Target Menkeu 6,7%? PDB Indonesia Bisa Tumbuh 8%
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi minimal 6,7% untuk menyerap tenaga kerja formal secara optimal.
Muhammad Rahmad
10/31/20259 min read


Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi minimal 6,7% untuk menyerap tenaga kerja formal secara optimal. Pertumbuhan saat ini (5%) tidaklah cukup. Banyak yang pesimis dengan pernyataan Menkeu ini. Bagaimana tidak? Sejak krisis 1998, negara kita belum pernah menyentuh angka tersebut. Namun sebagai seseorang yang telah menghabiskan belasan tahun mengamati dinamika pariwisata global, saya justru melihat momentum emas. Sektor pariwisata, dengan strategi yang tepat dan kolaborasi yang solid, bukan hanya mampu menjadi katalisator pertumbuhan 6,7%, tetapi bahkan bisa melampaui angka tersebut.
Paradoks Indonesia: Kaya Potensi, Miskin Eksekusi
Mari kita jujur mengakui realitas pahit ini: Indonesia adalah raksasa yang tertidur dalam pariwisata global. Dengan 17.508 pulau, 300 kelompok etnis, 742 bahasa daerah, dan keanekaragaman hayati yang tak tertandingi, kita seharusnya menjadi destinasi utama dunia. Namun faktanya? Kontribusi pariwisata terhadap PDB kita hanya berkisar 4-4,5%, jauh di bawah Thailand yang mencapai 20,6%. Sementara negara gajah putih itu meraup 40% pangsa pasar ASEAN, kita harus puas dengan 11%.
Ironisnya, Thailand hanya memiliki pantai di dua sisi, sementara kita dikelilingi lautan. Vietnam baru pulih dari perang berkepanjangan, namun pertumbuhan pariwisata mereka mencapai 83% dalam beberapa tahun terakhir. Singapura yang luasnya hanya setara dengan Jakarta, menjadi pusat transit premium Asia. Apa yang salah dengan kita?
Jawabannya sederhana namun menyakitkan: kita terlalu lama terjebak dalam pola pikir birokrasi kuno, ego sektoral yang akut, dan ketidakmampuan melihat pariwisata sebagai ekosistem terintegrasi. Kita bangga dengan slogan "Wonderful Indonesia" tanpa menyadari bahwa wisatawan modern tidak mencari destinasi yang indah saja, tetapi pengalaman yang luar biasa dari awal hingga akhir perjalanan mereka.
Pelajaran dari Negara-Negara Unggul
Thailand: Konsistensi adalah Kunci Kemenangan
Thailand membuktikan bahwa negara berkembang bisa menjadi raksasa pariwisata. Strategi "Amazing Thailand" yang konsisten selama tiga dekade, melewati berbagai pergantian pemerintahan, telah menciptakan pengenalan merek yang kuat. Mereka tidak pernah mengubah arah kebijakan pariwisata meski mengalami kudeta, demonstrasi, atau krisis politik.
Yang lebih mengesankan, Thailand menciptakan ekosistem pariwisata yang lengkap. Wisata medis mereka menghasilkan 600 juta dolar AS per tahun dengan 2,5 juta pasien internasional. Wisata tinggal-lama (long-stay visit) menarik 500.000 pensiunan asing yang menghabiskan rata-rata 30.000 dolar AS per tahun. Festival Songkran yang tadinya tradisi lokal, kini menjadi magnet wisata global yang mendatangkan 500.000 wisatawan dalam seminggu.
Singapura: Efisiensi dan Inovasi
Bandara Changi bukan sekadar bandara, tetapi destinasi wisata. Dengan Jewel Changi yang spektakuler, wisatawan rela transit lebih lama hanya untuk menikmati fasilitas bandara. Sistemnya terintegrasi sempurna: dari aplikasi Visit Singapore yang all-in-one, hingga proses imigrasi yang hanya memakan waktu 10 menit.
Badan Pariwisata Singapura (Singapore Tourism Board) tidak bekerja sendiri. Mereka berkolaborasi erat dengan Changi Airport Group, Otoritas Imigrasi, dan sektor swasta. Hasilnya? Meski pandemi menghantam, pemulihan pariwisata mereka tercepat di Asia. Pengeluaran wisatawan per kapita mereka tertinggi di dunia: 1.900 dolar AS per kunjungan.
