UMKM dan Pariwisata: Sinergi Strategis untuk Indonesia Emas
Indonesia tengah berada di persimpangan jalan emas. Kunjungan wisatawan mancanegara Januari-Agustus 2025 mencatat rekor 10,04 juta—tertinggi sejak pandemi dengan pertumbuhan 10,38 persen.
Muhammad Rahmad
10/20/20253 min read


Indonesia tengah berada di persimpangan jalan emas. Kunjungan wisatawan mancanegara Januari-Agustus 2025 mencatat rekor 10,04 juta—tertinggi sejak pandemi dengan pertumbuhan 10,38 persen. Di sisi lain, 57 juta pengusaha UMKM menyumbang 61,2 persen PDB nasional dan menyerap 97 persen tenaga kerja. Ketika dua kekuatan ekonomi ini bersinergi dalam ekosistem gastronomi pariwisata, tercipta potensi transformatif yang tidak boleh disia-siakan


Transformasi Paradigma Wisatawan
Pariwisata global mengalami pergeseran fundamental. Data United Nations Tourism (UN Tourism) mengungkap bahwa lebih dari 35 persen wisatawan dunia memilih destinasi berdasarkan daya tarik kulinernya. Ini menandai evolusi dari sightseeing tourism menuju experiential tourism, di mana gastronomi menjadi gerbang memahami budaya lokal.


Pola pengeluaran wisatawan mancanegara kuartal I 2025 membuktikan hal ini: setelah akomodasi (38,07%), makanan-minuman menjadi pos terbesar kedua (19,40%), diikuti cinderamata (11,90%). Lebih dari 31 persen pengeluaran langsung mengalir ke sektor yang didominasi UMKM. Dengan rata-rata lama tinggal 10,94 malam dan target 14,6-16 juta kunjungan wisman 2025, potensi ekonomi untuk UMKM mencapai triliunan rupiah.
Keunggulan Kompetitif Indonesia
UMKM adalah penjaga autentisitas yang dicari wisatawan kontemporer. Warung makan keluarga, homestay desa wisata, atau workshop pengrajin lokal menawarkan sesuatu yang tidak dapat dibeli: sense of place dan storytelling. Hotel berbintang lima tidak dapat mereplikasi pengalaman makan rendang resep turun-temurun di rumah makan Padang atau belajar membatik dari pengrajin lokal.
Indonesia memiliki modal kultural luar biasa: 30.000 spesies rempah (peringkat kelima dunia), ratusan tradisi kuliner unik, dan 6.156 desa wisata. Sektor kuliner yang digerakkan UMKM menyumbang 41 persen dari PDB ekonomi kreatif nasional. Ini adalah competitive advantage yang tidak dapat ditiru destinasi lain.
Program Strategis Kementerian UMKM
Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengajukan gagasan visioner melalui dua program unggulan. Pertama, Gastronomy Tourism Hub sebagai ekosistem terpadu: etalase kuliner daerah, tempat pelatihan, pusat inovasi, dan wadah kurasi produk unggulan. Hub ini menjembatani kearifan lokal dengan standar pasar global.
Kedua, Program Holding UMKM yang mengatasi masalah struktural. Data menunjukkan 99,63 persen dari 65 juta UMKM adalah usaha mikro dengan keterbatasan ekonomi skala. Model agregator seperti Mitratani Dua Tujuh di Jember membuktikan bahwa holding dapat mengubah dinamika—memberikan kepastian pasar, standarisasi kualitas, akses pembiayaan, dan koneksi global tanpa menghilangkan kemandirian pelaku usaha.
Komitmen pemerintah terukur jelas: plafon KUR 2025 sebesar Rp300 triliun dengan realisasi Rp206,2 triliun (hingga 6 Oktober) kepada 3,5 juta debitur. Alokasi sektor produksi mencapai Rp124,7 triliun—melampaui target 60 persen. Program SAPA UMKM mengintegrasikan data dari 48 kementerian/lembaga, menjadi fondasi kebijakan berbasis bukti.


Urgensi Dukungan Penuh
Ada empat alasan strategis mengapa gagasan ini wajib didukung. Pertama, momentum pemulihan pariwisata harus dimaksimalkan—setiap UMKM berpotensi menjadi brand ambassador Indonesia melalui pengalaman autentik yang dishare secara organik. Kedua, ini strategi substitusi impor yang efektif untuk mengurangi defisit perdagangan yang mencapai puluhan triliun rupiah.
Ketiga, UMKM berbasis pariwisata adalah mekanisme distribusi kesejahteraan paling inklusif—tidak butuh modal besar, dapat dilakukan di mana saja, menyerap tenaga kerja lokal, dan memberdayakan perempuan. Keempat, model gastronomi berbasis UMKM dengan pendekatan farm-to-table mendukung keberlanjutan lingkungan dan menjadikan pelestarian budaya kuliner economically viable.
Kesimpulan
Integrasi UMKM dalam ekosistem pariwisata gastronomi bukan pilihan kebijakan di antara banyak pilihan—ia adalah keharusan strategis. Dengan data kunjungan wisman yang terus meningkat, kontribusi kuliner 41 persen terhadap PDB ekonomi kreatif, dan dukungan pembiayaan masif, semua elemen kesuksesan tersedia. Yang dibutuhkan adalah dukungan konsisten dari pemerintah daerah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat sipil. Gastronomi adalah jantung pariwisata Indonesia, dan UMKM adalah detaknya—57 juta pengusaha yang membuktikan bahwa kemandirian ekonomi adalah kerja nyata, bukan mimpi.
*) Penulisan adalah Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia / Dosen Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti
