tepat hari ini akan menentukan masa depan yang cerah esok hari.

*) Penulis adalah Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia / Dosen Pariwisata di Institut Pariwisata Trisakti, Jakarta.