Dubai: Dari Gurun Menjadi Oasis Global
Dubai adalah bukti bahwa keterbatasan geografis bukan halangan. Tanpa warisan budaya kuno seperti Mesir atau keindahan alam seperti Swiss, Dubai menciptakan daya tarik dari nol. Burj Khalifa, Palm Jumeirah, Dubai Mall - semua adalah kreasi modern yang menjadi magnet wisata.
Program Golden Visa mereka menarik 100.000 individu kaya-raya yang wajib menginvestasikan rata-rata 500.000 dolar AS. Bandara Internasional Dubai memproses 90 juta penumpang per tahun dengan efisiensi luar biasa. Festival belanja tahunan mereka menghasilkan 4,5 miliar dolar AS dalam satu kali festival. Semua hal yang berhubungan dengan pariwisata Dubai, terkoneksi dalam satu ekosistem digital.
Georgia: Revolusi Digital
Georgia mungkin tidak sepopuler destinasi lain, tetapi transformasi digital mereka patut menjadi pelajaran. Dari negara bekas Soviet yang terpuruk, mereka bertransformasi menjadi surga digital nomad. Visa elektronik mereka diproses hanya dalam 5 menit. Prosedur bisnis yang dulunya memakan waktu berbulan-bulan, kini selesai dalam 1 hari.
Hasilnya mencengangkan: pertumbuhan wisatawan 100% dalam 5 tahun, dari 3 juta menjadi 9 juta. Kontribusi pariwisata terhadap PDB naik dari 6% menjadi 8,5%. Yang mengagumkan, 70% wisatawan mereka adalah pengunjung berulang (revisit intention) atau datang atas rekomendasi orang lain. Ini adalah indikator kepuasan wisatawan yang sangat tinggi.
Indonesia 2030: Visi yang Bukan Mimpi
Sekarang, bayangkan Indonesia yang menggabungkan konsistensi Thailand, efisiensi Singapura, kreativitas Dubai, dan revolusi digital Georgia. Ini bukan khayalan, tetapi potensi nyata yang bisa diwujudkan melalui kolaborasi strategis antara Direktorat Jenderal Imigrasi, Kementerian Pariwisata, dan InJourney sebagai pengelola bandara.
Revolusi Visa: Membuka Pintu Selebar-lebarnya
Indonesia perlu berani mengimplementasikan lima kategori visa baru yang responsif terhadap tren global. Visa Digital Nomad untuk 6 bulan akan menarik jutaan pekerja jarak jauh yang mencari keseimbangan kerja-hidup di surga tropis seperti Indonesia. Bayangkan insinyur perangkat lunak dari Silicon Valley yang bekerja dari Bali, menghabiskan 3.000 dolar AS per bulan untuk akomodasi, makanan, dan rekreasi. Kalikan angka itu dengan 100.000 digital nomad. Tak kurang dari 3,6 miliar dolar AS per tahun akan masuk ke Indonesia.
Visa Pensiun selama 2 tahun akan menarik pensiunan Jepang, Korea, dan Eropa yang mencari tempat tinggal dengan biaya hidup terjangkau namun kualitas hidup yang tinggi. Visa Wisata Medis 90 hari akan memanfaatkan keunggulan biaya medis Indonesia yang 70% lebih murah dari Singapura dengan kualitas yang semakin kompetitif.
Yang paling revolusioner adalah Visa Transit 72-144 jam tanpa biaya. China membuktikan ini berhasil dengan 30 juta penumpang transit yang dikonversi menjadi turis jangka pendek. Untuk Indonesia yang merupakan penghubung alami antara Australia-Eropa dan Asia Timur-Timur Tengah, potensinya sangat besar. Seorang wisatawan Australia yang transit di Jakarta menuju London bisa menghabiskan 72 jam mengeksplorasi Jakarta, Bandung, atau bahkan perjalanan singkat ke Yogyakarta.
InJourney: Transformasi Bandara Menjadi Destinasi
Bandara-bandara Indonesia di bawah InJourney harus bertransformasi total. Bukan lagi sekadar terminal transit, tetapi etalase budaya dan pusat hiburan. Terminal 1 Soekarno-Hatta bisa menjadi "Jawa Experience" dengan pertunjukan gamelan setiap jam, batik workshop, dan pusat kuliner yang menyajikan masakan autentik dari Aceh hingga Papua.
Ruang tunggu bisnis diubah menjadi ruang kerja bersama yang premium untuk para digital nomad. Ruang rapat berstandar internasional memungkinkan para eksekutif melakukan pertemuan bisnis tanpa perlu ke kota. Pusat kebugaran dengan perawatan spa Indonesia, sesi yoga, dan taman meditasi membuat waiting time menjadi refreshing time.
Pengalaman berbelanja juga harus direvolusi. Bukan lagi duty-free shops yang generik, tetapi toko produk Indonesia yang dikurasi dengan cerita yang kuat. Kopi Gayo Aceh, perhiasan Celuk Bali, tenun ikat NTT, tenun songket Sumatera Barat - semua dipresentasikan dengan cara yang membuat wisatawan tidak bisa menolak untuk membeli.
Indonesia Travel Pass: Satu Aplikasi untuk Segalanya
Platform digital terintegrasi adalah game-changer absolut. Satu aplikasi yang menangani segalanya: permohonan visa dengan persetujuan instan berbasis kecerdasan buatan, pemesanan penerbangan dengan harga dinamis, reservasi hotel dengan ketersediaan waktu nyata, paket tur yang dapat disesuaikan, transportasi darat dari ojek daring hingga jet pribadi, pemesanan restoran dengan preferensi diet, tiket acara dari matahari terbit di Borobudur hingga Jakarta Jazz Festival, bahkan penukaran uang dengan nilai tukar terbaik.
Sistem belakangnya terkoneksi dengan semua pemangku kepentingan: imigrasi untuk pemrosesan visa, maskapai untuk inventori penerbangan, jaringan hotel untuk ketersediaan kamar, operator tur untuk paket wisata, bank untuk pemrosesan pembayaran. Algoritma pembelajaran mesin akan mempelajari preferensi setiap pengguna dan memberikan rekomendasi personal. Pecinta candi? Aplikasi akan menyarankan sirkuit Prambanan-Borobudur-Tanah Lot. Pecinta kuliner? Tur kuliner dari makanan jalanan Jakarta hingga santapan mewah Ubud.
Golden Visa: Menarik Para Miliarder
Program Golden Visa Indonesia harus kompetitif namun bijaksana. Dengan investasi minimum Rp 10 miliar di properti atau Rp 5 miliar di obligasi pemerintah, kita bisa menarik 10.000 individu berkekayaan tinggi per tahun. Mereka tidak hanya membawa modal, tetapi juga jejaring, keahlian, dan daya beli yang masif.
Seorang miliarder China yang membeli vila Rp 15 miliar di Bali akan menghabiskan tambahan Rp 1 miliar per tahun untuk pemeliharaan, staf, dan gaya hidup. Mereka akan membawa keluarga dan teman-teman yang juga pemboros tinggi. Mereka akan berinvestasi di bisnis lokal, menciptakan lapangan kerja dan mentransfer pengetahuan.
Dampak Ekonomi: Angka yang Berbicara
Apabila strategi yang kita bahas ini diimplementasikan secara penuh, maka proyeksi konservatif saya menunjukkan terjadinya transformasi ekonomi yang substansial:
Devisa Langsung: Dari saat ini Rp 260 triliun (2024) menjadi Rp 650 triliun (2028) dan Rp 1.000 triliun (2031). Ini adalah pertumbuhan 285% dalam 7 tahun, agresif namun dapat dicapai mengingat Vietnam mencapai 83% dalam periode yang lebih pendek.
Penciptaan Lapangan Kerja: 2 juta pekerjaan langsung di perhotelan, transportasi, dan ritel. Tambahan 3 juta pekerjaan tidak langsung di industri pendukung seperti pertanian (memasok hotel dan restoran), kerajinan tangan, konstruksi, dan jasa. Total 5 juta pekerjaan baru akan menyerap porsi signifikan dari pengangguran dan setengah pengangguran.
Ledakan UMKM: 400.000 UMKM baru akan muncul untuk melayani ekosistem pariwisata. Dari rumah singgah di Toba hingga operator selam di Wakatobi, dari bengkel batik di Solo hingga tur perkebunan kopi di Toraja. Setiap UMKM rata-rata mempekerjakan 5 orang, menciptakan pemberdayaan ekonomi akar rumput.
Pembangunan Regional: Pariwisata akan menjadi penyeimbang hebat untuk mengurangi sentralitas Jawa. Destinasi sekunder seperti Likupang, Mandalika, dan Labuan Bajo akan berkembang pesat, dan menciptakan pusat ekonomi baru di luar Jawa. Ini akan mengurangi urbanisasi ke pusat kota-kota besar, sekaligus melestarikan budaya dan lingkungan lokal.
Efek Pengganda: Tsunami Ekonomi Positif
Yang sering terlupakan adalah efek pengganda masif (multiplier effect) dari pariwisata. Setiap rupiah yang dihabiskan wisatawan akan bergulir 3-4 kali dalam ekonomi. Hotel membeli pasokan dari petani lokal, petani membeli pupuk dari toko pertanian, toko pertanian membayar karyawan, karyawan berbelanja kebutuhan sehari-hari, dan seterusnya.
Peningkatan lalu lintas wisatawan akan memaksa peningkatan infrastruktur: jalan yang lebih baik (menguntungkan penduduk lokal), internet yang lebih cepat (memungkinkan ekonomi digital), utilitas yang lebih andal (meningkatkan kualitas hidup). Bandara yang ditingkatkan untuk wisatawan juga melayani kargo, sehingga mendorong ekspor-impor. Hotel yang dibangun untuk turis juga menjadi tempat untuk acara dan konferensi lokal.
Pelestarian budaya mendapat insentif ekonomi. Tiba-tiba, tarian tradisional yang hampir punah menjadi berharga karena permintaan wisatawan. Kerajinan kuno yang tergantikan oleh produk China mendapat kehidupan baru karena keasliannya yang luar biasa. Bahasa daerah yang terancam punah menjadi aset untuk wisata budaya.
Dari 5% ke 8%: Peta Jalan Realistis
Jadi, bisakah pariwisata mendorong pertumbuhan ekonomi dari saat ini 5% ke target Menkeu 6,7% dan bahkan melampaui? Tentu saja bisa, dengan catatan implementasi yang terstruktur:
2025-2026 (Fase Fondasi): Kontribusi PDB dari pariwisata naik dari 4,5% ke 5,5%. Kontribusi pertumbuhan 1% melalui quick wins seperti visa transit dan peluncuran platform digital. Total ekonomi tumbuh 5,5-6%.
2027-2028 (Fase Akselerasi): Kontribusi PDB pariwisata mencapai 6,5%. Kontribusi pertumbuhan 2% dari implementasi penuh reformasi visa dan transformasi bandara. Total ekonomi tumbuh 6,5-7%.
2029-2030 (Fase Optimalisasi): Kontribusi PDB pariwisata mencapai 7,5-8%. Kontribusi pertumbuhan 3% dari integrasi ekosistem dan dampak Golden Visa. Total ekonomi tumbuh 7,5-8%.
Ini bukan angka yang ditarik dari langit. Thailand mencapai pertumbuhan 6-7% secara konsisten ketika pariwisata mereka lepas landas. Dubai mencatat pertumbuhan 8-9% ketika ekosistem pariwisata mereka matang. Wilayah China dengan fokus pariwisata seperti Hainan tumbuh 10-12% per tahun.
Faktor Sukses Kritis: Yang Tidak Bisa Ditawar
Namun hal yang telah kita bahas diatas hanya akan menjadi wacana apabila tidak dibarengi dengan keseriusan. Ada lima faktor kritis sebagai penentu yang perlu kita perhatikan:
Pertama, Kemauan Politik yang Mutlak. Presiden harus secara pribadi memimpin ini. Bukan lewat Menteri, bukan lewat Wamenkeu, tetapi kepemimpinan langsung. Rapat evaluasi bulanan, dasbor publik, dan akuntabilitas personal. Lee Kuan Yew tidak mendelegasikan pembangunan Bandara Changi. Sheikh Mohammed tidak mendelegasikan transformasi Dubai. Prabowo tidak boleh mendelegasikan revolusi pariwisata Indonesia.
Kedua, Pangkas Regulasi. Semua regulasi yang menghambat harus dieliminasi tanpa kompromi. Proses visa yang 20 langkah dipotong jadi 3 langkah. Perizinan hotel yang 6 bulan dipercepat jadi 1 minggu. Sertifikasi yang berbelit disederhanakan drastis.
Ketiga, Kemitraan Sektor Swasta dari Hari Pertama. Pemerintah menyediakan lingkungan yang memungkinkan, sektor swasta menyediakan modal dan eksekusi. InJourney, Garuda, bank-bank BUMN, jaringan hotel, perusahaan teknologi - semua harus di meja yang sama dari awal. Pembagian keuntungan yang adil, pembagian risiko yang jelas, dan pengambilan keputusan yang inklusif.
Keempat, Pendekatan Teknologi Utama. Tidak ada lagi proses manual. Semuanya digital, semuanya otomatis, semuanya berbasis data. Kecerdasan buatan untuk persetujuan visa, blockchain untuk transaksi aman, data besar untuk perkiraan permintaan, Internet of Things untuk manajemen kerumunan. Lompat langsung ke ujung tombak, tidak perlu melalui langkah perantara.
Kelima, Revolusi Talenta. Program peningkatan keterampilan masif untuk 2 juta pekerja pariwisata. Pelatihan bahasa Inggris yang intensif, literasi digital yang komprehensif, keunggulan layanan yang terinternalisasi. Impor talenta kalau perlu untuk transfer pengetahuan. Beasiswa untuk pendidikan perhotelan. Jadikan karier pariwisata sebagai aspirasi, bukan pilihan sisa.
Momentum yang Tak Boleh Hilang
Indonesia berdiri di persimpangan yang menentukan. Kita bisa memilih status quo dan tetap menjadi pemain medioker dengan pertumbuhan 5% selamanya. Atau kita bisa berani untuk bertransformasi dan mencapai 6,7% bahkan 8% yang akan mengubah trajectory (lintasan) bangsa ini.
Pariwisata bukan peluru ajaib yang menyelesaikan semua masalah. Pariwisata adalah katalis yang bisa memicu transformasi lebih luas. Ketika pola pikir pariwisata - fokus pelanggan, keunggulan layanan, daya saing global - meresap ke sektor lain, seluruh ekonomi akan meningkat.
Ketika Menkeu Purbaya mengatakan kita perlu 6,7% untuk menyerap tenaga kerja formal, beliau tidak sedang mengutarakan target yang mustahil. Beliau sedang menantang kita untuk berpikir lebih besar, bertindak lebih berani, dan mengeksekusi lebih baik. Dengan karunia alam yang luar biasa, lokasi strategis yang tak terkalahkan, dan dividen demografi yang masif, Indonesia tidak punya alasan untuk tidak menjadi negara adidaya pariwisata.
Thailand melakukannya. Vietnam sedang melakukannya. Dubai membuktikan itu mungkin. Singapura menunjukkan jalannya. Sekarang giliran Indonesia. Pertanyaannya bukan "bisa atau tidak", tetapi "berani atau tidak". Dan sebagai seseorang yang telah menyaksikan transformasi ekonomi pariwisata di berbagai belahan dunia, saya yakin dengan keyakinan penuh: Indonesia tidak hanya bisa mencapai 6,7%, tetapi bahkan melampaui itu.
Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk mulai, ketekunan untuk melanjutkan, dan kebijaksanaan untuk beradaptasi. Waktunya adalah sekarang. Momentum ini tidak akan datang dua kali. Mari buktikan bahwa Indonesia bukan hanya indah untuk dikunjungi, tetapi juga luar biasa dalam mengeksekusi visi besarnya.
Pada akhirnya, 6,7% bukan sekadar angka pertumbuhan. Ini tentang 2 juta keluarga yang mendapat pekerjaan layak. Ini tentang 400.000 UMKM yang tumbuh dan berkembang. Ini tentang jutaan anak muda yang melihat masa depan yang cerah. Ini tentang satu bangsa yang akhirnya menyadari potensi sejatinya.
Inilah saatnya Indonesia menulis sejarah baru. Dari 17.508 pulau yang terpisah, menjadi satu destinasi global yang tersatukan. Dari potensi yang tertidur, menjadi kekuatan yang terbangun. Dari pertumbuhan 5%, menuju 6,7% dan seterusnya.
Masa depan adalah pariwisata. Masa depan adalah sekarang. Masa depan adalah milik kita untuk diciptakan.
*) Penulisan adalah Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia / Dosen Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti
